Konten dari Pengguna

Move to Heaven: Ketika Kematian Mengajarkan Cara Menghargai Hidup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsa Vi Sabillah Yudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Poster serial Move to Heaven. Sumber: Netflix
zoom-in-whitePerbesar
Poster serial Move to Heaven. Sumber: Netflix

Meski sering disebut "film" karena ceritanya yang padat dan utuh, Move to Heaven sebenarnya adalah serial drama Korea berdurasi 10 episode yang tayang di Netflix. Mengangkat profesi yang jarang tersentuh media—trauma cleaner, orang yang membersihkan lokasi kematian dan menyampaikan pesan terakhir mendiang kepada keluarga yang ditinggalkan—drama ini berhasil mengubah topik seberat kematian menjadi kisah yang hangat, personal, dan penuh empati.

Judul: Move to Heaven

Genre: Drama, Slice-of-life, Kekeluargaan

Tahun Rilis: 2021

Sutradara: Kim Seong-ho

Penulis Skenario: Yoon Ji-ryeon

Jumlah Episode: 10 Episode

Pemeran Utama: Lee Je-hoon, Tang Jun-sang, Hong Seung-hee

Platform: Netflix

Han Geu-ru, pemuda 20 tahun dengan sindrom Asperger, selama ini menjalankan bisnis keluarga "Move to Heaven" bersama ayahnya—memiliki daya ingat luar biasa yang membuatnya piawai membaca detail-detail kecil di setiap lokasi kematian yang mereka tangani. Hidupnya berubah total ketika sang ayah meninggal mendadak, dan surat wasiat menunjuk seorang paman yang belum pernah ia kenal, Cho Sang-gu—mantan narapidana berwatak keras—sebagai wali barunya. Keduanya dipaksa tinggal serumah dan menjalankan bisnis yang sama selama masa percobaan tiga bulan, meski karakter mereka nyaris bertolak belakang.

Dari sinilah cerita bergulir: setiap episode membawa kasus kematian baru, masing-masing menyimpan kisah yang tidak pernah sempat diceritakan semasa hidup. Lewat kasus-kasus itu, hubungan Geu-ru dan Sang-gu perlahan berubah—dari penuh gesekan menjadi ikatan yang tak terduga hangat, sembari masa lalu Sang-gu sendiri ikut terkuak sedikit demi sedikit.

Kekuatan terbesar Move to Heaven ada pada struktur episodiknya: setiap kasus trauma cleaning menyentuh isu sosial yang berbeda—kecelakaan kerja yang ditutup-tutupi, kekerasan dalam hubungan, hingga pasangan lansia yang tak sanggup lagi menanggung beban hidup. Alih-alih terasa terpisah-pisah, tiap kisah kecil ini justru memperkuat tema besarnya: bahwa di balik setiap kematian, selalu ada kehidupan yang layak didengar. Akting Lee Je-hoon sebagai Sang-gu dan Tang Jun-sang sebagai Geu-ru jadi tulang punggung emosional serial ini—terutama cara Tang Jun-sang membawakan karakter dengan sindrom Asperger secara halus dan tidak berlebihan, tanpa menjadikannya sekadar gimmick.

Drama ini memang dirancang untuk menguras air mata—hampir tiap episode punya momen yang menohok, dan meski akhir ceritanya hangat, perjalanan menuju ke sana tidak pernah terasa murahan atau memaksa. Pesannya tersampaikan dengan tenang: orang-orang di sekitar kita tidak akan selamanya ada, dan itu justru alasan untuk lebih menghargai mereka selagi masih bisa.

Move to Heaven layak ditonton, terutama bagi yang menyukai drama emosional dengan isu sosial yang relevan dan karakter yang berkembang secara meyakinkan. Serial ini mengajarkan bahwa kematian bukan sekadar akhir dari cerita seseorang, tapi juga pengingat betapa berharganya waktu yang masih tersisa bersama orang-orang terdekat. Satu catatan kecil: beberapa episode menyentuh tema berat seperti kekerasan dan kematian akibat penyakit kronis, jadi ada baiknya menontonnya di waktu yang tenang—terutama bagi yang sedang sensitif dengan topik kehilangan.