Konten dari Pengguna

Mengapa Pendidikan Tahfidz Al-Qur'an Harus Berani Tampil di Panggung Nasional?

Rudi Candra

Rudi Candra

Pengasuh Pondok Tahfidz SyauQie dan Dosen Unida Gontor

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rudi Candra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pondok Tahfidz SyauQie dalam kegiatan IIEF 2026 di Edutorium UMS (Sumber foto dokumentasi pribadi Rudi Candra)
zoom-in-whitePerbesar
Pondok Tahfidz SyauQie dalam kegiatan IIEF 2026 di Edutorium UMS (Sumber foto dokumentasi pribadi Rudi Candra)

​Perkembangan zaman yang begitu pesat menuntut dunia pesantren untuk melakukan reorientasi gerakan. Hari ini, fungsi pesantren tidak lagi sebatas mendidik dan mengajar santri di balik dinding pondok. Lebih dari itu, sudah saatnya pesantren tampil secara terbuka mempublikasikan kerja-kerja peradaban dan nilai-nilai positifnya kepada khalayak luas.

​Langkah ini dapat ditempuh melalui optimalisasi media sosial, situs web resmi, hingga partisipasi aktif dalam ajang pameran berskala nasional. Tanpa keterbukaan informasi—baik terkait kurikulum, sistem pendaftaran, maupun metode pengajaran—syiar pendidikan Islam akan sulit menjangkau generasi masyarakat modern.

​Pandangan ini menguat saat kami, Pondok Tahfidz Syafaatul Qur’an (SyauQie), berpartisipasi dalam ajang International Islamic Education Fair (IIEF) 2026 yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, pada 3 hingga 5 Oktober 2026. Ajang pameran pendidikan Islam ini berhasil menyedot lebih dari 70.000 pengunjung selama tiga hari penyelenggaraannya.

​Meskipun Pondok Tahfidz SyauQie berlokasi di Jember, Jawa Timur—jarak yang relatif jauh dari Solo—jarak geografis tersebut bukanlah penghalang. Meski baru berusia 3 tahun, keberanian SyauQie untuk hadir di panggung nasional adalah bentuk tanggung jawab moral dalam mengenalkan lembaga pendidikan Al-Qur’an secara inklusif dan profesional.

​Membangun Kolaborasi dan Masa Depan Pendidikan Antarpesantren

​Ada tiga refleksi mendasar dari keikutsertaan SyauQie di ajang IIEF 2026 Solo yang patut dijadikan momentum bersama bagi seluruh pengelola pesantren di Indonesia:

  1. Pentingnya Keterbukaan dan Publikasi Syiar

Masyarakat membutuhkan akses informasi yang transparan mengenai kualitas pendidikan pesantren. Melalui ajang pameran dan saluran digital, calon wali santri dapat mengenal lebih dekat bagaimana kurikulum dan pola pembinaan santri dijalankan secara akuntabel.

​2. Memecah Kebuntuan Kolaborasi Antarlembaga

Di Indonesia terdapat ribuan pesantren dengan jutaan santri. Sayangnya, interaksi dan kolaborasi antarpembina pesantren selama ini masih sangat minim karena masing-masing sibuk dengan aktivitas internal. Keikutsertaan SyauQie di IIEF 2026 merupakan ikhtiar nyata untuk merajut silaturahmi, membangun jejaring, dan menjalin kerja sama strategis dengan pimpinan pesantren tahfidz se-Indonesia.

​3. Wujud Akuntabilitas kepada Publik dan Donatur

Keikutsertaan di ajang nasional adalah bentuk pertanggungjawaban serta wujud rasa syukur atas amanah yang diberikan oleh masyarakat, para wali santri, dan donatur. Kepercayaan yang telah diamanahkan direalisasikan kembali dalam bentuk penguatan syiar Islam, dari skala lokal menuju nasional, hingga bercita-cita menembus kancah global.

​Komitmen Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan Sunnah

​Langkah ekspansif ini sejalan dengan visi-misi utama SyauQie, yaitu berkomitmen memberikan pendidikan terbaik yang melandaskan seluruh proses pembelajarannya pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

​Langkah kecil yang kami mulai dari Jember hingga Solo ini diharapkan dapat menginspirasi pesantren-pesantren lain untuk tidak ragu melangkah ke luar. Sudah saatnya pesantren menampakkan wajahnya yang adaptif, terbuka, dan siap berkolaborasi demi mencetak generasi Rabbani yang unggul dan berdaya saing di masa depan.

Oleh: KH. Rudi Candra, Lc., M.A. (Pengasuh Pondok Tahfidz Syafaatul Qur’an / SyauQie, Jember)