Konten dari Pengguna

Nilai-Nilai Pancasila di Tengah Krisis Etika Digital Generasi Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rosyadah Ishmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

• Ilustrasi mahasiswa mengkaji implementasi nilai-nilai Pancasila di ruang digital media sosial. Sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
• Ilustrasi mahasiswa mengkaji implementasi nilai-nilai Pancasila di ruang digital media sosial. Sumber: Dok. Pribadi/AI

Nilai-Nilai Pancasila yang Tergerus di Kolom Komentar

Nilai-nilai Pancasila kini sedang dihadapkan pada ujian terberatnya di tengah pusaran arus digitalisasi yang mengaburkan batas moral bersosial media bagi generasi muda. Sebagai mahasiswa, saya sering mengelus dada setiap kali mengamati dinamika interaksi yang terjadi di kolom komentar berbagai platform media sosial kita. Ruang digital yang semestinya menjadi wadah diskusi inklusif, bertukar ide, dan mencerahkan, justru lebih sering bertransformasi menjadi panggung penghujatan, penyebaran hoaks, hingga pembunuhan karakter. Fenomena degradasi moralitas ini menjadi alarm keras bahwa pemahaman dasar kewarganegaraan kita sedang mengalami keretakan yang cukup serius di akar rumput.

Gagap Membedakan Kritik dan Rundung Siber

Riset digital global beberapa waktu lalu sempat menobatkan netizen negara kita sebagai salah satu kelompok yang paling tidak sopan di jagat maya. Awalnya, ego muda saya sempat menolak predikat buruk itu. Namun, jika kita mau jujur menatap layar gawai masing-masing, kita memang sering kali gagap membedakan mana yang merupakan kebebasan berpendapat dan mana yang sudah masuk ranah perundungan siber (cyberbullying).

Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang menciptakan echo chamber atau ruang gema. Kita digiring untuk hanya mendengar opini yang sejalan dan secara agresif langsung menyerang siapa saja yang berbeda pandangan dengan narasi penuh racun. Akibatnya, nilai-nilai Pancasila yang mengutamakan musyawarah dan persatuan seolah lenyap dari etika komunikasi kita di ruang siber.

Saat Kemanusiaan Tumbang di Balik Akun Anonim

Tantangan ini kian mengerikan ketika teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti deepfake kian masif digunakan untuk memproduksi disinformasi secara massal demi meraup klik atau menggiring opini politik. Fondasi persatuan kita sedang diuji oleh jempol kita sendiri yang terlalu cepat membagikan informasi provokatif tanpa melalui proses penyaringan yang kritis.

Di tengah riuhnya jagat maya, saya melihat sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, seolah-olah mendadak lumpuh saat seseorang berlindung di balik akun anonim. Hilangnya empati membuat netizen merasa sah-sah saja melontarkan makian tanpa memikirkan dampak psikologis bagi korban di dunia nyata. Degradasi moral ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya terinternalisasi dengan kuat di dalam ekosistem kehidupan digital kita sehari-hari.

Membumikan Pancasila Lewat Ujung Jari

Menghadapi situasi pelik ini, kita harus sadar bahwa pendekatan normatif yang kaku di dalam ruang kelas tidak akan lagi mempan untuk mengubah perilaku generasi masa depan. Pembelajaran moral kebangsaan harus bertransformasi menjadi panduan praktis etika digital (digital citizenship). Sekolah dan kampus perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) agar mampu mendeteksi disinformasi serta berani menolak ikut serta dalam lingkaran kebencian.

Aturan hukum yang tegas dari negara memang diperlukan melalui regulasi informasi, namun kesadaran individu tetaplah menjadi benteng pertahanan yang paling utama. Menahan jempol untuk tidak ikut menghujat, memvalidasi kebenaran berita sebelum membagikannya, dan tetap menghormati martabat orang lain di kolom komentar adalah wujud nyata bela negara modern bagi pemuda.

Sudah saatnya kita membumikan kembali nilai-nilai Pancasila di ujung jari. Kita harus membuktikan bahwa dasar negara kita benar-benar hidup dalam tindakan nyata di balik layar gawai, bukan sekadar menjadi hafalan usang untuk formalitas kelulusan ujian belaka.