Sepatu yang Belum Terbeli, Mimpi yang Tak Mau Mati

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Sabrina Orry Najuh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada anak yang bisa berangkat sekolah dengan sepatu baru, ada pula yang harus menyimpan keinginannya karena kebutuhan keluarga jauh lebih mendesak. Bagi Dahlan dalam novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara, sepatu bukan sekadar alas kaki. Benda sederhana itu menjadi bagian dari mimpi, perjuangan, dan harapan yang terus ia bawa di tengah kehidupan yang serba terbatas.
Novel ini mengajak pembaca menengok kehidupan Dahlan Iskan ketika masih kecil di lingkungan Kebon Dalem, Magetan, Jawa Timur. Kehidupan keluarganya tidak mudah. Keterbatasan ekonomi membuat banyak hal yang bagi anak-anak lain terasa biasa justru menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan oleh Dahlan. Keinginannya untuk memiliki sepatu dan menjalani pendidikan dengan layak tumbuh berdampingan dengan tanggung jawab terhadap keluarga.
Yang membuat kisah ini menarik bukan semata-mata kemiskinan yang dialami tokohnya, melainkan bagaimana Dahlan berusaha tetap menjalani hari-hari ketika keadaan tidak berpihak kepadanya.
Ketika Keinginan Sederhana Terasa Begitu Jauh
Dalam kehidupan sehari-hari, sepatu mungkin hanya dianggap sebagai kebutuhan sekolah. Namun, bagi Dahlan, sepatu memiliki arti yang lebih dalam. Ia menjadi gambaran tentang keinginan seorang anak untuk menikmati masa kecil, merasa setara dengan teman-temannya, dan memiliki sesuatu yang selama ini belum bisa ia dapatkan.
Melalui kisah Dahlan, pembaca diajak melihat bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan tidak mempunyai uang. Keterbatasan juga dapat memengaruhi kesempatan anak untuk menikmati pendidikan, memenuhi kebutuhan dasar, bahkan menyampaikan keinginannya sendiri. Ada kebutuhan yang harus didahulukan, ada harapan yang terpaksa ditunda, dan ada keadaan yang membuat seorang anak belajar memahami kehidupan lebih cepat daripada usianya.
Khrisna Pabichara tidak hanya menghadirkan perjuangan melalui keinginan Dahlan untuk memiliki sepatu. Penulis juga menggambarkan kehidupan keluarga yang diwarnai kerja keras, kesedihan, dan rasa tanggung jawab. Salah satu bagian yang memperlihatkan beratnya keadaan tersebut adalah ketika Dahlan harus menghadapi kondisi keluarganya yang sedang kesulitan.
“Adikku lapar, Gan,” kataku.
Kalimat singkat itu memperlihatkan bahwa di balik keinginan pribadi, ada kebutuhan keluarga yang jauh lebih mendesak. Dahlan tidak hanya berhadapan dengan keinginannya sendiri, tetapi juga dengan kenyataan bahwa orang-orang yang disayanginya membutuhkan bantuan.
Dalam bagian lain, ia menghadapi pertanyaan sederhana dari adiknya ketika ibu mereka harus pergi ke rumah sakit.
“Nanti siapa yang masak, Mas?”
Pertanyaan tersebut terasa menyentuh karena memperlihatkan bagaimana persoalan orang dewasa ikut menjadi beban pikiran anak-anak. Ketika keluarga sedang menghadapi kesulitan, kebutuhan paling mendasar seperti makanan dan kehadiran orang tua pun dapat menimbulkan kecemasan.
Di sinilah kekuatan cerita Sepatu Dahlan. Kesedihan tidak selalu disampaikan melalui peristiwa besar. Terkadang, satu pertanyaan dari seorang adik atau kekhawatiran tentang makanan di rumah justru lebih mampu memperlihatkan beratnya kehidupan.
Bukan Hanya tentang Kemiskinan
Menurut saya, hal yang paling menarik dari novel ini adalah cara cerita memperlihatkan bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk keberhasilan yang langsung terlihat. Ada proses panjang yang harus dijalani sebelum seseorang memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Dalam kehidupan Dahlan, proses tersebut mencakup menghadapi keterbatasan, membantu keluarga, dan menerima kenyataan yang tidak selalu menyenangkan.
Salah satu bagian yang menggambarkan situasi keluarga Dahlan adalah ketika ia menjelaskan alasan di balik tindakannya kepada orang lain.
“Ibuku sakit, makanya mereka melepaskanku.”
Kalimat itu memperlihatkan bahwa kehidupan Dahlan tidak dapat dipisahkan dari kondisi keluarganya. Tindakan dan keputusan yang ia ambil berhubungan erat dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Pembaca pun diajak melihat tokoh ini secara lebih manusiawi, bukan sekadar menilainya berdasarkan apa yang ia lakukan.
Ada pula percakapan yang menunjukkan bagaimana Dahlan berusaha menenangkan adiknya ketika mereka sedang menghadapi ketidakpastian.
“Sudah, Dik, sebentar lagi Ibu dan Bapak pulang.”
Bagi saya, bagian seperti ini menjadi salah satu sisi paling menyentuh dalam novel. Dahlan sendiri masih seorang anak, tetapi ia berusaha memberikan ketenangan kepada adiknya. Ia belum tentu memahami seluruh persoalan yang sedang terjadi, tetapi tetap berusaha membuat keadaan terasa lebih baik.
Melalui peristiwa-peristiwa tersebut, pembaca dapat melihat bahwa kedewasaan tidak selalu datang ketika seseorang bertambah usia. Dalam keadaan tertentu, tanggung jawab dan kesulitan membuat seseorang belajar memahami kehidupan lebih awal.
Ketika Doa Menjadi Tempat Berserah
Selain perjuangan keluarga, novel ini juga memperlihatkan hubungan tokoh dengan keyakinan dan harapan. Di tengah keadaan yang sulit, doa menjadi salah satu cara untuk menghadapi ketidakpastian. Hal tersebut terasa dalam ungkapan berikut.
“Tuhan, terserah Engkau sajalah!”
Kutipan tersebut muncul dalam bagian prolog ketika tokoh menghadapi operasi yang menegangkan. Meskipun berada dalam situasi yang berbeda dari masa kecilnya, bagian ini memperlihatkan sisi manusiawi seorang tokoh yang harus berhadapan dengan ketidakpastian hidup.
Menurut saya, ungkapan itu bukan sekadar bentuk kepasrahan. Ada kesadaran bahwa manusia dapat berusaha, tetapi tidak selalu mampu mengendalikan hasil dari segala sesuatu yang dihadapinya. Sikap tersebut juga membuat pembaca melihat bahwa perjuangan tidak selalu berarti terus melawan keadaan. Ada saatnya seseorang perlu menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.
Perjalanan hidup Dahlan dalam novel ini akhirnya terasa lebih luas daripada persoalan sepatu. Ada keluarga yang harus dijaga, pendidikan yang ingin diperjuangkan, dan masa depan yang belum diketahui. Semua itu menjadikan sepatu sebagai simbol yang menghubungkan keinginan sederhana dengan perjuangan hidup yang lebih besar.
Sebagai karya sastra, Sepatu Dahlan memiliki daya tarik melalui tema keluarga, pendidikan, kemiskinan, dan keteguhan menghadapi kesulitan. Tema-tema tersebut dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga pembaca dapat menemukan pengalaman yang terasa nyata di dalam cerita.
Kekuatan novel ini terletak pada penggambaran perjuangan melalui peristiwa sehari-hari. Kesulitan tidak hanya dijelaskan sebagai keadaan yang menyedihkan, tetapi ditunjukkan melalui kebutuhan keluarga, kecemasan seorang anak, serta keinginan yang belum terpenuhi. Cara penceritaan seperti ini membuat persoalan sosial terasa lebih dekat dengan pembaca.
Dari sisi tokoh, Dahlan menarik karena ia tidak hanya hadir sebagai anak yang memiliki cita-cita. Ia juga seorang kakak, anak, dan bagian dari keluarga yang sedang menghadapi keterbatasan. Peran-peran tersebut membuat perjuangannya memiliki sisi emosional yang kuat.
Meski demikian, pembaca sebaiknya tidak hanya mengambil kesimpulan bahwa kemiskinan akan membuat seseorang menjadi kuat atau bahwa keberhasilan selalu bisa diraih dengan kerja keras. Menurut saya, novel ini juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa setiap anak membutuhkan kesempatan yang layak untuk belajar dan mengembangkan cita-citanya. Keteguhan pribadi memang penting, tetapi dukungan keluarga, lingkungan, dan akses terhadap pendidikan juga berperan besar.
Dengan demikian, pesan novel ini tidak berhenti pada ajakan untuk pantang menyerah. Cerita Dahlan juga mengundang pembaca untuk memikirkan keadaan sosial yang membuat kebutuhan sederhana terasa sulit dijangkau oleh sebagian anak.
Jangan Sampai Kita Melupakan Mimpi Kecil
Bagi saya, Sepatu Dahlan adalah novel yang membuat pembaca mempertanyakan kembali arti sebuah keinginan. Kita sering menganggap bahwa sepatu, seragam, atau perlengkapan sekolah merupakan hal biasa. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya.
Membaca perjuangan Dahlan membuat saya berpikir bahwa keinginan seorang anak seharusnya tidak langsung dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan. Bisa jadi, benda yang tampak sederhana bagi seseorang justru menjadi simbol kesempatan bagi orang lain. Sepatu yang diinginkan Dahlan bukan hanya tentang penampilan, melainkan juga tentang keinginannya menjalani kehidupan sebagai seorang anak yang ingin belajar dan memiliki masa depan.
Saya juga melihat bahwa novel ini mengajarkan pentingnya memahami keadaan orang lain sebelum memberikan penilaian. Kita tidak selalu mengetahui alasan seseorang bertindak atau mengapa ia harus mengorbankan sesuatu yang sebenarnya diinginkan. Di balik sikap yang terlihat sederhana, mungkin ada tanggung jawab dan persoalan keluarga yang tidak pernah diceritakan.
Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian: perjuangan anak-anak tidak seharusnya selalu dijadikan alasan untuk membiarkan mereka menghadapi kesulitan sendirian. Anak memang dapat belajar mandiri melalui pengalaman, tetapi mereka tetap membutuhkan perlindungan, perhatian, dan kesempatan untuk tumbuh dengan baik.
Karena itu, saya memandang Sepatu Dahlan bukan hanya sebagai cerita tentang seorang anak yang berusaha mendapatkan sepatu. Novel ini juga mengajak kita memahami bahwa setiap mimpi memiliki latar belakangnya sendiri. Ada mimpi yang mudah diwujudkan, ada yang harus menunggu, dan ada pula yang tumbuh dari keadaan yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya.
Pada akhirnya, yang membuat novel ini berkesan bukan sekadar apakah Dahlan berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang lebih penting adalah bagaimana perjalanan tersebut memperlihatkan hubungan antara harapan, keluarga, pendidikan, dan kesempatan hidup.
Mungkin, setelah membaca kisah Dahlan, kita akan memandang sepasang sepatu dengan cara yang sedikit berbeda. Bukan lagi hanya sebagai benda yang dipakai untuk berjalan, melainkan sebagai pengingat bahwa di balik keinginan sederhana seorang anak, bisa tersimpan perjuangan panjang yang tidak diketahui siapa-siapa.
Sebab, bagi sebagian orang, sepatu hanyalah alas kaki. Namun, bagi seorang anak yang terus berusaha di tengah keterbatasan, sepatu bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga mimpinya tetap hidup.
Identitas novel
Judul: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Genre: Novel inspiratif dan keluarga
Tema: Perjuangan hidup, pendidikan, keluarga, kemiskinan, dan harapan
