Konten dari Pengguna

AI Rakus Air dan Listrik, Jangan Sampai Indonesia Hanya Menjadi Tempat Server

Ilustrasi Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generated By AI

Kita sering merasa sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak memiliki tubuh ketika menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Cukup mengetik pertanyaan di layar ponsel, beberapa detik kemudian jawaban muncul. Kita bisa meminta AI membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, merangkum buku, membuat gambar, mengolah data, bahkan membantu menyelesaikan pekerjaan. Semua berlangsung begitu cepat dan terasa ringan. Tetapi di balik satu perintah yang tampak sederhana itu, ada mesin-mesin besar yang bekerja tanpa terlihat oleh pengguna. Ada server dengan chip berkemampuan tinggi, ada listrik yang terus mengalir dan ada sistem pendinginan yang harus bekerja untuk membuang panas. Di sinilah paradoks AI bermula: semakin ringan teknologi terasa di tangan manusia, semakin berat pula infrastruktur yang harus bekerja di belakangnya.

Persoalan itu kembali menjadi perhatian setelah Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyoroti kebutuhan energi dan air dalam pengembangan AI. Dalam pemberitaan September 2026, Stella menyebut konsumsi listrik data center AI di Amerika Serikat sekitar 155 terawatt-jam dan dapat meningkat menjadi 465 terawatt-jam pada 2030. Ia juga menyoroti penggunaan air untuk sistem pendinginan data center dan menyebut angka yang setara dengan kebutuhan minum 1,2 juta orang. Angka tersebut tentu perlu dibaca dalam konteks sumber dan metode perhitungannya karena konsumsi air data center dapat berbeda bergantung pada teknologi pendinginan, lokasi fasilitas dan sumber air yang digunakan. Namun, terlepas dari perbedaan metode tersebut, ada persoalan yang sulit dibantah: semakin besar industri AI berkembang, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur energi dan pendinginan yang menopangnya.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan data center di seluruh dunia mengonsumsi sekitar 415 TWh listrik pada 2024. Dalam skenario dasarnya, kebutuhan tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030. AI menjadi salah satu pendorong penting pertumbuhan kebutuhan listrik tersebut. Artinya, kecerdasan buatan yang kita kenal melalui layar sebenarnya memiliki jejak fisik yang sangat nyata. Setiap jawaban yang muncul membutuhkan proses komputasi. Setiap proses komputasi membutuhkan energi. Dan energi yang digunakan pada skala besar menghasilkan panas yang harus dikelola agar server tetap beroperasi.

Di sinilah istilah “AI rakus” perlu ditempatkan secara proporsional. Bukan berarti mesin memiliki kehendak untuk menghabiskan air dan listrik. Kerakusan itu lebih tepat menggambarkan besarnya skala komputasi yang sedang dibangun manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia sendiri. Semakin banyak orang menggunakan AI, semakin banyak perusahaan mengembangkan model dengan kemampuan lebih tinggi, dan semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula data center yang diperlukan. Persoalannya bukan kemudian apakah kita harus memusuhi AI. Justru pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana manusia memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak membuat kebutuhan digital berhadapan dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Sebab di balik kecanggihan itu ada pertanyaan yang jarang terlihat di layar: siapa yang membayar biaya ekologis dari kecerdasan digital? Pengguna cukup membayar paket internet atau layanan tertentu, tetapi di belakangnya ada pembangkit listrik, jaringan transmisi, bangunan data center, server, sistem pendinginan dan sumber air. AI memang dapat membuat manusia bekerja lebih cepat dan efisien, tetapi efisiensi pada sisi pengguna tidak otomatis berarti kecilnya penggunaan sumber daya pada sisi infrastrukturnya. Karena itu, semakin besar ketergantungan manusia terhadap AI, semakin penting pula membicarakan energi dan air yang menopang teknologi tersebut.

Bagi Indonesia, persoalan ini sekaligus menghadirkan peluang. Indonesia mempunyai potensi panas bumi, tenaga surya, hidro dan berbagai sumber energi terbarukan lainnya. Potensi tersebut dapat menjadi modal penting dalam pengembangan data center dan industri AI. Pemerintah juga melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan industri tersebut. Stella Christie menekankan pentingnya energi terbarukan dalam mendorong industri data center berbasis AI. Di tengah kebutuhan global terhadap komputasi yang terus meningkat, negara yang mampu menyediakan energi secara andal dan berkelanjutan tentu memiliki posisi strategis.

Tetapi peluang tidak otomatis berubah menjadi keuntungan. Di sinilah Indonesia harus berhitung lebih jauh. Jangan sampai kita hanya menyediakan lahan, listrik, air dan infrastruktur untuk data center global, sementara nilai tambah terbesar dari ekonomi AI justru dinikmati di luar negeri. Data center memang dapat membawa investasi, membuka kebutuhan tenaga kerja, mendorong pembangunan infrastruktur dan menggerakkan berbagai sektor pendukung. Namun, manfaatnya akan jauh lebih besar apabila keberadaan data center juga menjadi pintu masuk bagi pengembangan industri teknologi nasional.

Perguruan tinggi harus mendapatkan ruang lebih besar untuk bekerja sama dengan industri. Penelitian AI perlu diperkuat. Talenta digital harus disiapkan bukan hanya untuk menjadi pengguna, tetapi juga pengembang. Perusahaan Indonesia perlu mendapatkan kesempatan masuk ke rantai pasok. Industri perangkat lunak, keamanan siber, komputasi awan dan berbagai layanan berbasis AI harus tumbuh di dalam negeri. Dengan begitu, data center tidak hanya menjadi bangunan tempat server bekerja, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang menghasilkan pengetahuan, pekerjaan, inovasi dan nilai tambah bagi Indonesia.

Sebab ada perbedaan besar antara menjadi pasar teknologi dan menjadi pemain teknologi. Menjadi pasar berarti menggunakan produk yang dibuat pihak lain dan membayar untuk mendapatkan manfaatnya. Menjadi pemain berarti ikut menciptakan teknologi, menghasilkan talenta, membangun perusahaan, melakukan penelitian dan memperoleh bagian dari nilai ekonomi yang tercipta. Indonesia tentu tetap membutuhkan investasi dan teknologi dari luar. Persoalannya bukan menutup pintu bagi perusahaan global, melainkan memastikan keterbukaan tersebut berjalan bersama penguatan kemampuan nasional.

Energi terbarukan menjadi bagian penting dari persoalan tersebut. IEA memperkirakan energi terbarukan akan memenuhi hampir separuh tambahan kebutuhan listrik data center global dalam beberapa tahun mendatang. Perubahan ini menunjukkan bahwa kebutuhan AI dan transisi energi akan semakin berkelindan. Bagi Indonesia, kekayaan sumber energi terbarukan dapat menjadi modal strategis. Tetapi jangan berhenti pada menjual energi murah untuk menghidupkan server. Energi tersebut seharusnya menjadi salah satu fondasi industrialisasi berbasis teknologi, sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.

Air juga tidak boleh ditempatkan sebagai persoalan tambahan. Bagi masyarakat, air bukan sekadar komponen dalam sistem pendinginan industri. Air adalah kebutuhan dasar, sumber kehidupan pertanian, penopang industri dan bagian dari ekosistem. Karena itu, pembangunan data center perlu mempertimbangkan daya dukung sumber air di wilayah tempat fasilitas tersebut berdiri. Teknologi pendinginan yang lebih efisien, penggunaan air nonpotabel apabila memungkinkan, sistem penggunaan kembali air dan transparansi konsumsi menjadi hal yang layak diperhitungkan. Pemerintah tidak cukup hanya bertanya berapa nilai investasi yang masuk. Pertanyaan tentang berapa energi dan air yang digunakan serta bagaimana dampaknya terhadap masyarakat sekitar juga harus masuk dalam perencanaan.

Pada akhirnya, persoalan AI bukan semata-mata persoalan teknologi. Ini juga persoalan kebijakan publik. Kita sedang memasuki masa ketika kemampuan komputasi menjadi bagian dari kekuatan ekonomi. Karena itu, pembangunan data center tidak seharusnya dilihat hanya sebagai proyek investasi, tetapi sebagai bagian dari strategi teknologi nasional. Jika dikelola dengan baik, perkembangan AI dapat mendorong investasi, penelitian, pendidikan, industri digital dan lapangan pekerjaan baru. Namun, jika orientasinya hanya mengejar jumlah investasi dan kapasitas server, Indonesia berisiko menjadi lokasi strategis bagi komputasi dunia tanpa memiliki kemampuan yang sepadan untuk menciptakan nilai dari teknologi tersebut.

Kecerdasan buatan membutuhkan kecerdasan kebijakan.

Kita tidak perlu memilih antara AI dan lingkungan. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan teknologi tersebut tanpa membuat alam membayar seluruh tagihan kemajuan digital. AI dapat membantu meningkatkan efisiensi, mempercepat penelitian, mengolah data dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan. Tetapi teknologi yang dikembangkan untuk membantu manusia juga harus dibangun dengan memperhatikan sumber daya yang menjadi penopangnya. Kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat manusia lupa bahwa air, energi dan lingkungan bukan sumber daya tanpa batas.

Karena itu, pertanyaan tentang AI seharusnya tidak berhenti pada seberapa pintar mesin tersebut. Kita perlu bertanya dari mana listriknya, dari mana airnya, bagaimana data center dikelola, siapa yang memperoleh manfaat ekonominya, siapa yang menanggung dampak lingkungannya dan seberapa besar nilai tambah yang berhasil diciptakan di dalam negeri. Pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap teknologi. Justru sebaliknya, itulah cara agar kita tidak menjadi konsumen pasif dalam revolusi teknologi yang sedang berlangsung.

AI boleh semakin pintar. Data center boleh semakin besar. Investasi digital boleh semakin deras. Tetapi Indonesia jangan puas hanya menjadi tempat di mana mesin-mesin itu bekerja. Jika dunia membutuhkan energi, sumber daya dan ruang Indonesia untuk menggerakkan revolusi AI, maka yang harus tumbuh bukan hanya gedung data center, melainkan juga talenta, riset, industri, inovasi dan kesejahteraan masyarakat. Sebab ukuran keberhasilan ekonomi AI bukan semata-mata berapa banyak server yang berdiri di Indonesia, tetapi berapa besar nilai tambah dari kecerdasan tersebut yang benar-benar tinggal, berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia.