Konten dari Pengguna

Pesantren Harus Menjadi Rumah Aman, Nyaman, dan Terbuka Bagi Publik

Rudi Candra

Rudi Candra

Pengasuh Pondok Tahfidz SyauQie dan Dosen Unida Gontor

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rudi Candra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto: Utusan/Dai Al Azhar Mesir mengimami sholat maghrib di pondok SyauQie dalam acara silaturrahmi alumni Al Azhar Indonesia (Dokumentasi pribadi Rudi Candra)
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto: Utusan/Dai Al Azhar Mesir mengimami sholat maghrib di pondok SyauQie dalam acara silaturrahmi alumni Al Azhar Indonesia (Dokumentasi pribadi Rudi Candra)

Sejak sebelum kemerdekaan hingga hari ini, pesantren berdiri teguh sebagai benteng moral dan garda terdepan pembangunan peradaban bangsa. Secara tradisional, masyarakat mengenal pesantren sebagai tempat mengaji, menimba ilmu agama Islam, serta membentuk karakter santri melalui rutinitas ibadah dan kedisiplinan. Namun, di tengah dinamisnya perubahan zaman dan kompleksitas tantangan sosial modern, peran pesantren dituntut untuk bertransformasi lebih jauh.

Hari ini, pesantren tidak lagi cukup hanya menjadi tempat mengaji. Lebih dari itu, pesantren harus bertransformasi menjadi rumah yang aman (safe house) dan lingkungan yang nyaman (comfortable environment) bagi seluruh penghuninya—mulai dari para santri, ustaz, ustazah, hingga seluruh tenaga pendidik.

Membangun Visi "Rumah Aman dan Nyaman"

Gagasan menghadirkan lingkungan yang aman dan nyaman harus terinternalisasi dalam visi dan misi utama pimpinan serta pengasuh pesantren. Seorang kiai atau pengasuh memiliki tanggung jawab moral untuk senantiasa memikirkan kesejahteraan emosional, fisik, dan psikologis santri serta para pengajar.

Konsekuensi dari pemikiran ini sangat konkret:

  1. Pembangunan Fasilitas Berbasis Kebutuhan Santri: Sarana dan prasarana pendidikan maupun asrama di pesantren tidak boleh lagi dibangun secara asal-asalan. Semuanya harus dirancang secara profesional dengan prinsip keselamatan, kelayakan, dan kenyamanan.

  2. Perlindungan dan Ekosistem Positif: Menciptakan suasana belajar yang memanusiakan santri, ramah anak, serta memberikan rasa tenang bagi para wali santri yang memercayakan buah hatinya di pesantren.

Mengubah Narasi: Mengapa Pesantren Harus Berani Publikasi?

Di era informasi serba cepat saat ini, kita kerap menyaksikan fenomena asimetri informasi. Berita-berita negatif terkait pesantren sering kali mendapat porsi pemberitaan yang masif di media massa maupun media sosial. Sebaliknya, ribuan kebaikan, prestasi, dan kontribusi nyata yang terjadi di dalam dinding-dinding pesantren justru redup dan tidak terdengar oleh masyarakat luas.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah minimnya narasi, informasi, dan publikasi resmi yang diproduksi oleh lembaga pendidikan Islam itu sendiri.

Jika narasi positif tidak ditulis dan disebarluaskan secara masif, maka ruang publik akan didominasi oleh sudut pandang yang merugikan nama baik pesantren. Oleh karena itu, sudah saatnya pengasuh, ustaz, dan ustazah tidak lagi menyimpan kebaikan pesantren hanya sebagai "amal saleh tertutup". Kebaikan dan proses pendidikan di dalam pondok harus dipublikasikan secara profesional melalui media sosial, situs web resmi, hingga kolom-kolom opini publik.

Menulis dan mengabarkan kebaikan pesantren adalah langkah nyata untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap lembaga yang telah terbukti berjasa besar bagi Republik Indonesia ini.

Komitmen dari Jember untuk Indonesia

Sebagai lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, alumni Universitas Al-Azhar Kairo, serta pembelajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, saya meyakini bahwa keterbukaan, profesionalisme, dan komitmen pada keamanan santri adalah kunci keberlanjutan pesantren di masa depan.

Dari Balung, Jember, Pondok Pesantren Tahfidz Syafaatul Qur'an (SyauQie) terus berkomitmen memberikan pendidikan terbaik berbasis Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mari bersama-sama kita galakkan narasi kebaikan, bukakan pintu komunikasi, dan jadikan pesantren sebagai rumah yang aman, nyaman, serta mencerahkan bagi seluruh anak bangsa.