Makna Syukur dalam Al-Qur'an dan Kehidupan Modern
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Syukur menjadi salah satu konsep penting dalam ajaran Islam yang sering disebut dalam Al-Qur'an. Memahami makna syukur secara mendalam dapat membantu setiap Muslim menjalani kehidupan dengan lebih bermakna dan penuh kesadaran.
Di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan, pemahaman tentang syukur menjadi semakin relevan. Pasalnya, sikap bersyukur dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan seperti kecemasan, ketidakpuasan, dan rasa kurang yang sering menghantui manusia masa kini.
Pengertian dan Hakikat Syukur dalam Perspektif Al-Qur'an
Secara bahasa, syukur berarti pengakuan atas kebaikan yang diterima dan membalasnya dengan perbuatan baik. Dalam terminologi Islam, syukur adalah sikap mengakui nikmat dari Allah SWT dan menggunakannya sesuai dengan tuntunan-Nya.
Al-Qur'an menyebutkan syukur dalam berbagai ayat dengan penjelasan yang mendalam. Salah satu ayat yang paling terkenal adalah QS. Ibrahim ayat 7 yang berbunyi:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih.
Ayat ini menegaskan bahwa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat dari Allah. Sebaliknya, kufur nikmat atau mengingkari nikmat akan membawa akibat buruk bagi kehidupan manusia.
Dalam QS. Luqman ayat 12, Allah juga berfirman bahwa syukur sejatinya adalah untuk kepentingan diri sendiri. Orang yang bersyukur akan merasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Ziyadaturrohmah dalam artikel “Makna Syukur dalam Al-Qur’an dan Relevansinya bagi Kehidupan Modern”(Jurnal Studi Islam, Th. 2020), syukur memiliki tiga dimensi utama. Pertama, syukur hati yaitu mengakui dalam hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Kedua, syukur lisan dengan mengucapkan hamdalah atau pujian kepada Allah. Ketiga, syukur perbuatan dengan menggunakan nikmat sesuai tuntunan Allah.
Perbedaan mendasar antara orang yang bersyukur dengan yang kufur nikmat terletak pada kesadaran dan sikap. Orang yang syaakir atau bersyukur selalu mengingat Allah dalam setiap nikmat yang diterima. Sementara orang yang kufur nikmat cenderung lupa atau bahkan menganggap semua pencapaian berasal dari usahanya sendiri.
Syukur juga memiliki hubungan erat dengan keimanan dan ketakwaan. Semakin tinggi tingkat syukur seseorang, maka semakin kokoh pula keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Relevansi dan Implementasi Syukur dalam Kehidupan Modern
Kehidupan modern membawa tantangan tersendiri dalam menerapkan sikap syukur. Era materialisme dan konsumerisme membuat manusia terjebak dalam pola pikir tidak pernah merasa cukup. Padahal, syukur justru mengajarkan untuk menghargai apa yang sudah dimiliki.
Aplikasi syukur dalam kehidupan kontemporer dapat diterapkan dalam berbagai aspek. Dalam hal kesehatan, syukur diwujudkan dengan menjaga tubuh melalui pola hidup sehat dan tidak menyalahgunakan nikmat kesehatan yang diberikan Allah.
Dalam aspek harta, syukur berarti mengelola rezeki dengan bijak melalui sedekah, zakat, dan berbagi kepada yang membutuhkan. Hal ini menjadi bukti bahwa nikmat harta tidak hanya untuk dinikmati sendiri.
Syukur dalam ilmu pengetahuan dan teknologi diwujudkan dengan memanfaatkan kemajuan tersebut untuk kebaikan umat. Bukan justru digunakan untuk hal-hal yang merusak atau menyimpang dari ajaran Islam.
Dalam hubungan sosial, syukur mendorong manusia untuk berbagi dan memiliki empati kepada sesama. Kesadaran bahwa semua nikmat datang dari Allah membuat seseorang lebih peka terhadap kondisi orang lain.
Dari sisi psikologis, syukur terbukti memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan mental dan spiritual. Sikap bersyukur dapat mengurangi stres, kecemasan, dan perasaan tidak puas yang sering dialami masyarakat modern.
Ziyadaturrohmah menegaskan bahwa ajaran syukur sangat relevan dalam menghadapi problematika kehidupan modern yang kompleks. Syukur menjadi solusi efektif untuk mengatasi berbagai tekanan hidup yang muncul akibat tuntutan zaman.
Praktik sederhana bersyukur dapat dilakukan melalui berbagai cara. Membuat jurnal syukur dengan mencatat hal-hal baik yang terjadi setiap hari dapat melatih kesadaran akan nikmat Allah. Berdzikir secara rutin juga menjadi bentuk syukur lisan yang dapat menenangkan hati.
Refleksi harian dengan merenungkan berbagai nikmat yang diterima sepanjang hari dapat memperkuat dimensi syukur dalam hati. Kebiasaan sederhana ini dapat membentuk pola pikir positif dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Revewed: Doel Rohim, S.Hum.