Konten dari Pengguna

Mahasiswa & Pekerja: Bertahan di Dua Dunia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sagita Seftiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang mahasiswa yang sedang bekerja dari meja belajarnya. Ia tampak serius dan berpikir sambil memegang pena, dikelilingi oleh laptop, planner, secangkir kopi, makanan ringan, dan perlengkapan kerja lainnya. Suasana menggambarkan keseharian mahasiswa yang multitasking antara kuliah dan pekerjaan, dalam lingkungan yang nyaman dan produktif.(https://pixabay.com/id/photos/bekerja-perempuan-kerja-meja-791849/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang mahasiswa yang sedang bekerja dari meja belajarnya. Ia tampak serius dan berpikir sambil memegang pena, dikelilingi oleh laptop, planner, secangkir kopi, makanan ringan, dan perlengkapan kerja lainnya. Suasana menggambarkan keseharian mahasiswa yang multitasking antara kuliah dan pekerjaan, dalam lingkungan yang nyaman dan produktif.(https://pixabay.com/id/photos/bekerja-perempuan-kerja-meja-791849/)

Pernah nggak kamu ngerasa waktu 24 jam sehari itu benar-benar nggak cukup? Aku ngerasain itu hampir setiap hari selama tiga tahun terakhir. Pagi-pagi aku sudah harus berangkat ke kampus, siang mengikuti kelas yang padat, sore sampai malam kerja paruh waktu di sebuah kedai kopi, dan malamnya baru bisa membuka laptop buat mengerjakan tugas kuliah atau nyicil skripsi. Itu pun kalau nggak ketiduran duluan di depan layar. Hidupku seperti siklus tanpa henti — bergerak terus tanpa jeda yang benar-benar jeda.

Banyak orang memuji, “Keren ya, bisa kuliah sambil kerja,” seolah itu hal luar biasa. Tapi yang mereka lihat cuma kulit luarnya saja. Mereka nggak tahu kalau di balik itu semua, ada kelelahan yang menumpuk, tekanan mental yang terus mengintai, dan rasa bersalah ketika salah satu kewajiban harus dikorbankan. Aku pernah ketiduran di angkot karena begadang semalaman mengerjakan tugas, dan nyaris telat masuk kerja. Di hari lain, aku harus izin shift karena ada presentasi kelompok, dan jadi merasa nggak enak sama teman kerja. Di momen-momen seperti itu, aku sadar bahwa tantangan jadi mahasiswa pekerja bukan cuma soal membagi waktu, tapi juga membagi energi, fokus, dan bahkan emosi.

Awalnya aku pikir, selama bisa bikin jadwal harian yang rapi, semuanya akan berjalan baik. Tapi ternyata hidup nggak sesederhana spreadsheet. Aku mulai merasa terjebak dalam rutinitas. Aku sering mengabaikan makan, kurang tidur, dan hampir tidak punya waktu bersosialisasi. Rasanya kayak jalan terus dalam kabut — tahu harus maju, tapi nggak tahu ke mana arahnya. Di titik itu aku mulai belajar: aku harus ubah cara pandangku, bukan sekadar ubah jadwal.

Aku mulai membiasakan diri membuat kalender digital yang berisi seluruh aktivitas harian. Bukan cuma kuliah dan kerja, tapi juga waktu istirahat, makan, bahkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bikin aku bahagia, sekecil apa pun itu. Tapi aku juga nggak terlalu kaku menjalani jadwal itu. Aku kasih ruang kosong di sela-sela waktu padat, sebagai ‘zona fleksibel’ kalau-kalau ada perubahan mendadak atau aku butuh istirahat tambahan. Anehnya, justru dengan jadwal yang fleksibel itu, aku merasa lebih tenang.

Satu hal besar yang aku pelajari dari perjalanan ini adalah pentingnya berani bilang “tidak”. Dulu aku sering merasa nggak enakan. Semua permintaan shift tambahan aku terima, semua ajakan nongkrong aku iyakan, walau tubuh dan pikiranku sudah minta berhenti. Sekarang aku belajar memilah mana yang perlu aku prioritaskan. Kalau lagi ada deadline besar atau ujian, aku berani minta ganti jadwal kerja. Kalau lagi capek banget, aku belajar menolak ajakan kumpul — bukan karena nggak mau, tapi karena aku tahu aku butuh istirahat.

Selain itu, aku juga mulai memanfaatkan waktu-waktu kecil yang dulu sering aku buang percuma. Saat nunggu angkot, antre beli makan, atau istirahat makan siang, aku sempatkan buka catatan kuliah, dengerin podcast, atau bahkan baca ulang bahan presentasi. Mungkin cuma lima belas menit, tapi kalau konsisten, hasilnya terasa. Sedikit demi sedikit, tugas-tugas jadi lebih ringan.

Yang nggak kalah penting: aku belajar buat jujur. Aku mulai berani cerita ke dosen tentang kondisiku sebagai mahasiswa yang juga bekerja. Ternyata, mereka jauh lebih pengertian dari yang aku bayangkan. Pernah satu kali aku telat kumpulin tugas karena lembur, dan dosenku dengan sabar memberi waktu tambahan. Di tempat kerja pun, setelah tahu aku juga mahasiswa aktif, manajerku jadi lebih fleksibel dalam menyusun jadwal shift. Jujur memang butuh keberanian, tapi kadang itu yang membuka ruang pengertian.

Tentu saja, semua ini tetap melelahkan. Aku sering merasa iri melihat teman-teman yang bisa fokus kuliah tanpa harus mikirin soal kerja. Mereka punya waktu lebih banyak buat istirahat, nongkrong, bahkan ikut organisasi. Tapi aku nggak mau terlalu lama tenggelam dalam perbandingan. Dari semua kelelahan ini, aku belajar banyak hal: soal disiplin, manajemen stres, tanggung jawab, dan bagaimana cara menjaga diri agar tetap waras di tengah hidup yang padat.

Aku juga belajar untuk lebih menghargai waktu. Dulu, satu jam terasa biasa saja. Sekarang, satu jam bisa sangat berharga — bisa untuk nyicil tugas, menenangkan diri, atau sekadar tidur sejenak. Hal-hal kecil seperti makan tepat waktu, tidur cukup, dan bisa ngobrol santai dengan teman kini terasa mewah dan menyenangkan.

Kalau kamu juga sedang atau akan menjalani peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja, percayalah: kamu nggak sendirian. Capek itu wajar. Ngerasa stres itu manusiawi. Tapi jangan biarkan dirimu terus-terusan terbakar. Jangan takut minta bantuan. Jangan merasa lemah hanya karena kamu butuh rehat.

Pada akhirnya, jadi mahasiswa pekerja bukan tentang jadi lebih hebat dari yang lain. Tapi tentang bagaimana kita belajar bertahan, tumbuh, dan tetap punya kendali atas hidup kita sendiri. Hidup nggak akan selalu ideal, tapi kita bisa memilih untuk terus belajar dan beradaptasi.

Sukses bukan soal siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling tahu kenapa dia menjalaninya. Dan selama kamu tahu tujuanmu, kamu nggak sedang terlambat — kamu hanya sedang berjalan di jalur yang berbeda.