Cetak Benih Mandiri, Rutan Gresik Optimalkan Program Ketahanan Pangan

Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gresik
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rutan Gresik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

GRESIK – Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gresik, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, terus mengembangkan program ketahanan pangan melalui budidaya perikanan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar sosialisasi pemijahan ikan lele untuk mendukung kemandirian produksi benih sekaligus menjaga keberlanjutan program budidaya ikan di lingkungan Rutan Gresik.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dengan didampingi jajaran petugas Rutan Gresik. Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai teknik dasar pemijahan ikan lele, mulai dari pemilihan induk hingga proses perawatan benih. Kolaborasi ini menjadi salah satu bentuk dukungan dunia pendidikan dalam memperkuat program ketahanan pangan melalui penerapan ilmu pengetahuan secara langsung.
Dalam pemaparannya, mahasiswa UMG menjelaskan bahwa pemijahan ikan lele merupakan proses perkawinan antara induk jantan dan betina untuk menghasilkan telur yang nantinya berkembang menjadi benih. Proses ini diawali dengan pemilihan induk yang sehat dan telah matang gonad. Selanjutnya, induk ditempatkan pada kolam atau wadah pemijahan yang telah disiapkan dengan kondisi lingkungan yang sesuai agar proses reproduksi dapat berlangsung secara optimal.
Setelah proses pemijahan berlangsung, induk betina akan mengeluarkan telur yang kemudian dibuahi oleh induk jantan. Dalam kondisi yang mendukung, telur ikan lele umumnya dapat menetas dalam waktu sekitar 24–36 jam. Larva yang dihasilkan kemudian memerlukan perawatan khusus dan pemberian pakan secara bertahap hingga tumbuh menjadi benih yang siap memasuki tahap pembesaran. Pemahaman terhadap setiap tahapan tersebut menjadi bekal penting untuk meningkatkan keberhasilan budidaya ikan lele.
Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, menyampaikan bahwa pengembangan budidaya perikanan tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada kemampuan untuk mengelola proses produksi secara mandiri dan berkelanjutan. “Kami ingin program ketahanan pangan di Rutan Gresik terus berkembang. Melalui sosialisasi ini, kami belajar bagaimana menghasilkan benih sendiri, merawatnya dengan baik, dan menjaga budidaya ikan lele agar bisa terus berjalan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dhimas menegaskan bahwa sinergi dengan perguruan tinggi menjadi peluang untuk memperkaya pengetahuan sekaligus menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan program ketahanan pangan. Menurutnya, keterampilan budidaya perikanan perlu terus dikembangkan melalui praktik dan pendampingan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan Rutan. Dengan begitu, program yang dijalankan tidak hanya menjadi kegiatan produktif, tetapi juga memiliki nilai pembelajaran dan keberlanjutan.
Melalui sosialisasi pemijahan ikan lele ini, Rutan Gresik berharap pengelolaan budidaya perikanan dapat semakin optimal, mulai dari penyediaan benih hingga tahap pembesaran dan panen. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Rutan Gresik dalam membangun ketahanan pangan yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan melalui kolaborasi, inovasi, serta pemanfaatan sumber daya yang tersedia. (Humas Rutan Gresik)
