Ampas Kopi Bukan Sampah: Kenalan dengan Ecopreneurship

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Salwa Nurafifah Septrisnaeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu memperhatikan ke mana perginya ampas dari kopi yang kamu minum hari ini?
Hampir pasti, ke tempat sampah. Di kedai kopi, rumah, atau kantor, ampas yang basah dan cokelat kehitaman itu dibuang tanpa banyak pikir. Padahal, di Indonesia, sisa seduhan ini berpotensi diolah menjadi sabun, briket, hingga kompos. Peluang ini terbuka untuk mahasiswa, anak muda, dan pelaku UMKM yang ingin memulai usaha berbasis lingkungan, atau yang dikenal sebagai ecopreneurship.
Sampah yang Ternyata Tidak Sepele
Indonesia adalah negeri kopi. Menurut BPS dalam Statistik Kopi Indonesia 2022, produksi kopi nasional pada 2022 mencapai sekitar 774,96 ribu ton. Setiap seduhan meninggalkan ampas, dan sampai sekarang belum ada data nasional yang menghitung totalnya.
Sebagai gambaran, Franca dan Oliveira (2022) dalam jurnal Foods memperkirakan sekitar enam juta ton ampas kopi dihasilkan di seluruh dunia setiap tahun. Mereka juga menjelaskan bahwa ampas yang terurai tanpa oksigen, misalnya di tempat pembuangan akhir (TPA), dapat melepaskan gas rumah kaca seperti metana dan karbon dioksida.
Di sisi lain, ampas kopi masih mengandung polisakarida, protein, senyawa fenolik, dan lipid yang bisa dimanfaatkan kembali. Artinya, membuangnya sama dengan membuang bahan baku.
Apa Itu Ecopreneurship?
Istilah ini terdengar rumit, tapi intinya sederhana. Schaltegger (2002) menekankan pentingnya memadukan kepedulian lingkungan dengan kegiatan bisnis. Jadi, ecopreneurship adalah berwirausaha yang tidak hanya mengejar untung, tetapi juga memikirkan dampaknya bagi lingkungan.
Dari Bandung sampai Bogor
Contohnya sudah ada. Di Ujung Berung, Bandung, kedai Koffie Kawan sudah mengolah ampas kopi sejak 2020, menurut publikasi Citarum Harum Pemprov Jawa Barat pada 10 April 2025. Pemiliknya, Muhammad Randy, membuat sabun dari minyak, air, soda api, dan ampas kopi yang berfungsi sebagai penggosok (scrub). Campurannya mengeras sekitar dua hari, lalu didiamkan kurang lebih empat minggu sebelum dipakai. Sebagian ampas lain dijadikan kompos untuk tanaman di kedai.
Di Bogor, tiga pemuda bernama Dimas Aji, Dianto, dan M. Amar mengolah ampas kopi menjadi briket. Berdasarkan publikasi Direktorat Jenderal Perkebunan pada 3 Januari 2023, usaha DAD’COBEAN telah mengolah ampas kopi sejak September 2022. Menurut ANTARA (30 Agustus 2023), usaha ini bermula dari tugas kuliah. Ampas kopi dikeringkan, dicampur dengan perekat seperti tepung tapioka, lalu dipres menjadi bahan bakar padat.
Dalam publikasi Direktorat Jenderal Perkebunan pada Januari 2023, briket ampas kopi tersebut ditawarkan Rp15.000 per kilogram, meskipun pemasarannya saat itu masih dalam tahap pengembangan. Tentu saja, harga tersebut merupakan informasi pada saat pemberitaan, bukan harga pasar saat ini.
Menurut saya, ada alasan praktis di balik pilihan sabun dan briket. Sabun memanfaatkan tekstur ampas, sedangkan briket memanfaatkan potensinya sebagai bahan bakar. Satu limbah, dua kebutuhan.
Tapi Jangan Buru-buru Euforia
Bahan baku murah tidak otomatis membuat usaha untung. Ada biaya pengumpulan, pengeringan, peralatan, bahan tambahan, pengemasan, dan pemasaran yang harus dihitung. Produk juga harus sesuai kebutuhan pembeli.
Soal keamanan pun tidak bisa dianggap remeh. Sabun harus memenuhi ketentuan keamanan dan perizinan, dan keamanannya bergantung pada formulasi yang tepat, bukan sekadar lama didiamkan. Briket perlu diuji kualitas pembakarannya dan dampak emisinya.
Memakai limbah juga tidak otomatis membuat usaha ramah lingkungan. Energi untuk pengeringan, bahan tambahan, dan transportasi tetap harus diperhitungkan. Prinsip ini sejalan dengan ekonomi sirkular, yaitu menjaga nilai sumber daya selama mungkin melalui pengurangan limbah, penggunaan kembali, dan pengolahan menjadi produk baru.
Mulai dari Mana?
Langkah awalnya bisa dimulai dari skala kecil, yaitu mengumpulkan ampas dari kedai di sekitar, membuat contoh produk, lalu menguji kualitas dan respons pembeli. Untuk menilai berhasil atau tidaknya, cukup pakai tiga ukuran sederhana: berapa banyak ampas yang berhasil dimanfaatkan kembali, apakah hasil penjualan menutup biaya produksi, dan bagaimana respons konsumen terhadap produk.
Kedai kopi bisa mulai dengan memilah ampas dari sampah lain. Mahasiswa bisa menjadikannya proyek kewirausahaan. UMKM bisa mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar. Kalau ketiganya bekerja sama, pengelolaan limbah akan jauh lebih rapi.
Menurut saya, inilah peluang yang perlu mulai dilirik anak muda. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol. Mengolah yang selama ini dibuang juga inovasi, selama dilakukan dengan perencanaan dan tanggung jawab.
Barangkali, peluang bisnis berikutnya tidak datang dari sesuatu yang baru. Bisa jadi, ia tersisa di dasar secangkir kopi yang baru saja kamu habiskan.
