Konten dari Pengguna

Harga Pangan Global Naik, RI Jangan Terlena Inflasi Jinak

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Roger Alexsander sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
sumber: unsplash

Harga pangan bukan sekadar angka di tabel ekonomi. Harga beras, telur, cabai, bawang, minyak goreng, dan daging selalu berakhir di tempat paling nyata: meja makan masyarakat. Ketika harga pangan global naik, dampaknya tidak selalu datang sebagai ledakan besar. Dampaknya sering hadir pelan melalui ongkos logistik, harga pupuk, biaya energi, ongkos kirim, dan ekspektasi pasar.

Banyak orang masih menganggap harga pangan hanya urusan panen lokal atau permainan pedagang. Pandangan itu terlalu sempit. Sistem pangan hari ini tersambung dengan cuaca di Amerika Serikat, curah hujan di Australia, harga minyak dunia, kebijakan ekspor negara produsen, nilai tukar, konflik kawasan, serta kapasitas negara dalam mengelola cadangan.

Data terbaru FAO menunjukkan sinyal yang tidak boleh diremehkan. Food and Agriculture Organization mencatat Food Price Index pada April 2026 berada di level 130,7 poin. Angka ini naik 2,1 poin atau 1,6 persen dari Maret 2026. Kenaikan tersebut menjadi kenaikan bulanan ketiga secara berturut-turut. FAO juga mencatat indeks April 2026 berada 2 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih 18,4 persen di bawah puncak Maret 2022.

Kenaikan indeks pangan dunia tidak terjadi pada satu komoditas saja. FAO mencatat harga minyak nabati, daging, dan serealia bergerak naik pada April 2026. Harga gula dan produk susu memang turun, tetapi tekanan pada komoditas utama tetap cukup kuat. Indeks serealia naik 0,8 persen dari Maret. Harga beras dunia ikut naik 1,9 persen, terutama pada beras Indica dan aromatik. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya biaya produksi dan pemasaran di negara eksportir.

Keterkaitan pangan dan energi menjadi bagian paling penting dalam membaca situasi ini. Harga minyak tidak berhenti di SPBU. Harga minyak memengaruhi biaya traktor, pompa air, distribusi antarpulau, pelayaran, truk logistik, pupuk, kemasan, sampai pendingin penyimpanan pangan. Biaya energi yang naik dapat membuat harga pangan ikut terdorong meskipun stok bahan makanan tidak sedang benar-benar langka.

Indonesia pada saat yang sama memperlihatkan wajah inflasi yang tampak tenang. Bank Indonesia mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen pada April 2026 sebesar 0,13 persen secara bulanan dan 2,42 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi tahunan juga turun dari 3,48 persen pada bulan sebelumnya. Sekilas, data ini memberi rasa aman.

Rasa aman itu justru perlu diuji. Bank Indonesia mencatat kelompok volatile food pada April 2026 mengalami deflasi 0,88 persen secara bulanan setelah bulan sebelumnya inflasi 1,58 persen. Penurunan terutama berasal dari daging ayam ras, telur ayam ras, dan beberapa jenis cabai. Faktor normalisasi permintaan setelah Idulfitri serta panen di sejumlah sentra produksi membantu meredam harga.

Pembacaan yang terlalu menyakini bisa menyesatkan. Deflasi pangan satu bulan bukan bukti bahwa risiko pangan telah hilang. Harga pangan Indonesia sering bergerak mengikuti musim, panen, distribusi, hari besar keagamaan, dan kualitas tata kelola stok. Situasi dapat terlihat jinak pada April, lalu berubah tajam ketika cuaca buruk, distribusi terhambat, atau harga energi kembali menekan biaya produksi.

Kelompok harga yang diatur pemerintah memberi tanda bahaya lain. Bank Indonesia mencatat administered prices pada April 2026 mengalami inflasi 0,69 persen secara bulanan, lebih tinggi dibanding 0,31 persen pada periode sebelumnya. Pendorong utamanya adalah tarif angkutan udara, harga bensin, dan bahan bakar rumah tangga. Kenaikan ini sejalan dengan harga avtur serta penyesuaian BBM dan LPG nonsubsidi.

Data tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara energi, transportasi, dan pangan. Ongkos angkut yang naik dapat mendorong harga barang di pasar. BBM yang lebih mahal membuat distribusi pangan dari sentra produksi ke kota konsumsi ikut tertekan. LPG dan energi rumah tangga yang naik menambah beban pelaku usaha kecil makanan. Rantai ini memperlihatkan bahwa pangan domestik tidak pernah berdiri sendiri.

Persoalan pangan juga memiliki dimensi politik. Negara yang gagal menjaga harga pangan akan menghadapi krisis kepercayaan. Rakyat mungkin tidak membaca indeks FAO setiap bulan. Rakyat membaca keadaan melalui harga beras lima kilogram, telur satu kilogram, minyak goreng satu liter, dan cabai di pasar. Stabilitas ekonomi tidak hanya hidup dalam grafik makro. Stabilitas ekonomi diuji di dapur masyarakat.

Kajian Hubungan Internasional, pangan adalah bagian dari keamanan manusia. Keamanan tidak hanya berarti negara bebas dari serangan militer. Keamanan juga berarti warga dapat makan layak, hidup sehat, dan tidak dihantui ketakutan atas kebutuhan dasar. Negara yang memiliki cadangan pangan lemah, logistik mahal, dan ketergantungan input impor tinggi akan lebih mudah terguncang oleh krisis global.

Krisis pangan modern sering lahir dari gabungan banyak faktor. Cuaca ekstrem dapat merusak panen. Konflik dapat mengganggu jalur laut. Sanksi ekonomi dapat mengubah arus perdagangan. Negara produsen dapat menahan ekspor demi melindungi pasar domestik. Kurs dapat membuat impor semakin mahal. Spekulasi pasar dapat memperbesar kepanikan. Seluruh faktor itu membuat harga pangan menjadi isu lintas batas.

Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan operasi pasar ketika harga sudah naik. Operasi pasar penting, tetapi sifatnya sering reaktif. Kebijakan pangan yang kuat harus dimulai sebelum krisis terasa. Pemerintah perlu membaca indeks global, cuaca dunia, harga energi, stok regional, kapasitas gudang, dan pola distribusi dengan cara yang lebih terpadu.

Solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah pertama adalah diplomasi pangan jangka panjang. Indonesia perlu membangun kerja sama pasokan dengan negara produsen beras, gandum, kedelai, gula, daging, dan pupuk secara lebih strategis. Kerja sama tidak cukup berbentuk kontrak beli tahunan. Kerja sama perlu mencakup investasi bersama, akses cadangan darurat, transfer teknologi pertanian, dan perjanjian logistik saat krisis. Diplomasi luar negeri harus ikut menjaga isi piring rakyat.

Solusi kedua adalah cadangan pangan berbasis data terbuka. Pemerintah perlu memiliki dashboard stok nasional yang lebih akurat, terintegrasi, dan bisa dipertanggungjawabkan. Data produksi, stok Bulog, stok swasta, distribusi daerah, dan kebutuhan konsumsi harus dibaca dalam satu sistem. Kebijakan impor, operasi pasar, dan bantuan pangan akan lebih dipercaya jika publik melihat dasar datanya. Transparansi dapat mengurangi spekulasi dan kepanikan pasar.

Solusi ketiga adalah logistik pangan yang lebih tangguh. Harga pangan sering mahal bukan karena barang tidak ada, melainkan karena barang sulit bergerak dengan biaya efisien. Infrastruktur jalan produksi, pelabuhan kecil, cold storage, gudang daerah, dan distribusi antarpulau harus menjadi prioritas ketahanan pangan. Pemerintah juga perlu memperkuat transportasi pangan dari sentra produksi ke daerah konsumsi melalui skema biaya logistik yang lebih stabil.

Tiga solusi ini menyentuh akar masalah. Diplomasi pangan mengurangi risiko eksternal. Cadangan berbasis data memperkuat keputusan domestik. Logistik yang tangguh membuat harga lebih tahan terhadap guncangan. Kebijakan pangan tidak boleh hanya berbicara tentang produksi. Kebijakan pangan harus membaca seluruh rantai dari ladang, pelabuhan, gudang, jalan, pasar, sampai dapur masyarakat.

Harga pangan global yang naik lagi adalah peringatan. Inflasi Indonesia memang terlihat jinak pada April 2026, tetapi ketenangan satu bulan tidak boleh membuat negara kehilangan kewaspadaan. Dapur rakyat terlalu penting untuk diserahkan pada keberuntungan pasar. Negara yang serius menjaga pangan harus mampu membaca gejolak dunia sebelum gejolak itu berubah menjadi antrean, keluhan, dan daya beli yang runtuh.