Konten dari Pengguna

Dapur sebagai Ruang Perlawanan Perempuan dalam Drama Bon Appétit, Your Majesty

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sania Maulidayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bon Appetit, Your Majesty (Source: Sania Maulidayanti)
zoom-in-whitePerbesar
Bon Appetit, Your Majesty (Source: Sania Maulidayanti)

Dapur seringkali dikonstruksikan sebagai ruang domestik yang lekat pada peran perempuan. Konstruksi ini merupakan bagian dari sistem masyarakat patriarkal yang menempatkan laki-laki pada posisi lebih tinggi dari perempuan, baik dalam ranah domestik maupun publik. Masyarakat biasanya akan memuji perempuan yang pandai memasak di ranah domestik, tetapi ketika perempuan membawa bakat ini ke ranah profesional, justru apresiasi tersebut jarang mereka dapatkan. Mengapa bisa standar ganda ini terbentuk?

Kritik terhadap standar ganda ini sedikit diceritakan dalam drama korea "Bon Appétit, Your Majesty". Drama yang tayang pada bulan Agustus 2025 ini mengangkat genre fantasi romantis dengan unsur perjalanan waktu dan sejarah. Yeon Ji-yeong seorang chef perempuan di era modern, secara tak terduga terlempar ke era Dinasti Joseon karena sebuah buku resep masak kuno. Berada di lingkungan istana yang penuh aturan, hierarki, dan norma patrialkal yang kuat, Ji-yeong harus bertahan tanpa posisi sosial dan koneksi.

Keahlian Ji-yeong dalam memasak, membuat sang raja yang berkuasa pada saat itu (Raja Yi-Heon) terpukau, sehingga mempercayakan jabatan kepala koki istana kepada Ji-yeong. Namun, keputusan ini mendapat tentangan dari orang-orang istana, terkhusus mereka para koki laki-laki.

Komentar dari koki laki-laki istana untuk Ji-yeong (Source: Sania Maulidayanti)

Scene diatas menunjukkan tentangan dan penolakan dari para koki laki-laki istana atas penunjukan Ji-yeong menjadi kepala koki, yang juga secara otomatis menjadi atasan mereka. Menurut mereka, posisi ini terlalu berat untuk seorang perempuan. Hal ini mencerminkan ruang gerak perempuan sangat terbatas pada masa itu, terutama pada posisi yang melibatkan kekuasaan dan pengaruh. Era Joseon dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme, yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, sementara perempuan terbatas hanya pada tugas domestik. Oleh karenanya, penolakan tersebut diartikan bahwa perempuan tidak layak mendapatkan posisi strategis di lingkungan istana. Umumnya peran perempuan di lingkungan istana hanya sebagai dayang, tabib, dan wanita penghibur, sehingga jabatan kepala koki istana terlalu tinggi untuk perempuan. Memasak memang dianggap kewajiban perempuan, tetapi hanya dalam konteks melayani keluarga di rumah, sedangkan posisi koki istana sangat terhormat karena memasak untuk raja, sehingga diserahkan pada laki-laki.

Dalam drama, Ji-yeong tidak digambarkan sebagai sosok yang lemah. Ia berprinsip kuat, berani, dan tidak ciut ketika direndahkan. Menurutnya, dapur bukan hanya tempat untuknya memasak, tetapi tempat untuk mempertahankan kehormatannya. Lewat keahliannya, Ji-yeong tidak hanya memenuhi perintah, tetapi menciptakan pengaruh dengan menyajikan hidangan yang bisa menentukan suasana perjamuan politik, mengubah persepsi raja, sekaligus membungkam kritik dari lawannya. Ia tidak hanya sekedar memasak, tetapi menyusun strategi, membangun koneksi, dan kemudian mengubah posisi sosialnya.

Hingga era modern saat ini pun, industri kuliner profesional masih didominasi oleh laki-laki, dengan asumsi laki-laki memiliki keterampilan, bakat, serta ketahanan fisik dan mental untuk bertahan di tengah tekanan dan tantangan berat di dapur profesional, dengan jam kerja yang panjang dan tekanan tanpa henti yang membuat fisik lelah. Di tahun 2022 menurut data dari Chef's Pencil, hanya 6,04% dari 2.286 restoran berbintang Michelin yang dipimpin oleh perempuan, dan dari 100 restoran terbaik di dunia, hanya 6,37% yang memiliki kepala koki perempuan. Jika ingin dibandingkan dengan bidang lain, keterwakilan perempuan di dunia akademisi mencapai 34% dari total jumlah professor. Ini artinya industri kuliner menunjukkan ketimpangan gender lebih tinggi dibanding sektor lain dengan rendahnya persentase perempuan yang menduduki posisi puncak sebagai kepala koki atau pemimpin restoran, yang mencerminkan masih adanya stereotip dan hambatan struktural terhadap perempuan. Sehingga memperlihatkan bahwa kemampuan dan dedikasi saja ternyata belum cukup bagi perempuan untuk diakui dan mendapatkan tempat yang setara dalam dapur profesional, mereka masih harus melawan bias, ekspektasi sosial, dan sistem yang belum sepenuhnya inklusif.

Pada akhirnya, lewat hidangan yang ia ciptakan, Ji-yeong melawan segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi yang ia alami. Menurutnya, makanan bukan hanya sekedar sajian, tapi senjata untuk menyuarakan keberanian dan membuktikan kemampuannya, serta perlahan menggeser pandangan orang-orang di sekitarnya dan membuka mata bahwa bakat dan keahlian tidak punya jenis kelamin.

Bon Appétit, Your Majesty mengingatkan bahwa perubahan bisa dari hal sederhana, sekalipun dimulai dari dapur, dari seorang perempuan yang menolak tunduk pada aturan lama dan memasak masa depan dengan caranya sendiri. Ini bukan sekedar cerita tentang resep dan rempah, tapi tentang perlawanan yang dibungkus dalam aroma kaldu dan keteguhan di balik suara pengaduk. Di balik piring yang tampak anggun, ada kritik tajam terhadap dunia yang masih menilai kemampuan lewat jenis kelamin.

Sebab sampai hari ini, perempuan masih harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap layak, dan jika dapur pernah dijadikan simbol keterbelengguan, maka Ji-yeong mengubahnya menjadi panggung perlawanan, tempat di mana patriarki disajikan mentah-mentah lalu ditelan oleh kenyataan yang lebih tajam dan tak terbantahkan.