Konten dari Pengguna

Bank Tidak Hanya Menghadapi Risiko Kredit, Ini Pentingnya Bank Risk Management

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fariza Salsa Nurjanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bank dan keuangan. Sumber: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bank dan keuangan. Sumber: pixabay

Di Balik Layanan Bank yang Kita Gunakan, Ada Risiko yang Harus Dikelola

Ketika menabung, melakukan transfer, membayar tagihan, atau menggunakan mobile banking, nasabah mungkin hanya melihat layanan yang tersedia dan kemudahan dalam bertransaksi. Namun, di balik layanan tersebut terdapat berbagai aktivitas dan risiko yang harus dikelola oleh bank.

Bank tidak hanya berhadapan dengan risiko ketika memberikan kredit. Perubahan kondisi ekonomi, kebutuhan likuiditas, gangguan sistem, kesalahan operasional, hingga perkembangan kondisi global juga dapat memengaruhi kegiatan perbankan.

Di sinilah bank risk management atau manajemen risiko perbankan menjadi penting. Manajemen risiko membantu bank untuk mengenali risiko yang mungkin muncul, mengukur tingkat risikonya, memantau perkembangannya, serta melakukan pengendalian yang diperlukan.

Dengan kata lain, manajemen risiko bukan hanya dilakukan ketika masalah sudah terjadi. Bank perlu memahami risiko sejak awal agar dapat mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih matang.

Risiko Kredit Bukan Satu-Satunya Risiko bagi Bank

Ketika berbicara mengenai risiko bank, salah satu hal yang paling mudah dipahami adalah risiko kredit. Risiko ini dapat terjadi ketika pihak yang menerima kredit tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian.

Misalnya, seseorang mendapatkan kredit untuk mengembangkan usaha. Jika usaha tersebut mengalami penurunan pendapatan dan akhirnya kesulitan membayar cicilan, kondisi tersebut dapat menjadi risiko bagi bank.

Karena itu, bank perlu mempertimbangkan kemampuan calon debitur sebelum memberikan kredit dan melakukan pemantauan terhadap kualitas kredit yang telah disalurkan.

Namun, risiko bank tidak berhenti pada kredit. Bank juga menghadapi risiko likuiditas, yaitu risiko yang berkaitan dengan kemampuan memenuhi kewajiban keuangan ketika dibutuhkan. Ada pula risiko operasional yang dapat muncul akibat masalah dalam proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal.

Selain itu, terdapat risiko pasar, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik, dan risiko kepatuhan. Artinya, kegiatan bank memiliki berbagai jenis risiko yang perlu dikelola secara menyeluruh.

Bagaimana Kondisi Risiko Perbankan Indonesia?

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perbankan Indonesia.

Pada Januari 2026, kredit perbankan tumbuh 9,96 persen secara tahunan (yoy) menjadi sekitar Rp8.557 triliun. Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,48 persen menjadi sekitar Rp10.076 triliun.

Dari sisi kualitas kredit, rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,14 persen, sedangkan NPL net sebesar 0,82 persen. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada 197,92 persen dan rasio permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada 25,87 persen.

OJK menyebut permodalan tersebut menjadi salah satu buffer untuk memitigasi risiko di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa manajemen risiko dapat dilihat melalui berbagai indikator, bukan hanya dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh bank. Kualitas kredit, likuiditas, dan permodalan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Manajemen Risiko Bukan Berarti Menghilangkan Risiko

Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa manajemen risiko bertujuan untuk membuat bank terbebas dari risiko.

Padahal, dalam kegiatan bisnis, risiko tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya. Bank tetap akan menghadapi risiko karena kegiatan perbankan memang berkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana risiko tersebut dapat dikenali dan dikelola sehingga kemungkinan maupun dampaknya dapat dikendalikan.

Karena itu, bank risk management lebih tepat dipahami sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Ketika bank ingin menyalurkan kredit, melakukan ekspansi, menggunakan teknologi baru, atau menjalankan kegiatan lainnya, risiko yang mungkin muncul perlu dipertimbangkan.

Dengan cara tersebut, pertumbuhan bisnis tidak hanya dilihat dari peluang mendapatkan keuntungan, tetapi juga dari kemampuan bank dalam mengelola risiko yang menyertainya.

Risiko Bank Juga Ikut Berkembang Mengikuti Kondisi Global

Perkembangan ekonomi dan hubungan antarnegara membuat risiko yang dihadapi bank juga dapat berubah.

Hal ini terlihat dari regulasi terbaru OJK mengenai Country Risk dan Transfer Risk. Melalui PADK Nomor 10 Tahun 2026, yang ditetapkan pada 21 September 2026 dan mulai berlaku 30 September 2026, OJK mengatur penerapan manajemen risiko Country Risk dan Transfer Risk bagi bank umum.

OJK menjelaskan bahwa sistem keuangan global yang semakin terintegrasi membuat kondisi perbankan domestik dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti gejolak geopolitik, perubahan kebijakan moneter, konflik perdagangan, maupun krisis di negara lain.

Bagi bank yang memiliki eksposur internasional, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Bank perlu mengetahui eksposur yang menghadapi Country Risk dan Transfer Risk, melakukan pengukuran, pemantauan, pengendalian, serta pelaporan sesuai ketentuan.

Hal ini menunjukkan bahwa manajemen risiko perbankan terus berkembang. Risiko yang perlu diperhatikan bank tidak hanya berasal dari aktivitas internal, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi dan keuangan global.

Mengapa Manajemen Risiko Penting bagi Nasabah?

Bagi nasabah, manajemen risiko mungkin terlihat seperti urusan internal bank. Namun, dampaknya dapat berkaitan dengan layanan yang diterima oleh masyarakat.

Nasabah tentu mengharapkan bank mampu menjalankan kegiatan operasionalnya dengan baik, menyediakan layanan yang dapat digunakan, dan mengelola dana serta aktivitas perbankan secara bertanggung jawab.

Karena itu, pengelolaan risiko menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan bank.

Manajemen risiko juga tidak dapat dipisahkan dari tata kelola. Bank membutuhkan proses dan kebijakan yang jelas agar risiko dapat dipantau dan ditangani sesuai dengan tingkat risikonya.

Dengan pengelolaan yang baik, bank dapat lebih siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dalam kegiatan bisnis maupun kondisi eksternal.

Pertumbuhan Bisnis Perlu Diikuti Pengelolaan Risiko

Pertumbuhan bisnis perbankan memang dapat membuka peluang, misalnya melalui peningkatan penyaluran kredit dan bertambahnya layanan kepada masyarakat. Namun, pertumbuhan tersebut juga perlu diikuti dengan kemampuan mengelola risiko.

Data OJK menunjukkan bahwa pada Januari 2026 kredit perbankan tumbuh 9,96 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, OJK juga mencatat NPL gross sebesar 2,14 persen, LCR 197,92 persen, dan CAR 25,87 persen.

Artinya, ketika bank menjalankan fungsi intermediasi dan mengembangkan bisnisnya, terdapat sejumlah indikator yang perlu terus dipantau untuk melihat kondisi risiko dan ketahanan bank.

Hal ini menjadi alasan mengapa manajemen risiko sebaiknya tidak ditempatkan sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan bisnis. Pengelolaan risiko justru perlu menjadi bagian dari proses bank dalam mengambil keputusan.

Jadi, Apa yang Bisa Dipahami dari Bank Risk Management?

Pada akhirnya, kegiatan perbankan tidak dapat dipisahkan dari risiko. Mulai dari risiko kredit, likuiditas, operasional, pasar, hingga risiko yang berkaitan dengan kondisi global, semuanya membutuhkan perhatian.

Bank risk management bukan berarti bank harus menghindari semua risiko. Yang lebih penting adalah bagaimana bank dapat mengetahui risiko yang dihadapi, mengukur dan memantaunya, kemudian mengambil langkah pengendalian yang sesuai.

Bagi masyarakat, proses tersebut mungkin tidak selalu terlihat karena sebagian besar dilakukan di balik layanan perbankan yang digunakan sehari-hari. Namun, pengelolaan risiko merupakan bagian penting untuk mendukung keberlangsungan kegiatan bank.

Karena itu, ketika membicarakan perkembangan perbankan, perhatian tidak cukup hanya diberikan pada pertumbuhan bisnis atau keuntungan. Kemampuan bank dalam memahami dan mengelola risiko juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.