Erha City dan Ikhtiar Membangun Ekonomi Masyarakat Purbalingga
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembangunan daerah tidak cukup hanya ditandai dengan berdirinya gedung-gedung baru, meluasnya kawasan bisnis, atau meningkatnya nilai investasi. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menciptakan kesempatan kerja, menggerakkan usaha masyarakat, dan menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan secara luas.
Dalam perspektif tersebut, kehadiran Erha City di Purbalingga menarik untuk dicermati. Kawasan ini bukan sekadar proyek pengembangan properti, melainkan memiliki potensi menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi daerah.
Pengembangan Erha City juga dapat dilihat dalam konteks upaya Rofik Hananto melalui Erdigma Group untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang usaha. Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan kawasan bisnis tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar.
Pembangunan Kawasan dan Peluang Ekonomi
Erha City dikembangkan di Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Kawasan yang dikembangkan PT Erhanesia Digima Mukitama (Erdigma) ini dirancang dengan mengintegrasikan tiga komponen utama, yaitu pusat perkantoran, fasilitas ibadah, dan lembaga pendidikan.
Peletakan batu pertama pembangunan kawasan tersebut dilaksanakan pada 25 Oktober 2026.
Konsep pengembangan ini menarik karena menghadirkan keterpaduan antara aktivitas bisnis, pendidikan, dan kehidupan sosial. Namun, pembangunan kawasan tidak semestinya berhenti pada penyediaan fasilitas fisik. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana keberadaannya mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Sebuah kawasan perkantoran, misalnya, akan membutuhkan berbagai layanan pendukung. Mulai dari penyediaan makanan dan minuman, jasa transportasi, perdagangan, kebersihan, hingga kebutuhan operasional lainnya.
Kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar. Dengan demikian, kehadiran kawasan bisnis berpotensi menciptakan hubungan ekonomi yang tidak hanya melibatkan perusahaan besar, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.
Di sinilah pembangunan perlu memiliki orientasi yang lebih luas. Bukan sekadar membangun kawasan, melainkan membangun ekosistem ekonomi.
UMKM Jangan Hanya Menjadi Penonton
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menopang perekonomian daerah. Keberadaannya bukan hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga menyangkut sumber penghidupan keluarga dan penyerapan tenaga kerja.
Data dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun 2026 mencatat jumlah UMKM pada 2024 sebanyak 65.606 unit. Penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut tercatat sekitar 196.818 orang.
Angka ini menunjukkan bahwa UMKM merupakan bagian penting dari struktur ekonomi Purbalingga. Karena itu, setiap pengembangan kawasan bisnis semestinya membuka peluang keterlibatan mereka.
Erha City memiliki potensi untuk menjadi salah satu ruang tumbuh bagi UMKM lokal. Peluang tersebut dapat diwujudkan melalui kemitraan penyediaan produk, pembukaan gerai usaha, layanan kuliner, serta berbagai kebutuhan operasional kawasan.
Pengelola kawasan juga dapat mendorong peningkatan kualitas produk dan pelayanan melalui pembinaan serta pendampingan usaha.
Dengan pola kemitraan yang tepat, pelaku UMKM tidak hanya memperoleh kesempatan berjualan, tetapi juga memiliki peluang meningkatkan kapasitas dan daya saing.
Jangan sampai kawasan bisnis berkembang pesat, tetapi usaha kecil di sekitarnya tidak memperoleh manfaat yang sepadan.
Membuka Kesempatan Kerja bagi Generasi Muda
Selain mendorong UMKM, pengembangan kawasan bisnis juga memiliki potensi dalam menciptakan lapangan kerja.
Kesempatan kerja menjadi salah satu persoalan penting dalam pembangunan daerah. Banyak generasi muda memiliki pendidikan dan keterampilan, tetapi belum semuanya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Tidak sedikit pula yang harus mencari penghidupan ke luar daerah karena terbatasnya pilihan pekerjaan di kampung halaman.
Dalam konteks ini, investasi memiliki arti penting. Kehadiran perusahaan dan kawasan bisnis dapat menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja, baik selama proses pembangunan maupun ketika kegiatan operasional berlangsung.
Namun, penyerapan tenaga kerja tidak cukup hanya menjadi harapan. Perlu ada upaya agar masyarakat lokal memiliki kesempatan untuk mengisi kebutuhan tersebut.
Pelatihan keterampilan, peningkatan kompetensi, serta kerja sama dengan lembaga pendidikan dapat menjadi bagian dari strategi menyiapkan tenaga kerja lokal.
Keberhasilan pengembangan kawasan pada akhirnya perlu dilihat dari seberapa besar kontribusinya terhadap penciptaan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.
Investasi Harus Menghadirkan Efek Berganda
Pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih kuat apabila investasi mampu menciptakan efek berganda bagi masyarakat.
Perusahaan membutuhkan pemasok, distributor, tenaga kerja, dan berbagai layanan pendukung. Sementara itu, UMKM membutuhkan pasar, akses kemitraan, peningkatan kualitas produk, dan kesempatan untuk berkembang.
Hubungan tersebut perlu dibangun agar pertumbuhan perusahaan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan usaha masyarakat.
Dalam konteks ini, Rofik Hananto sebagai Komisaris Erdigma Group memiliki ruang untuk mendorong agar pengembangan Erha City tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan kawasan, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat Purbalingga.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Amartya Sen, ekonom peraih Nobel, dalam bukunya Development as Freedom. Ia menempatkan pembangunan sebagai proses memperluas kemampuan dan kesempatan manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Pemikiran tersebut memberikan perspektif bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi semata. Pembangunan juga harus memperluas kesempatan masyarakat untuk bekerja, berusaha, meningkatkan keterampilan, dan memperbaiki kualitas hidup.
Dengan demikian, investasi seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal, tetapi juga menciptakan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Mengukur Pembangunan dari Manfaatnya
Erha City merupakan salah satu peluang pengembangan ekonomi yang patut diperhatikan dalam perjalanan pembangunan Purbalingga. Namun, potensi tersebut perlu diwujudkan melalui langkah-langkah konkret.
Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal sesuai dengan kompetensinya. Kedua, memberikan ruang kemitraan bagi UMKM. Ketiga, mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja. Keempat, membangun hubungan usaha yang saling menguntungkan antara perusahaan dan masyarakat sekitar.
Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan pelaku UMKM.
Pemerintah daerah dapat berperan dalam memfasilitasi kemitraan dan menyiapkan sumber daya manusia. Pengelola kawasan dapat membuka akses usaha dan kesempatan kerja. Sementara itu, pelaku UMKM perlu terus meningkatkan kualitas produk serta profesionalitas dalam menjalankan usaha.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa megah bangunan yang berdiri atau seberapa luas kawasan yang dikembangkan.
Ukuran yang lebih substantif adalah seberapa banyak masyarakat memperoleh kesempatan kerja, seberapa banyak UMKM berkembang, dan seberapa besar aktivitas ekonomi baru memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Erha City akan memiliki makna pembangunan yang lebih luas apabila pertumbuhannya turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Purbalingga.
Sebab, pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membangun kawasan, melainkan juga membangun kesempatan, memperluas penghidupan, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

