Konten dari Pengguna

Inflasi Terkendali, Daya Beli Terjaga: Ke Mana Arah Ekonomi Indonesia?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsa Audri Febrianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inflasi Terkendali, tetapi Tantangan Ekonomi Masih Ada

Jakarta – Kondisi perekonomian Indonesia pada 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas harga, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mempertahankan daya beli masyarakat. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah inflasi, karena perubahan harga barang dan jasa sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (year-on-year), meningkat dari 3,19% pada Agustus 2026. Sementara itu, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,30%. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% -+ 1%. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga secara umum masih terkendali, meskipun terdapat tekanan dari sejumlah komoditas.

Gambar aktivitas jual beli di pasar tradisional yang mencerminkan kondisi harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat di pasar Indonesia, Jakarta, Hari Jumat, 02 Oktober 2026, Jam: 13:00 WIB. Dok: Salsa Audri (Mahasiswa).

Salah satu faktor yang memengaruhi inflasi adalah kenaikan harga bahan pangan. Harga cabai, beras, telur, dan daging ayam dapat mengalami perubahan akibat kondisi cuaca, distribusi, serta biaya produksi. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, masyarakat dengan pendapatan terbatas biasanya menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dapat meningkat sehingga ruang untuk menabung maupun memenuhi kebutuhan lainnya semakin terbatas.

Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif. BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai 5,45%. Capaian ini memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih bergerak, didukung oleh konsumsi masyarakat, investasi, serta kegiatan produksi di berbagai sektor.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang positif belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Kenaikan angka pertumbuhan tidak secara otomatis berarti daya beli semua rumah tangga meningkat. Masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok menengah bawah masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pokok, membayar biaya pendidikan, serta menghadapi pengeluaran rumah tangga yang terus berubah.

Dewan Ekonomi Nasional dalam laporan September 2026 juga menyoroti bahwa konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi tekanan terhadap daya beli masyarakat menengah bawah meningkat. Hal ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan dan inflasi, tetapi juga perlu memperhatikan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi

Untuk menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia memiliki peran penting melalui kebijakan fiskal dan moneter. Bank Indonesia pada September 2026 mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75%. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Selain kebijakan moneter, pemerintah juga perlu memperhatikan kebijakan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Penguatan distribusi bahan pangan, dukungan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penciptaan lapangan kerja, serta bantuan sosial yang tepat sasaran merupakan beberapa langkah yang dapat membantu menjaga daya beli masyarakat.

Pengendalian inflasi juga membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Perbedaan kondisi produksi, distribusi, dan akses pangan di setiap wilayah membuat tekanan harga tidak selalu sama. Karena itu, kebijakan pengendalian harga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing daerah.

Ke Mana Arah Ekonomi Indonesia Selanjutnya?

Ke depan, perekonomian Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, pergerakan nilai tukar rupiah, perubahan harga komoditas internasional, hingga kemampuan masyarakat dalam menjaga konsumsi. Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Inflasi yang terkendali memang menjadi salah satu modal penting bagi perekonomian nasional. Namun, pengendalian inflasi perlu diikuti dengan peningkatan kesempatan kerja, pendapatan yang layak, serta pemerataan hasil pembangunan. Tanpa hal tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko hanya terlihat baik dalam statistik, sementara sebagian masyarakat masih mengalami kesulitan ekonomi.

Pada akhirnya, arah ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi atau seberapa rendah tingkat inflasi. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Ekonomi yang sehat bukan sekadar ekonomi yang stabil, melainkan juga ekonomi yang mampu memberikan kesempatan dan kesejahteraan yang lebih merata.

Data yang digunakan dalam artikel ini mengacu pada publikasi resmi dapat dilihat di :

  • Inflasi tahunan 3,28% , September 2026

  • Inflasi bulanan 0,30% , September 2026

  • Pertumbuhan ekonomi 5,29% , Triwulan II 2026

  • Pertumbuhan ekonomi kumulatif 5,45% , Semester I 2026

  • BI-Rate 5,75% September 2026

  • Sumber: BPS dan Bank Indonesia.