Konten dari Pengguna

Strategi Mengembangkan Bisnis Makanan agar Menarik Minat Konsumen

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Safira Mulianasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com

Memulai bisnis makanan sering kali berawal dari hal sederhana, seperti mencoba resep sendiri, menjual camilan kepada teman, atau menawarkan makanan kepada tetangga. Namun, ketika usaha mulai berjalan, muncul tantangan baru. Produk yang awalnya laris belum tentu terus diminati karena semakin banyak pesaing yang menawarkan makanan serupa. Kondisi ini membuat pelaku usaha perlu memikirkan cara agar produknya tidak hanya dikenal, tetapi juga membuat konsumen tertarik untuk membeli kembali.

Strategi Mengembangkan Bisnis Makanan menjadi hal penting bagi pelaku usaha yang ingin bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner. Menurut saya, rasa memang menjadi alasan utama seseorang mencoba makanan, tetapi bukan satu-satunya alasan untuk menjadi pelanggan tetap. Kualitas, harga, pelayanan, tampilan produk, hingga cara penjual memperkenalkan usahanya juga ikut memengaruhi keputusan konsumen. Produk Enak Saja Belum Cukup untuk Menarik Konsumen Rasa memang menjadi salah satu alasan seseorang membeli makanan. Namun, pengalaman konsumen tidak berhenti pada rasa saja. Harga, ukuran porsi, kebersihan, kemasan, dan pelayanan juga ikut memengaruhi penilaian mereka. Misalnya, ada dua penjual dimsum yang menawarkan produk dengan harga hampir sama. Penjual pertama memiliki rasa yang enak, tetapi ukuran produknya tidak konsisten dan kemasannya kurang rapi. Sementara itu, penjual kedua menjaga rasa, memberikan kemasan yang bersih, dan melayani pembeli dengan ramah. Konsumen tentu akan mempertimbangkan pengalaman mereka sebelum memutuskan membeli kembali. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas produk perlu dijaga secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan cita rasa. Pelaku usaha juga perlu memastikan bahan baku yang digunakan tetap baik dan proses pengolahan dilakukan secara bersih. Jangan sampai makanan yang terlihat menarik saat dipromosikan ternyata tidak sesuai dengan harapan ketika diterima konsumen. Ciptakan Ciri Khas agar Mudah Diingat Di tengah banyaknya pilihan makanan, memiliki ciri khas bisa menjadi nilai tambah bagi sebuah usaha. Konsumen akan lebih mudah mengingat produk yang mempunyai sesuatu yang membedakannya dari pesaing. Ciri khas tidak harus berupa makanan yang benar-benar baru. Pelaku usaha bisa mengembangkan produk yang sudah dikenal dengan memberikan variasi rasa, pilihan topping, ukuran porsi, atau kemasan yang berbeda. Contohnya, penjual pisang cokelat dapat menawarkan beberapa pilihan topping, sedangkan usaha minuman bisa menghadirkan varian rasa yang sesuai dengan selera konsumennya. Hal sederhana seperti ini dapat membuat produk memiliki daya tarik tersendiri. Namun, mengikuti tren juga perlu dipertimbangkan dengan baik. Tidak semua makanan yang sedang viral cocok dijadikan produk utama. Pelaku usaha sebaiknya melihat apakah tren tersebut sesuai dengan target pasar dan kemampuan produksinya. Media Sosial Bisa Membantu Bisnis Makanan Lebih Dikenal Sekarang, konsumen tidak harus datang langsung ke toko untuk mengenal sebuah produk. Mereka bisa menemukan makanan baru melalui unggahan Instagram, video TikTok, status WhatsApp, atau rekomendasi dari orang lain. Karena itu, media sosial dapat menjadi sarana promosi yang cukup penting bagi pelaku usaha makanan, terutama usaha kecil yang memiliki anggaran pemasaran terbatas. Konten yang dibuat pun tidak harus selalu menggunakan peralatan profesional. Pelaku usaha bisa memulai dengan mengunggah foto produk, video proses pembuatan, informasi harga, hingga testimoni pelanggan. Misalnya, video singkat ketika saus dituangkan ke atas makanan atau ketika makanan baru selesai dimasak dapat membuat calon pembeli lebih tertarik untuk melihat produk tersebut. Informasi mengenai lokasi, cara pemesanan, dan harga juga sebaiknya dicantumkan agar calon konsumen tidak kesulitan mencari informasi. Hal yang tidak kalah penting adalah konsistensi. Akun usaha yang hanya aktif ketika ingin memberikan promo mungkin akan lebih sulit membangun hubungan dengan pengikutnya. Sebaliknya, unggahan yang rutin dan informatif dapat membantu konsumen mengenali produk secara bertahap. Hasil Penelitian Promosi Media Sosial Memengaruhi Minat Beli Peran media sosial dalam pengembangan bisnis kuliner juga dibahas dalam penelitian Harjun dan Dila Lestari yang diterbitkan pada 2026 di ALTAMKIN: Jurnal Ekonomi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat. Penelitian berjudul Strategi Pemasaran Digital dan Analisis Potensi Pengembangan UMKM Kuliner Berbasis Bahan Lokal tersebut menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode survei. Penelitian melibatkan 25 responden, yang terdiri dari tiga pelaku UMKM dan 22 konsumen. Objek penelitiannya mencakup tiga usaha kuliner, yaitu Dimsumku, Favorito Bakar, dan Pentol Kuah. Salah satu hasil yang menarik adalah sebanyak 90% responden menyatakan bahwa promosi melalui media sosial memengaruhi minat beli mereka terhadap produk UMKM kuliner. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa TikTok menjadi platform yang paling banyak digunakan responden, yaitu sebesar 50%, disusul Instagram sebesar 35%. Temuan ini memberikan gambaran bahwa media sosial dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk kepada calon konsumen. Foto makanan, video singkat, dan informasi promosi bisa menjadi cara untuk menarik perhatian sebelum seseorang memutuskan membeli. Meski begitu, hasil penelitian ini perlu dipahami sesuai ruang lingkupnya. Jumlah responden hanya 25 orang dan objek penelitian berada di sekitar lingkungan kampus Universitas Halu Oleo. Karena itu, angka 90% tersebut tidak bisa langsung dianggap mewakili seluruh konsumen atau semua bisnis makanan di Indonesia. Sumber penelitian: Harjun, H., & Lestari, D. (2026). Strategi Pemasaran Digital dan Analisis Potensi Pengembangan UMKM Kuliner Berbasis Bahan Lokal. ALTAMKIN: Jurnal Ekonomi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, 2(2), 148–163. Harga dan Pelayanan Juga Menentukan Pilihan Pembeli Selain kualitas dan promosi, harga menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan bisnis makanan. Konsumen biasanya membandingkan harga dengan rasa, porsi, dan kualitas yang mereka dapatkan. Pelaku usaha perlu menghitung biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, serta biaya operasional sebelum menentukan harga jual. Dengan begitu, harga yang ditetapkan tetap sesuai dengan kemampuan konsumen tanpa membuat usaha kesulitan memperoleh keuntungan. Promo seperti paket hemat, potongan harga pada pembelian tertentu, atau bonus produk juga bisa digunakan untuk menarik perhatian pembeli. Namun, pemberian diskon sebaiknya tetap memperhitungkan keuntungan agar tidak merugikan usaha. Pelayanan pun tidak boleh diabaikan. Konsumen yang mendapatkan respons cepat, pesanan sesuai permintaan, dan pelayanan ramah biasanya memiliki pengalaman yang lebih baik. Sebaliknya, pesanan yang sering terlambat atau informasi harga yang tidak jelas dapat membuat pembeli enggan kembali. Dengarkan Konsumen, Jangan Hanya Mengikuti Tren Salah satu cara mengembangkan bisnis makanan adalah memperhatikan tanggapan pelanggan. Kritik dan saran bisa menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Misalnya, ketika beberapa pembeli mengeluhkan kemasan yang mudah bocor, pelaku usaha dapat mencoba kemasan lain. Jika konsumen merasa porsinya terlalu kecil, ukuran produk bisa dievaluasi dengan tetap memperhitungkan biaya produksi. Pelaku usaha juga dapat melakukan survei sederhana melalui media sosial atau bertanya langsung kepada pelanggan. Cara ini membantu mereka memahami selera konsumen tanpa harus mengeluarkan biaya penelitian yang besar. Menurut saya, mendengarkan konsumen sering kali lebih bermanfaat daripada terus-menerus mengikuti tren yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan pasar. Sebab, produk yang disukai pelanggan bukan hanya produk yang sedang ramai dibicarakan, tetapi juga yang mampu memberikan pengalaman sesuai harapan mereka. Bisnis Makanan Berkembang karena Konsumen Mau Kembali Mengembangkan bisnis makanan bukan hanya tentang membuat produk menjadi viral atau mendapatkan banyak pembeli dalam waktu singkat. Pelaku usaha juga perlu membangun kepercayaan agar konsumen tidak hanya membeli sekali, tetapi bersedia datang kembali. Kualitas yang konsisten, ciri khas produk, harga yang sesuai, promosi yang menarik, dan pelayanan yang baik perlu berjalan bersama. Jika salah satunya diabaikan, usaha bisa kesulitan mempertahankan pelanggan meskipun produknya pernah ramai dibeli. Pada akhirnya, strategi mengembangkan bisnis makanan membutuhkan konsistensi dalam menjaga kualitas, melakukan inovasi, dan memahami kebutuhan konsumen. Dengan pengelolaan yang tepat, usaha kecil sekalipun memiliki peluang untuk semakin dikenal dan mendapatkan pelanggan tetap.

Menurut saya, keberhasilan bisnis makanan bukan hanya dilihat dari seberapa banyak orang mengenal produknya, tetapi juga dari seberapa banyak konsumen merasa puas dan ingin membelinya kembali. Dari pengalaman positif itulah kepercayaan pelanggan dapat tumbuh dan membantu usaha berkembang dalam jangka panjang.