Konten dari Pengguna

Ketika Siswa Sulit Diatur, Mengajar dan Mendidik Menjadi Ujian Pengabdian Guru

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Samsul Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru sedang mendampingi siswa dalam proses pembelajaran di kelas. (Sumber: Samsul Arifin)
zoom-in-whitePerbesar
Guru sedang mendampingi siswa dalam proses pembelajaran di kelas. (Sumber: Samsul Arifin)

Menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, lalu memberikan tugas kepada siswa. Ada tanggung jawab yang lebih besar di balik profesi ini: mendampingi anak-anak memahami kehidupan, membangun karakter, dan menemukan potensi dirinya.

Namun, menjalankan tanggung jawab tersebut tidak selalu mudah. Ada kalanya guru menghadapi siswa yang tertidur saat pelajaran berlangsung, tidak memperhatikan penjelasan, atau sulit diarahkan meskipun sudah diingatkan berkali-kali. Dalam situasi seperti itu, kesabaran guru benar-benar diuji.

Guru mungkin telah menyiapkan materi, menyusun metode pembelajaran, dan berharap siswa mengikuti pelajaran dengan baik. Ketika harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan, rasa lelah dan kecewa bisa muncul. Akan tetapi, di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah tugas guru hanya menyampaikan pelajaran, atau juga memahami alasan di balik perilaku siswanya?

Bagi saya, mengajar dan mendidik merupakan dua tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan. Mengajar berkaitan dengan penyampaian ilmu pengetahuan, sedangkan mendidik juga mencakup upaya membangun sikap, kebiasaan, dan tanggung jawab. Keduanya membutuhkan kesabaran, ketegasan, dan kemauan untuk terus belajar.

Memahami Siswa Sebelum Memberikan Penilaian

Salah satu situasi yang kerap menjadi tantangan di kelas adalah ketika siswa tertidur saat pembelajaran berlangsung. Bagi guru yang sedang berusaha menjelaskan materi, keadaan tersebut bisa dianggap sebagai bentuk ketidakseriusan.

Namun, siswa yang tertidur tidak selalu berarti malas belajar. Bisa jadi ia kurang tidur, kelelahan, mengalami kesulitan belajar, atau menghadapi persoalan yang belum diketahui guru.

Karena itu, guru sebaiknya tidak terburu-buru memberikan cap negatif. Langkah pertama yang dapat dilakukan ialah membangunkan siswa secara wajar dan mengajaknya kembali mengikuti pembelajaran. Jika kejadian serupa berulang, guru dapat berbicara secara pribadi setelah pelajaran untuk mencari tahu penyebabnya.

Memahami keadaan siswa bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Guru tetap perlu menegakkan aturan kelas dan menjelaskan pentingnya menghargai proses pembelajaran. Akan tetapi, teguran akan lebih bermakna apabila disertai upaya memahami persoalan yang sedang dihadapi siswa.

Pendekatan seperti ini membantu guru menentukan tindakan yang sesuai. Siswa yang membutuhkan pembiasaan disiplin mungkin memerlukan pengingat dan konsekuensi yang konsisten. Sementara itu, siswa yang menghadapi persoalan tertentu mungkin membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Tegas Tidak Harus Membentak

Tantangan lain muncul ketika siswa sulit diarahkan. Nasihat yang disampaikan berulang kali terkadang belum menunjukkan perubahan. Ada siswa yang mengabaikan tugas, mengganggu teman, atau kurang memperhatikan aturan kelas.

Dalam keadaan seperti itu, guru bisa merasa kehabisan cara. Namun, kemarahan yang tidak terkendali justru berisiko membuat hubungan antara guru dan siswa semakin renggang.

Guru perlu membedakan ketegasan dari kemarahan. Ketegasan berarti menyampaikan aturan dengan jelas, menerapkan konsekuensi secara konsisten, dan memastikan setiap siswa memahami tanggung jawabnya. Sebaliknya, kemarahan yang dilampiaskan melalui kata-kata merendahkan tidak selalu membantu siswa memperbaiki perilaku.

Siswa juga perlu diberi kesempatan untuk menjelaskan keadaannya dan memperbaiki kesalahan. Kesempatan tersebut bukan bentuk pembiaran, melainkan bagian dari proses pendidikan agar siswa memahami akibat tindakannya.

Perubahan perilaku memang tidak selalu terjadi dalam satu kali teguran. Ada siswa yang segera memahami nasihat, tetapi ada pula yang memerlukan pendampingan dan pengulangan. Tugas guru adalah mengevaluasi pendekatan yang digunakan tanpa kehilangan tujuan untuk membantu siswa berkembang.

Meneladani Al-Qur'an dalam Mendidik

Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya menekankan apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya hikmah dan nasihat yang baik. Dalam lingkungan pendidikan, nilai ini dapat diterapkan dengan memilih kata-kata yang tepat, mempertimbangkan keadaan siswa, dan mengarahkan mereka tanpa mempermalukan.

Prinsip kelembutan juga terdapat dalam Surah Ali 'Imran ayat 159. Ayat tersebut menjelaskan sikap lemah lembut Nabi Muhammad saw. kepada orang-orang di sekitarnya serta pentingnya sikap pemaaf dan musyawarah.

Bagi seorang guru, nilai-nilai tersebut dapat menjadi pengingat bahwa ketegasan dan kelembutan bukanlah dua hal yang bertentangan. Guru dapat menegakkan aturan sekaligus menjaga martabat siswa.

Tentu saja, menerapkan nilai kelembutan bukan berarti semua pelanggaran harus dibiarkan. Justru, nasihat yang baik perlu disertai batasan yang jelas agar siswa memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada teguran. Pendidikan berusaha membantu siswa memahami alasan di balik aturan dan belajar bertanggung jawab atas perilakunya.

Guru Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Persoalan siswa di kelas tidak selalu dapat diselesaikan oleh guru seorang diri. Kebiasaan belajar, pola tidur, lingkungan pergaulan, keadaan keluarga, dan kesulitan memahami pelajaran dapat memengaruhi perilaku siswa.

Karena itu, komunikasi antara guru, orang tua, wali kelas, dan pihak sekolah perlu dibangun dengan baik. Jika seorang siswa berulang kali tertidur di kelas, misalnya, sekolah dan keluarga dapat bekerja sama mencari penyebabnya serta menyusun langkah pendampingan yang sesuai.

Guru juga perlu memperoleh dukungan dalam menjalankan tugasnya. Pengelolaan kelas yang baik membutuhkan keterampilan, waktu, sarana, dan kerja sama lingkungan pendidikan. Tidak adil jika seluruh persoalan siswa dibebankan kepada guru tanpa dukungan yang memadai.

Di sisi lain, pengabdian guru tidak seharusnya dimaknai sebagai tuntutan untuk selalu mengalah atau mengabaikan kesejahteraan diri sendiri. Guru juga manusia yang memiliki keterbatasan tenaga, perasaan, dan tanggung jawab keluarga.

Menghargai pengabdian guru berarti memberikan ruang bagi mereka untuk bekerja secara profesional, memperoleh dukungan, dan mengembangkan kemampuan dalam menghadapi beragam karakter siswa.

Perubahan Kecil Juga Bagian dari Keberhasilan

Keberhasilan pendidikan tidak selalu terlihat melalui nilai ujian atau piala yang dibawa pulang siswa. Terkadang, kemajuan justru tampak dalam perubahan sederhana: siswa mulai datang tepat waktu, lebih memperhatikan pelajaran, menyelesaikan tugas, atau berani mengakui kesalahan.

Perubahan tersebut tidak berarti guru harus menurunkan standar kedisiplinan. Sebaliknya, guru perlu mempertahankan harapan yang jelas sambil memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki diri.

Pendidikan merupakan proses yang membutuhkan ketekunan. Guru perlu mengevaluasi cara mengajar, memahami kebutuhan siswa, dan menyesuaikan pendekatan ketika cara sebelumnya belum berhasil.

Pada saat yang sama, siswa juga harus belajar bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri selalu disertai tanggung jawab. Mereka tidak hanya berhak mendapatkan bimbingan, tetapi juga berkewajiban menghormati guru, teman, dan proses pembelajaran.

Di sinilah pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. Guru membimbing, orang tua mendampingi, sekolah menyediakan lingkungan yang mendukung, dan siswa berusaha menjalankan tanggung jawabnya.

Mengajar dengan Ilmu, Mendidik dengan Keteladanan

Menghadapi siswa yang tertidur atau sulit diarahkan memang bukan perkara sederhana. Guru dapat merasa lelah, kecewa, bahkan mempertanyakan apakah upayanya selama ini telah memberikan hasil.

Namun, tantangan tersebut tidak semestinya membuat guru kehilangan tujuan mendidik. Setiap persoalan perlu dihadapi dengan pendekatan yang tepat, perpaduan antara ketegasan dan kelembutan, serta kemauan untuk mengevaluasi diri.

Mengajar dan mendidik adalah pengabdian, tetapi pengabdian bukan berarti bekerja tanpa batas atau membiarkan semua persoalan ditanggung sendiri. Pengabdian perlu berjalan bersama profesionalisme, dukungan lingkungan pendidikan, dan penghargaan terhadap martabat guru maupun siswa.

Pada akhirnya, guru tidak hanya bertugas membuat siswa memahami pelajaran hari ini. Guru juga berupaya menanamkan bekal agar mereka mampu mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan terus memperbaiki diri pada masa depan.

Sebab, keberhasilan seorang pendidik bukan semata-mata terlihat dari seberapa banyak materi yang telah disampaikan, melainkan juga dari upaya membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.