Asal Usul Mimbar Masjid: Sejarah dan Perkembangan dari Masa ke Masa
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mimbar menjadi bagian penting dalam setiap masjid yang digunakan untuk menyampaikan khutbah Jumat dan ceramah keagamaan. Keberadaannya tidak hanya sekadar tempat berdiri, melainkan memiliki makna simbolis yang mendalam dalam tradisi Islam. Sejarah mimbar dimulai sejak zaman Rasulullah SAW di Madinah dengan bentuk yang sangat sederhana.
Memahami asal usul mimbar masjid dapat memberikan perspektif tentang bagaimana umat Islam mengembangkan tradisi dakwah dari masa ke masa. Perkembangannya juga menunjukkan bagaimana budaya lokal turut memperkaya khazanah arsitektur Islam, termasuk di Nusantara.
Sejarah Kemunculan Mimbar Pertama dalam Islam
Mimbar pertama kali muncul pada masa Rasulullah SAW di Madinah. Sebelum mimbar ada, Rasulullah berkhutbah dengan cara bersandar pada batang pohon kurma yang dikenal dengan sebutan jidzul masajid. Batang kurma tersebut menjadi penopang beliau saat menyampaikan dakwah kepada para sahabat.
Pembuatan mimbar berawal dari inisiatif seorang wanita Anshar yang menawarkan jasa tukang kayunya untuk memudahkan Rasulullah dalam berkhutbah. Mimbar pertama terbuat dari kayu pohon tamariska yang disebut atsl, dengan bentuk tiga anak tangga. Desain sederhana ini menjadi cikal bakal mimbar yang digunakan hingga kini.
Perpindahan dari jidzul masajid ke mimbar memiliki makna simbolis yang dalam. Sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Bukhari menceritakan momen bersejarah tersebut.
Khotbah Nabi SAW dilakukan dengan bersandar pada sebatang kayu kurma. Ketika mimbar dibuat untuknya, beliau menggunakan mimbar tersebut. Batang kurma itu pun meratap atau mengeluarkan suara, sehingga Nabi SAW mendatanginya dan mengusap batang itu hingga tenang.
Kisah batang kurma yang meratap menunjukkan kedekatan spiritual antara makhluk dengan Rasulullah SAW. Selain itu, perpindahan ini juga mencerminkan peningkatan martabat dan kemudahan dalam penyampaian dakwah. Fungsi utama mimbar pada masa awal adalah sebagai tempat berdiri untuk menyampaikan khutbah Jumat dan ceramah keagamaan dengan lebih jelas terlihat oleh jamaah.
Perkembangan Desain dan Fungsi Mimbar di Nusantara
Seiring perkembangan Islam di berbagai wilayah, desain mimbar mengalami transformasi dari bentuk sederhana menjadi arsitektur yang lebih kompleks. Di Nusantara, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam, mimbar memiliki keunikan tersendiri yang mencerminkan perpaduan tradisi Islam dengan budaya lokal.
Penelitian yang dilakukan oleh Nurman Kholis Mimbar dan Podium: Kajian atas Masjid Kuno di Nanggroe Aceh Darussalam (Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 10, No. 2, 2012) tentang mimbar dan podium masjid kuno di Nanggroe Aceh Darussalam menunjukkan bahwa mimbar di wilayah tersebut memiliki ciri khas yang membedakannya dari wilayah lain. Mimbar di masjid-masjid kuno Aceh tetap mengadopsi bentuk dasar tiga tangga seperti mimbar Rasulullah, namun dilengkapi dengan ornamen lokal yang kaya akan nilai estetika.
Pengaruh budaya lokal sangat terlihat pada desain mimbar Aceh. Ukiran kaligrafi Arab, motif flora khas Melayu, dan filosofi arsitektur Melayu-Islam menyatu dalam setiap detail mimbar. Material yang digunakan juga berkembang dari kayu sederhana menjadi kayu jati atau mahoni berkualitas tinggi yang tahan lama.
Posisi mimbar dalam tata ruang masjid selalu mengikuti kaidah yang sama, yakni berada di sebelah kanan mihrab menghadap kiblat. Penempatan ini bukan tanpa alasan, melainkan mengikuti tradisi yang telah ditetapkan sejak masa Rasulullah SAW.
Menariknya, mimbar di Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai tempat khutbah. Dalam konteks sosial-keagamaan, mimbar juga menjadi simbol kepemimpinan spiritual seorang khatib atau ulama di tengah masyarakat. Keberadaannya menandakan otoritas keagamaan yang dihormati oleh jamaah.
Di tengah modernisasi arsitektur masjid kontemporer, pelestarian tradisi mimbar klasik tetap dipertahankan. Banyak masjid di Aceh dan wilayah lain di Indonesia yang masih mempertahankan desain mimbar klasik sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Islam. Perbedaan antara mimbar tradisional dengan podium modern juga menjadi perhatian dalam kajian arsitektur masjid, di mana mimbar lebih mengedepankan nilai spiritual dibandingkan sekadar fungsi praktis.
Revewed by Doel Rohim S.Hum.