Konten dari Pengguna

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis: Apakah Suara Anak Muda Masih Didengar?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMAD RUDI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.

Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk melihat kembali peran generasi muda. Di tengah berbagai persoalan sosial dan ekonomi, apakah suara anak muda masih memiliki ruang untuk didengar?

Setiap tanggal 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Momen ini bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan pengingat bahwa perubahan besar dalam perjalanan bangsa pernah dimulai dari keberanian anak muda untuk menyatukan pikiran dan tujuan.

Namun, jika melihat kondisi saat ini, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah semangat Sumpah Pemuda masih benar-benar hidup dalam kehidupan generasi muda Indonesia?

Bagi sebagian anak muda, masa depan terasa semakin penuh ketidakpastian. Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat, biaya pendidikan menjadi perhatian, sementara tuntutan untuk memiliki keterampilan terus meningkat.

Di sisi lain, generasi muda juga menghadapi berbagai persoalan sosial dan kebijakan publik yang memengaruhi kehidupan mereka secara langsung.

Anak muda bukan sekadar penonton

Generasi muda sering disebut sebagai harapan bangsa. Namun, menyebut anak muda sebagai harapan saja tidak cukup jika mereka tidak diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Mahasiswa, misalnya, tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk belajar di ruang kelas. Mereka juga memiliki kesempatan untuk memahami persoalan masyarakat, mengkritisi kebijakan, dan menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.

Ketika anak muda mempertanyakan suatu kebijakan, hal tersebut seharusnya tidak selalu dipandang sebagai bentuk perlawanan. Kritik dapat menjadi bagian dari kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Sebab, diam bukan satu-satunya bentuk sikap yang menunjukkan kecintaan terhadap negara.

Persoalan generasi muda bukan hanya soal pekerjaan

Salah satu tantangan yang sering dibicarakan adalah sulitnya mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah.

Bagi mahasiswa, memperoleh gelar sarjana tentu menjadi sebuah pencapaian. Namun, gelar tersebut belum tentu menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapannya.

Situasi ini membuat sebagian anak muda harus menghadapi kenyataan bahwa pendidikan, keterampilan, pengalaman, dan kesempatan kerja perlu berjalan beriringan.

Selain itu, persoalan biaya hidup, akses pendidikan, dan ketidakpastian ekonomi juga menjadi bagian dari tantangan yang mereka hadapi.

Karena itu, membicarakan masa depan generasi muda tidak cukup hanya dengan meminta mereka bekerja keras. Perlu ada dukungan dan kesempatan yang memungkinkan mereka berkembang.

Sumpah Pemuda bukan sekadar seremoni

Semangat Sumpah Pemuda pada 1928 lahir dari kesadaran untuk bersatu di tengah perbedaan.

Kini, tantangan generasi muda memang berbeda. Namun, nilai persatuan, keberanian, dan kepedulian terhadap bangsa tetap relevan.

Persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Justru, perbedaan pandangan perlu dikelola agar dapat menjadi bagian dari proses membangun bangsa.

Generasi muda juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik, menghargai perbedaan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

Masa depan membutuhkan ruang bagi anak muda

Peringatan Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk bertanya, bukan hanya kepada generasi muda, tetapi juga kepada pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Apakah anak muda sudah mendapatkan kesempatan yang cukup untuk berkembang? Apakah aspirasi mereka benar-benar didengar? Dan apakah kebijakan yang dibuat telah mempertimbangkan masa depan generasi berikutnya?

Pertanyaan tersebut penting karena masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh keputusan hari ini, tetapi juga oleh kesempatan yang diberikan kepada generasi muda untuk ikut membentuknya.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang peristiwa masa lalu. Ia juga tentang memastikan bahwa anak muda hari ini memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, memperoleh kesempatan, dan ikut menentukan arah bangsa.

Sebab, generasi muda bukan sekadar penerus Indonesia. Mereka juga bagian dari Indonesia hari ini.