Bisnis Ingin Melesat, tapi Keterampilan Karyawan Siap Tidak?

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Saya tertarik dengan manajemen keuangan dan perencanaan SDM
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sabita Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah melihat perusahaan yang begitu bersemangat mengikuti perkembangan teknologi? Ada yang mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI), melakukan digitalisasi, membuka cabang baru, hingga menerapkan berbagai cara untuk menekan biaya operasional. Semuanya dilakukan demi satu tujuan: membuat bisnis semakin berkembang dan mampu bersaing.
Di atas kertas, rencana tersebut memang terlihat menjanjikan. Target sudah ditentukan, anggaran sudah disiapkan, dan proyeksi keuntungan sudah dihitung. Namun, ada satu hal yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan menjalankan semua rencana tersebut.
Bayangkan sebuah perusahaan yang mengeluarkan biaya besar untuk menerapkan sistem digital. Harapannya, pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, ketika sistem mulai digunakan, karyawan justru kesulitan beradaptasi karena belum terbiasa dengan teknologi baru. Pekerjaan yang seharusnya lebih mudah malah menjadi terhambat.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa persoalan perusahaan tidak selalu terletak pada strategi yang kurang bagus atau teknologi yang kurang canggih. Terkadang, masalahnya justru karena perusahaan terlalu fokus mengejar perubahan, tetapi lupa mempersiapkan orang-orang yang harus menjalankannya.
Ketika Perencanaan Bisnis dan SDM Berjalan Sendiri-Sendiri
Selama ini, perencanaan bisnis sering dianggap sebagai urusan manajemen, sedangkan urusan karyawan diserahkan kepada bagian SDM. Setelah target ditentukan, barulah perusahaan memikirkan berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan dan keterampilan apa yang harus dimiliki.
Padahal, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Ketika perusahaan ingin memperluas pasar, misalnya, perusahaan bukan hanya membutuhkan tambahan modal dan strategi pemasaran, tetapi juga tenaga kerja yang mampu menghadapi pelanggan, mengelola operasional, dan memahami kondisi pasar baru.
Begitu juga ketika perusahaan ingin menggunakan AI. Keputusan tersebut seharusnya tidak hanya membahas teknologi apa yang akan digunakan dan berapa biayanya. Perusahaan juga perlu memikirkan apakah karyawan mampu mengoperasikannya, pekerjaan apa saja yang akan berubah, serta keterampilan baru apa yang perlu dipelajari.
Di sinilah pentingnya mengintegrasikan perencanaan sumber daya manusia (PSDM) dengan perencanaan bisnis. Artinya, perusahaan tidak hanya merencanakan apa yang ingin dicapai, tetapi juga mempersiapkan siapa yang akan membantu mewujudkannya.
Bukan Sekadar Merekrut, tetapi Mempersiapkan
Salah satu kesalahan yang bisa terjadi adalah menganggap bahwa setiap kebutuhan tenaga kerja baru harus diselesaikan dengan perekrutan. Padahal, belum tentu perusahaan harus selalu mencari orang dari luar.
Coba bayangkan sebuah perusahaan yang membutuhkan karyawan dengan kemampuan mengoperasikan sistem digital. Sebelum membuka lowongan baru, perusahaan sebenarnya bisa melihat terlebih dahulu kemampuan karyawan yang sudah ada. Mungkin ada karyawan yang cukup potensial dan hanya membutuhkan pelatihan tambahan.
Melalui peningkatan keterampilan atau upskilling, karyawan dapat memperdalam kemampuan yang sudah dimiliki. Sementara itu, reskilling dapat membantu karyawan mempelajari keterampilan baru untuk menjalankan peran yang berbeda.
Cara ini bukan hanya membantu perusahaan menghemat biaya perekrutan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berkembang. Mereka tidak sekadar dituntut mengikuti perubahan, melainkan juga dibantu agar mampu menghadapinya.
Meski begitu, pelatihan saja tidak selalu cukup. Perusahaan tetap perlu mengevaluasi apakah keterampilan karyawan sudah sesuai dengan kebutuhan bisnis ke depan. Jika masih ada kesenjangan, perusahaan bisa menentukan apakah solusinya berupa pelatihan lanjutan, perekrutan tenaga ahli, atau kerja sama dengan pihak luar.
Jangan Menuntut Perubahan Tanpa Memberikan Dukungan
Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana perusahaan memperlakukan karyawannya selama proses perubahan berlangsung.
Sering kali, perusahaan menginginkan karyawan lebih kreatif, produktif, dan mampu beradaptasi dengan cepat. Namun, di sisi lain, sistem penilaian kinerja yang diterapkan justru hanya berfokus pada target jangka pendek. Karyawan dituntut menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi tidak selalu diberikan ruang untuk belajar dan mencoba.
Akibatnya, perubahan yang seharusnya membawa kemajuan justru dapat menimbulkan tekanan. Karyawan mungkin merasa khawatir kehilangan pekerjaan, takut melakukan kesalahan, atau enggan mempelajari sistem baru karena tidak mendapatkan dukungan yang cukup.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa target kinerja, penghargaan, dan pengembangan karier sejalan dengan arah bisnis. Jika perusahaan ingin mendorong inovasi, misalnya, karyawan juga perlu mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan ide, mengikuti pelatihan, dan belajar dari kesalahan yang wajar.
Pimpinan perusahaan pun perlu melibatkan bagian SDM sejak awal penyusunan strategi. Dengan begitu, keputusan bisnis dapat mempertimbangkan bukan hanya potensi keuntungan, tetapi juga kesiapan kompetensi dan kondisi tenaga kerja yang dimiliki.
Dampaknya Jika Kesiapan SDM Diabaikan
Ketika perencanaan bisnis dan PSDM tidak berjalan beriringan, perusahaan berisiko menghadapi berbagai masalah. Perekrutan mendadak dapat meningkatkan biaya, pelatihan yang dilakukan terburu-buru belum tentu memberikan hasil optimal, dan penggunaan teknologi bisa menjadi kurang efektif.
Lebih jauh lagi, karyawan yang terus-menerus dituntut mengikuti perubahan tanpa dukungan yang memadai dapat kehilangan motivasi. Jika kondisi ini berlangsung lama, perusahaan justru berisiko kehilangan tenaga kerja berpengalaman yang sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang.
Bagi usaha kecil dan menengah, persoalan ini mungkin terasa lebih menantang karena keterbatasan anggaran dan jumlah karyawan. Namun, mengintegrasikan perencanaan bisnis dengan PSDM tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Pemilik usaha cukup membiasakan diri untuk menilai kemampuan tim, mengenali keterampilan yang masih kurang, dan menentukan pelatihan yang paling dibutuhkan sebelum menetapkan target baru.
Pada akhirnya, perkembangan bisnis bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi atau siapa yang paling berani menetapkan target besar. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa orang-orang di dalamnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berkembang bersama bisnis tersebut.
Sebab, strategi yang terlihat sempurna dalam presentasi belum tentu berjalan dengan baik di lapangan. Teknologi bisa dibeli, sistem bisa diperbarui, dan target bisa dinaikkan. Namun, kesiapan manusia perlu dibangun melalui proses yang terencana.
Mungkin sudah saatnya perusahaan tidak hanya bertanya, "Seberapa besar bisnis kita bisa berkembang tahun depan?" tetapi juga, "Apakah orang-orang yang kita miliki sudah siap untuk tumbuh bersama perusahaan?"
Bisnis boleh dan memang perlu bercita-cita melesat. Tetapi kecepatan tanpa kesiapan hanya mempercepat tibanya masalah. Menyatukan PSDM dengan perencanaan bisnis bukan soal menambah birokrasi, melainkan memastikan bahwa ambisi perusahaan berjalan beriringan dengan kemampuan orang-orang yang mewujudkannya. Pada akhirnya, strategi tidak dijalankan oleh dokumen, tetapi oleh manusia.
