Mengapa Karyawan Baru Cepat Keluar? Pentingnya Perencanaan SDM Sejak Awal

Safira Muliana Sari Sebagai Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Safira Mulianasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karyawan merupakan salah satu bagian penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Sebagus apa pun produk yang ditawarkan, perusahaan tetap membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjalankan kegiatan operasional dengan baik. Namun, tidak semua perusahaan berhasil mempertahankan karyawan barunya. Ada karyawan yang baru bekerja beberapa minggu atau bulan, tetapi sudah memutuskan untuk keluar. Situasi ini bisa menjadi masalah bagi perusahaan, terutama jika terjadi berulang kali. Perusahaan harus kembali membuka lowongan, menyeleksi calon tenaga kerja, dan memberikan pelatihan kepada karyawan pengganti. Di sisi lain, pekerjaan yang ditinggalkan bisa menambah beban karyawan lain dan mengganggu kelancaran operasional. Kondisi tersebut tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemauan karyawan untuk bekerja. Ada kemungkinan pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan kemampuan atau harapan mereka, arahan dari atasan kurang jelas, atau proses penyesuaian di tempat kerja belum berjalan dengan baik. Karena itu, perencanaan sumber daya manusia (SDM) perlu diperhatikan sejak awal. Perusahaan bukan hanya perlu mencari orang untuk mengisi posisi kosong, tetapi juga memastikan bahwa karyawan yang diterima memahami pekerjaannya dan mendapatkan dukungan yang memadai.
Mengapa Karyawan Baru Bisa Cepat Keluar? Salah satu penyebab yang perlu diperhatikan adalah ketidaksesuaian antara gambaran pekerjaan saat rekrutmen dan kondisi sebenarnya. Calon karyawan mungkin membayangkan tugas yang sederhana, tetapi setelah mulai bekerja ternyata tanggung jawabnya lebih banyak atau membutuhkan kemampuan yang belum dikuasai. Sebagai contoh, seseorang diterima sebagai staf administrasi dengan tugas utama mengelola dokumen. Setelah bekerja, ia ternyata juga harus menangani laporan, melayani pelanggan, dan menyelesaikan pekerjaan lain tanpa penjelasan yang cukup. Jika kondisi ini tidak dibicarakan sejak awal, karyawan bisa merasa kesulitan menyesuaikan diri. Masalah lain adalah pembagian tugas yang kurang jelas. Karyawan baru membutuhkan arahan mengenai pekerjaan yang harus diprioritaskan, standar hasil yang diharapkan, serta pihak yang dapat dihubungi ketika menghadapi kendala. Tanpa penjelasan tersebut, pekerjaan bisa menjadi lebih lambat dan kesalahan lebih mudah terjadi. Lingkungan kerja juga perlu diperhatikan. Hubungan dengan rekan kerja, komunikasi dengan atasan, serta kenyamanan dalam menjalankan tugas dapat memengaruhi pengalaman karyawan selama bekerja. Ketika karyawan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan dukungan, keinginan untuk mencari pekerjaan lain bisa muncul. Hal-hal tersebut bukan berarti setiap karyawan yang keluar pasti mengalami masalah yang sama. Perusahaan perlu mencari tahu alasan sebenarnya melalui evaluasi dan komunikasi dengan karyawan, bukan hanya membuat kesimpulan berdasarkan dugaan.
Pentingnya Perencanaan SDM Sejak Awal Perencanaan SDM membantu perusahaan memperkirakan kebutuhan tenaga kerja, menentukan kemampuan yang diperlukan, dan menyiapkan pembagian pekerjaan. Proses ini sebaiknya dilakukan sebelum perusahaan membuka lowongan agar perekrutan memiliki tujuan yang jelas. Langkah pertama adalah memahami kebutuhan pekerjaan. Perusahaan perlu menentukan berapa banyak karyawan yang dibutuhkan, apa tanggung jawab setiap posisi, serta keterampilan apa yang harus dimiliki. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya mengejar posisi agar cepat terisi, tetapi juga mempertimbangkan kesesuaian calon karyawan dengan pekerjaan. Langkah berikutnya adalah menyampaikan informasi pekerjaan secara terbuka. Penjelasan mengenai tugas, jam kerja, sistem upah, dan aturan perusahaan perlu diberikan sejak proses rekrutmen. Informasi yang jelas membantu calon karyawan memahami kondisi pekerjaan sebelum memutuskan untuk bergabung. Setelah karyawan diterima, perusahaan perlu menyiapkan pengenalan kerja atau orientasi. Kegiatan ini dapat mencakup pengenalan lingkungan kerja, penjelasan prosedur operasional, pembagian tugas, serta informasi mengenai aturan yang berlaku. Perusahaan juga dapat menunjuk atasan atau karyawan senior untuk mendampingi karyawan baru selama masa awal bekerja. Pendampingan tidak harus dilakukan secara rumit. Penjelasan singkat sebelum bekerja, kesempatan bertanya, dan evaluasi setelah menyelesaikan tugas dapat membantu karyawan memahami tanggung jawabnya secara bertahap.
Kesesuaian Pekerjaan dan Lingkungan Kerja Perlu Dievaluasi
Karyawan yang memiliki kemampuan sesuai dengan pekerjaannya belum tentu langsung merasa nyaman. Mereka tetap membutuhkan lingkungan yang mendukung, komunikasi yang jelas, dan kesempatan untuk memahami cara kerja perusahaan.
Kesesuaian antara kemampuan seseorang dan pekerjaan yang dijalankan dikenal sebagai person-job fit. Jika pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik karyawan, proses menjalankan tugas dapat menjadi lebih mudah. Sebaliknya, ketidaksesuaian pekerjaan dapat menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi ketika karyawan mengalami kesulitan.
Selain itu, perusahaan perlu memperhatikan kepuasan kerja. Karyawan yang merasa tugasnya tidak jelas, sulit memperoleh bantuan, atau mengalami kendala berulang membutuhkan ruang untuk menyampaikan masalah. Perusahaan dapat menggunakan masukan tersebut untuk memperbaiki pembagian tugas dan cara kerja tim.
Evaluasi seperti ini penting agar perusahaan tidak langsung menyalahkan karyawan ketika hasil pekerjaan belum sesuai harapan. Ada kemungkinan karyawan masih membutuhkan pelatihan, penjelasan tambahan, atau penyesuaian dalam pelaksanaan tugas.
Hasil Penelitian tentang Keinginan Karyawan untuk Keluar
Hubungan antara kesesuaian pekerjaan, lingkungan kerja, kepuasan kerja, dan keinginan karyawan untuk keluar dibahas dalam penelitian Aditya Sendi Pratama, Rifdah Abadiyah, dan Dewi Andriani yang diterbitkan pada 2026 di Jurnal Disrupsi Bisnis, yang tersedia melalui situs jurnal Universitas Pamulang.
Penelitian berjudul Pengaruh Person Job Fit, Lingkungan Kerja, dan Kepuasan Kerja terhadap Turnover Intention Karyawan pada CV Citra Karya Abadi tersebut menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 65 karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
Salah satu hasil yang dilaporkan adalah nilai R-square sebesar 0,784 atau 78,4%. Angka tersebut menunjukkan bahwa variabel kesesuaian pekerjaan, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja secara bersama-sama dapat menjelaskan 78,4% variasi turnover intention dalam model penelitian. Sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut dalam model.
Hasil ini memberikan gambaran bahwa keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan dapat dikaji melalui beberapa aspek yang berkaitan dengan pengalaman mereka di tempat kerja. Perusahaan karena itu perlu memperhatikan kesesuaian pekerjaan, kondisi lingkungan kerja, dan kepuasan karyawan ketika mengevaluasi pengelolaan SDM.
Namun, penelitian ini dilakukan pada satu perusahaan dan tidak secara khusus meneliti karyawan baru. Hasilnya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh perusahaan atau membuktikan bahwa perencanaan SDM menjadi satu-satunya penyebab karyawan bertahan maupun keluar. Penelitian tersebut lebih tepat digunakan sebagai referensi untuk memahami pentingnya mengevaluasi berbagai faktor yang berkaitan dengan keinginan karyawan meninggalkan pekerjaan.
Sumber penelitian:
Pratama, A. S., Abadiyah, R., & Andriani, D. (2026). Pengaruh Person Job Fit, Lingkungan Kerja, dan Kepuasan Kerja terhadap Turnover Intention Karyawan pada CV Citra Karya Abadi. Jurnal Disrupsi Bisnis, 9(2), 300–314.
DOI: https://doi.org/10.32493/drb.v9i2.59178
Dampak Pergantian Karyawan terhadap Operasional Bisnis Ketika karyawan keluar, perusahaan perlu menyesuaikan kembali pembagian pekerjaan. Tugas yang sebelumnya ditangani satu orang bisa dialihkan sementara kepada karyawan lain. Jika pengganti belum tersedia, beberapa pekerjaan berisiko tertunda atau tidak selesai sesuai jadwal. Perusahaan juga perlu mengeluarkan waktu dan biaya untuk mengulang proses perekrutan dan pelatihan. Biaya tersebut bukan hanya berkaitan dengan iklan lowongan atau proses seleksi, tetapi juga waktu yang digunakan atasan dan karyawan senior untuk membantu tenaga kerja baru beradaptasi. Dalam usaha kecil, dampaknya dapat terasa lebih besar karena jumlah karyawan biasanya terbatas. Ketika satu orang keluar, pekerjaan yang ditinggalkan mungkin langsung memengaruhi kegiatan harian. Oleh sebab itu, pengelolaan SDM perlu menjadi bagian dari perencanaan bisnis, bukan hanya dilakukan ketika perusahaan sedang kekurangan tenaga kerja. Meskipun perencanaan yang baik tidak menjamin seluruh karyawan akan bertahan, perusahaan dapat mengurangi masalah yang sebenarnya bisa dicegah melalui proses penerimaan yang jelas, pelatihan yang sesuai, dan komunikasi yang terbuka. Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan? Perusahaan dapat memulai perbaikan dengan mengevaluasi alasan karyawan baru mengundurkan diri. Informasi dapat diperoleh melalui percakapan langsung atau wawancara saat karyawan akan keluar. Pertanyaan sederhana mengenai kesesuaian pekerjaan, kejelasan tugas, pelatihan, dan kondisi kerja dapat membantu perusahaan memahami masalah yang terjadi. Selain itu, perusahaan perlu menyusun deskripsi pekerjaan yang jelas, memberikan arahan sebelum karyawan mulai bekerja, serta melakukan evaluasi selama masa awal bekerja. Atasan juga sebaiknya memberikan kesempatan kepada karyawan baru untuk bertanya dan menyampaikan kesulitan tanpa merasa takut disalahkan. Bagi usaha kecil, langkah tersebut tidak harus menggunakan sistem yang rumit. Pembagian tugas secara tertulis, pengarahan sebelum bekerja, pendampingan oleh karyawan senior, dan evaluasi singkat secara berkala sudah dapat menjadi awal yang baik. Hasil evaluasi kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki proses rekrutmen dan pengelolaan tenaga kerja. Dengan cara ini, perusahaan tidak hanya mencari pengganti ketika karyawan keluar, tetapi juga berusaha mencegah masalah serupa terjadi berulang kali. Kesimpulan Karyawan baru yang cepat keluar bukan hanya persoalan mencari tenaga kerja pengganti. Kondisi tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan untuk memperbaiki perencanaan SDM sejak awal. Dengan memahami kebutuhan tenaga kerja, memberikan informasi pekerjaan yang jelas, dan menyiapkan proses adaptasi yang baik, perusahaan dapat mengurangi risiko ketidaksesuaian antara karyawan dan pekerjaan. Perencanaan SDM yang tepat membantu operasional berjalan lebih lancar sekaligus mendukung keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.
