Konten dari Pengguna

Ketika Prenjak dan Perkutut Masih Bernyanyi

Seekor burung prenjak yg sudah mulai langka sebab di buru . foto wibowo djatmiko.
zoom-in-whitePerbesar
Seekor burung prenjak yg sudah mulai langka sebab di buru . foto wibowo djatmiko.

"Jika rumah kami terus hilang, suatu hari kami akan pergi. Dan ketika kami pergi, jangan heran jika pagi terasa lebih sepi dari yang pernah anda bayangkan"

Pagi itu saya kembali mendengar suara prenjak dan perkutut liar dari pepohonan di samping rumah. Di tengah riuh kendaraan, notifikasi telepon genggam, dan kesibukan yang tak pernah benar-benar berhenti, suara itu terdengar seperti pesan dari dunia yang perlahan menjauh dari kehidupan kita.

Dulu, suara burung adalah bagian biasa dari pagi hari. Prenjak yang lincah melompat dari ranting ke ranting, perkutut liar yang bersuara merdu dari kejauhan, serta berbagai jenis burung lain yang hidup berdampingan dengan manusia. Kehadiran mereka begitu biasa hingga sering tidak disadari.

Namun hari ini, saya mulai bertanya: apakah suara-suara itu kelak masih akan didengar oleh anak-anak kita?

Pertanyaan itu muncul karena lingkungan di sekitar kita sedang berubah sangat cepat. Pohon-pohon tua ditebang, kebun-kebun berubah menjadi bangunan, lahan terbuka semakin sempit, dan ruang hijau perlahan menghilang. Semua dilakukan atas nama pembangunan dan kemajuan.

Tidak ada yang salah dengan pembangunan. Yang menjadi persoalan adalah ketika pembangunan hanya menghitung kebutuhan manusia, sementara makhluk hidup lain dianggap tidak masuk dalam perhitungan.

Masalahnya, kemajuan sering kali hanya dihitung dari apa yang bertambah, bukan dari apa yang hilang.

Kita menghitung jumlah bangunan baru. Kita mencatat nilai investasi yang masuk. Kita meresmikan jalan dan kawasan baru. Namun hampir tidak pernah ada yang bertanya berapa banyak sarang burung yang hilang, berapa banyak pohon yang tumbang, dan berapa banyak kehidupan yang terusir dari ruang yang selama ini mereka tempati.

Padahal alam juga membayar harga dari setiap pembangunan yang kita rayakan.

Ironisnya, kerusakan lingkungan jarang datang dalam satu peristiwa besar. Ia hadir perlahan, nyaris tanpa disadari. Satu pohon ditebang hari ini. Sebidang kebun hilang tahun depan. Sebuah lahan hijau berubah menjadi beton beberapa tahun kemudian. Sampai akhirnya kita menyadari bahwa suara prenjak yang dulu mudah ditemukan kini semakin jarang terdengar.

Ketika burung-burung mulai menghilang, sesungguhnya yang hilang bukan hanya keindahan suara alam. Yang hilang adalah penanda bahwa lingkungan masih sehat. Burung merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa masih ada ruang hidup yang layak, masih ada rantai makanan yang berjalan, dan masih ada alam yang mampu menopang kehidupan.

Sayangnya, manusia sering terlambat membaca tanda-tanda itu.

Kita baru khawatir ketika banjir datang lebih sering. Kita baru berbicara tentang perubahan iklim ketika udara terasa semakin panas. Kita baru merindukan pohon setelah halaman berubah menjadi beton. Dan kita baru mencari suara burung ketika pagi menjadi terlalu sunyi.

Ada ironi yang jarang disadari. Semakin modern kehidupan kita, semakin jauh hubungan kita dengan alam. Kita membangun rumah yang lebih besar, tetapi menyisakan ruang yang lebih kecil bagi kehidupan lain. Kita menginginkan udara yang segar, tetapi terus mengurangi pohon yang menyediakannya. Kita menginginkan lingkungan yang nyaman, tetapi sering kali menjadi penyebab hilangnya kenyamanan itu sendiri.

Tokoh lingkungan dunia, Rachel Carson, pernah mengingatkan bahwa segala sesuatu di alam saling terhubung. Ketika satu bagian rusak, bagian lain akan ikut merasakan dampaknya.

Mungkin karena itulah suara prenjak dan perkutut liar di samping rumah terasa berbeda pagi ini. Mereka bukan sekadar burung yang sedang bernyanyi. Mereka adalah pengingat bahwa alam masih bertahan.

Namun bertahan bukan berarti aman.

Bertahan sering kali hanya berarti belum kalah.

Dan saya khawatir, jika cara kita memperlakukan lingkungan tidak berubah, suatu hari suara prenjak dan perkutut itu benar-benar akan menjadi kenangan. Anak-anak hanya mengenalnya dari gambar di buku pelajaran atau video di media sosial. Mereka tahu nama dan bentuknya, tetapi tidak pernah merasakan bagaimana alam menyapa pagi melalui suara mereka.

Pagi ini prenjak dan perkutut masih bernyanyi di samping rumah saya.

Tetapi di balik kicauan itu, saya seperti mendengar sebuah pesan yang ditujukan kepada kita semua:

"Jangan ganggu kami"