Konten dari Pengguna

Sunyi di Tengah Keramaian: Cerita Perpustakaan Keliling yang Diabaikan Pembaca

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mokhammad Samsul Arif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, suasana di sekitar alun-alun kota begitu hidup. Seperti minggu biasanya, riuh keramaian Car Free Day (CFD) menyapu setiap sudut taman. Ada warga yang begitu bersemangat mengucurkan keringat lewat lari-lari kecil, ada yang sekadar jalan santai, hingga mereka yang asyik berburu kuliner pagi. Di sudut dalam alun-alun, tepat pukul 06.00 WIB, alunan musik bertempo cepat memandu puluhan orang berbaris rapi menggerakkan badan dalam sesi senam aerobik gratis. Tak jauh dari sana, ketukan stik dari sekelompok perempuan yang sedang “menggandrungi” pound fit makin meramaikan suasana.

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas positif warga menikmati akhir pekan, ada satu pemandangan di sudut taman kota yang mendadak menyentil perasaan. Pemandangan itu datang dari sebuah mobil van putih bertuliskan “Perpustakaan Keliling” yang terparkir rapi.

Anehnya, keberadaan mobil perpustakaan ini seolah memancarkan kesunyian di tengah riuhnya taman. Rak-rak bukunya terbuka lebar, menawarkan bacaan secara cuma-cuma. Namun, sejak dinginnya udara pagi hingga mentari mulai menghangatkan kulit, tak satupun pengunjung yang singgah. Boro-boro duduk membaca, sekadar mampir judul buku pun tidak ada.

Mobil perpustakaan keliling itu seolah berdiri canggung, berada di tempat yang ramai namun seolah terasingkan. Pemandangan ini menghadirkan simpati mendalam bagi para petugas perpustakaan yang tetap setia bersiap lama disana. Lantas, apakah program ini salah?

Tentu saja tidak. Niat pemerintah menyediakan akses bacaan gratis di ruang publik adalah langkah yang patut diapresiasi. Namun, fenomena ini bagai cermin jernih yang merefleksikan betapa timpangnya realitas literasi di tengah masyarakat kita. Memang, kita tidak bisa memaksa orang yang berniat olahraga atau sekadar kulineran untuk tiba-tiba duduk manis membaca buku. Tapi, sepinya peminat ini memendam sebuah problematika yang jauh lebih dalam.

Secara historis, bangsa kita memang tidak tumbuh dalam tradisi membaca buku yang kuat. Di masa lalu, buku dan sekolah hanya dapat diakses oleh segelintir kaum menengah ke atas dan kalangan terdidik. Sebagian besar masyrakat kala itu lebih disibukkan oleh perjuangan mengejar isi perut.

Ketika era kemerdekaan tiba, proses menuju masyarakat terdidik tidak serta-merta terjadi secara merata. Belum sempat budaya literasi mengakar kuat, masyarakat kita justru langsung melompat ke era informasi cepat. Budaya membaca kata demi kata dan meresapi makna buku terkikis sebelum menjadi habitus.

Sempat ada napas segar dan gairah literasi melalui minat baca yang mekar di awal tahun 2000-am pasca-reformasi. Sayangnya, gairah itu perlahan meredup seiring gempuran media sosial. Kini masyarakat-terutama generasi muda-lebih menyukai literasi instan lewat konten-konten pendek yang dikemas menarik, meski tak jarang konten tersebut dangkal dan minim bobot pengetahuan.

Namun, menyalahkan masyarakat sepenuhnya juga bukanlah hal yang bijak. Evaluasi besar justru perlu dilakukan oleh pihak pengelola program. Perpustakaan keliling tak boleh sekadar hadir sebagai formalitas pencapaian program kerja tanpa ruh di dalamnya.

Jika mengamati koleksi buku yang dipajang di rak mobil perpustakaan keliling, mayoritas masih didominasi oleh buku-buku terbitan lama dengan tema yang terkesan kaku dan monoton. Bagaimana mungkin kita bisa menarik minat anak muda jika bacaan yang disajikan kurang relevan dengan dunia mereka?

Pemerintah dan dinas terkait harus lebih peka membaca kebutuhan zaman, agar mobil perpustakaan keliling tak lagi sepi bak kuburan di tengah keramaian. Salah satunya adalah dengan merotasi dan meng-update koleksi buku secara berkala. Menghadirkan buku-buku populer, berkualitas, eksklusif, serta buku-buku yang mungkin sulit dibeli masyarakat karena harganya mahal mungkin bisa menjadi magnet bagi para pembaca.

Jika ingin menyasar segmen anak muda dan keluarga muda yang sedang menghabiskan waktu minggu pagi, maka penting menyediakan bacaan yang memikat mata dan pikiran mereka. Isi rak harus berevolusi dengan isian novel-novel remaja populer, buku pengembangan diri, sains populer, dasar-dasar teknologi, pemikiran kritis, hingga buku cerita anak bergambar interaktif.

Menumbuhkan minat baca memang bukan urusan sulap semalam. Ini adalah maraton panjang yang membutuhkan kepekaan dan pendekatan yang relevan. Jangan sampai niat mulia mendekatkan buku ke masyarakat justru berakhir menjadi pajangan bisu di sudut alun-alun kota.

Perpustakaan Keliling Disalah Satu Sudut Alun-Alun Kota Mojokerto. Dok. Pribadi