Konten dari Pengguna

Dakwah Kok "Seadanya"? Yuk, Mulai Profesional!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amar Dani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

fotodok pribadi. pencerahan sedang memberikan tausiyah yang dihadiri ratusan jemaah
zoom-in-whitePerbesar
fotodok pribadi. pencerahan sedang memberikan tausiyah yang dihadiri ratusan jemaah

Pernah nggak sih kamu lagi scrolling di media sosial, lalu nemu konten dakwah yang niatnya baik banget, tapi desainnya bikin sakit mata? Atau mungkin datang ke sebuah kajian yang pematerinya telat satu jam dengan alasan "macet", seolah waktu jamaah nggak berharga?

Sering kali, atas nama "ikhlas", kita memaklumi hal-hal yang tidak teratur. Padahal, niat baik saja nggak cukup. Kalau mau pesan kebaikan kita didengar di tengah hiruk-pikuk konten duniawi yang super keren, kita butuh satu hal: Profesionalisme.

Jangan Kalah Sama Konten "Receh"

Kita harus jujur: konten hiburan dikemas dengan riset mendalam, editing jempolan, dan strategi marketing yang matang. Sementara itu, dakwah kadang masih dikelola dengan prinsip "yang penting tersampaikan".

Kalau kita membawakan pesan yang katanya "paling benar", bukankah seharusnya cara penyampaiannya juga "paling keren"? Profesional dalam berdakwah berarti kita menghargai audiens. Kita riset materinya, kita rapikan visualnya, dan kita jaga kualitas audionya.

Itqan: Standar Kerja Muslim

Dalam Islam, ada istilah itqan—artinya melakukan sesuatu secara totalitas, rapi, dan berkualitas. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah cinta kalau kita melakukan pekerjaan dengan itqan.

Jadi, profesional itu bukan berarti komersil atau mata duitan, ya. Profesional itu artinya:

• On-time: Nggak bikin orang nunggu.

• Update: Paham isu terkini, bukan pakai contoh kasus tahun 90-an terus.

• Empati: Tahu siapa yang diajak bicara. Jangan pakai bahasa langit kalau audiensnya anak nongkrong.

Dakwah adalah "Branding" Agama

fotodokpribadi jemaah serius mendengarkan ceramah agama

Suka atau tidak, setiap kali kita berdakwah, kita sedang membawa nama agama. Kalau kita nggak profesional—misalnya gampang marah di kolom komentar atau menyebar hoax tanpa cross-check—orang bukan cuma benci sama kita, tapi bisa antipati sama agamanya.

Mulai sekarang, yuk ubah mindset. Dakwah itu bukan pekerjaan sampingan yang dikerjakan saat sisa waktu. Dakwah adalah tugas mulia yang layak mendapatkan usaha terbaik kita.

Profesional-lah, karena kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir dengan rapi.