Konten dari Pengguna

Aksi Protes di Prancis: Mengapa Partisipasi Generasi Muda Penting?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akhmad Saputra Syarif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pelajar dan mahasiswa turun ke jalan di Paris untuk menyuarakan tuntutan mereka. Aksi itu menjadi bagian dari demonstrasi nasional yang juga mengangkat persoalan biaya hidup dan kondisi sekolah. Pemerintah memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti aksi di seluruh Prancis, sementara penyelenggara menyebut sekitar 800.000 peserta.

Gelombang protes ini mengingatkan pada 1968, ketika gerakan mahasiswa turut mendorong reformasi pendidikan tinggi. Dalam rangkaian reformasi pasca-1968, Université de Paris yang sebelumnya terpusat dibubarkan pada 1970 dan digantikan oleh 13 universitas otonom, termasuk Paris I (Panthéon-Sorbonne) dan Paris VIII (Vincennes–Saint-Denis).

Sebenarnya, gelombang protes ini telah terjadi sejak September kemarin dengan berbagai tuntutan: kekurangan staf, fasilitas sekolah yang rusak, larangan membawa ponsel, dan jam belajar yang panjang. Ada juga tekanan yang lebih luas, yakni banyak siswa lulus baccalauréat (ujian akhir sekolah menengah atas di Prancis) dan berhak melanjutkan ke universitas, tetapi belum tentu mendapat pilihan program studi yang diinginkan. Proses seleksi melalui Parcoursup (platform pendaftaran kuliah nasional Prancis) pun dianggap tidak transparan.

Sumber: Dokumentasi lapangan penulis, Paris, 17 Oktober 2026.

Meskipun tidak selalu menang, aksi jalanan para pelajar Prancis selalu ramai oleh kerumunan massa, dan sebagian di antaranya membuahkan hasil nyata. Pada 1986, pemerintah menarik rancangan reformasi perguruan tinggi setelah ditentang gelombang protes mahasiswa. Pada 1990, pemerintah memutuskan mengucurkan 4,5 miliar franc untuk rencana darurat bagi sekolah menengah atas (lycées), setara sekitar 1,2 miliar euro dengan nilai saat ini.

Pada 1994, usulan membayar pekerja muda di bawah upah minimum dibatalkan setelah ditolak di jalan. Pada Oktober 1998, aksi nasional pelajar SMA mengumpulkan sekitar 500.000 orang, dan menteri pendidikan kemudian mengumumkan paket aksi berisi dana renovasi sekolah 4 miliar franc, belasan ribu tenaga tambahan, serta pengurangan beban kurikulum. Sebaliknya, gerakan 1968 mereda bukan karena seluruh tuntutannya terpenuhi, melainkan setelah pemilu digelar dan persaingan politik beralih ke jalur elektoral.

Dinamika gerakan massa pelajar Prancis menantang anggapan bahwa rendahnya political efficacy, yakni keyakinan bahwa suara seseorang dapat memengaruhi politik, akan selalu menghambat partisipasi. Berbagai aksi pelajar menunjukkan bahwa mereka tetap dapat turun ke jalan dan mendorong perubahan. Jika dicermati, gerakan pelajar ini berbeda dari banyak aksi massa yang didominasi orang dewasa.

Dalam sejumlah pendekatan psikologi sosial, seperti SIMCA (Social Identity Model of Collective Action), identifikasi dengan kelompok, rasa ketidakadilan, dan keyakinan bahwa aksi kolektif dapat membawa perubahan dipandang sebagai faktor penting yang mendorong partisipasi. Apakah ada perbedaan dalam dinamika psikologis antara pelajar yang turun ke jalan dan kelompok demonstran dewasa? Serta mengapa generasi muda penting untuk melakukan aksi protes?

Pelajar dan aksi kolektif

Sudah lama muncul kekhawatiran bahwa orang muda semakin menarik diri dari kehidupan politik, antara lain terlihat dari rendahnya partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Namun, dalam Beyond Apathetic or Activist Youth, Anita Harris dan rekan-rekannya mengajak kita melihat kecenderungan ini dalam konteks perubahan sosial yang lebih luas, dengan merujuk pada pemikiran Zygmunt Bauman—sosiolog dan pemikir sosial asal Polandia.

Bauman dikenal luas lewat gagasannya tentang liquid modernity yakni keadaan ketika kehidupan sosial berubah cepat, sementara ikatan, identitas, dan lembaga yang dulu terasa stabil menjadi lebih rapuh dan sementara. Bauman menggambarkan adanya jarak yang makin lebar antara lembaga resmi yang mengatur masyarakat, seperti negara dan pemerintah, dengan ruang tempat persoalan yang paling berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari diselesaikan.

Sumber: https://www.magnific.com/

Negara dinilai oleh Anita Harris bahwa semakin kurang mampu mengendalikan berbagai hal yang berdampak besar pada kehidupan warganya. Akibatnya, politisi dianggap tidak selalu mampu mewakili kepentingan masyarakat, sementara lembaga publik dinilai kurang mampu mengubah kesulitan pribadi menjadi persoalan bersama yang perlu ditangani. Pada saat yang sama, masyarakat tidak lagi selalu dirasakan sebagai komunitas yang utuh dan stabil.

Privatisasi, deregulasi, dan perubahan ekonomi mempersempit ruang publik untuk berpartisipasi, sedangkan ikatan kolektif melemah seiring meningkatnya individualisasi. Globalisasi juga membuat kehidupan warga semakin dipengaruhi oleh pasar, perdagangan, komunikasi, dan mobilitas lintas negara, hal-hal yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah nasional.

Oleh karenanya, anak muda bukannya tidak aktif dalam dunia politik, namun lebih memfokuskan perhatian politiknya pada isu-isu yang berkaitan erat dengan dunia mereka. Gagasan ini sejalan dengan Sarah Pickard dan Judith Bessant, yang dalam buku suntingan mereka, young people re-generating politics in times of crises, menunjukkan bahwa anak muda di berbagai belahan dunia terlibat dalam politik melalui cara-cara yang beragam dan inovatif. Misalnya, Rekgotsofetse Chikane menulis dalam buku tersebut tentang gerakan hashtag #RhodesMustFall dan #FeesMustFall untuk membangun visibilitas isu, menyebarkan tuntutan, dan mengubah wacana politik tentang kolonialisme serta ketimpangan pendidikan.

Sementara itu, Analicia Mejia Mesinas dengan judul tulisannya Students Taking Action in Los Angeles Schools dalam buku Sarah Pickard dan Judith Bessant menunjukkan strategi yang lebih berpusat pada pengalaman langsung siswa dengan cara menceritakan pengalaman menghadapi polisi di sekolah, memublikasikan kisah melalui blog, melakukan survei, dan membentuk klub serta pelatihan pengorganisasian siswa. Namun, keterlibatan mereka tidak berlangsung dalam ruang hampa: dukungan, respons, maupun pembatasan dari orang dewasa turut membentuk bagaimana aksi itu berkembang. Karena itu, penting untuk melihat lebih jauh peran orang dewasa dalam keterlibatan politik generasi muda.

Pengaruh orang tua dalam aksi pelajar

Ilmuwan social science telah lama mempercayai bahwa komunikasi yang dibangun oleh orang tua dengan anak-anak mereka telah menjadi kunci dari political socialization. Bahkan transmisi informasi tentang keterlibatan orang tua pada kegiatan-kegiatan aksi protes di masa lalu dapat memprediksi keterlibatan anak pada aksi protes di masa yang akan datang.

Menariknya, meskipun orang tua tidak secara aktif melakukan sosialisasi tentang posisi politik mereka, anak akan secara aktif menerjemahkan informasi-informasi di lingkungan keluarga tentang pendirian politik orang tua mereka dan menjadikannya acuan dalam membentuk posisi politik. Serta menentukan seberapa kuat intensi anak untuk turut menyuarakan aksi jalanan nantinya.

https://www.magnific.com/

Meskipun demikian, tafsir tersebut sering kali disorot dikarenakan banyak penelitian tentang transformasi politik pada lingkungan keluarga hanya mengeksplorasi dampak political socialization, tanpa memberikan penjelasan yang cukup mengenai dinamika ataupun proses yang terjadi antara anak dan orang tua.

Barulah pada tahun 2020 silam, Marcela Cornejo bersama koleganya menjelaskan dinamika ini dalam tulisan mereka berjudul The Intergenerational Transmission of Participation in Collective Action. Pada tulisan yang dimuat di jurnal the British Psychological Society tersebut, Cornejo bukan saja mengonfirmasi anggapan ilmuwan social science selama ini tentang pentingnya political conversation di keluarga, namun juga menyimpulkan bahwa proses transmisi informasi politik bukan saja bekerja efektif pada percakapan namun juga pada partisipasi bersama (joint participation) dan konsumsi budaya (cultural consumption). Dalam halaman hasilnya, Cornejo menjelaskan partisipasi bersama sebagai tindakan yang dilakukan orang tua dengan mengajak serta anak-anak mereka dalam berbagai aksi protes. Sementara itu, konsumsi budaya dilakukan dengan cara memperkenalkan anak-anak sejak dini dengan berbagai sumber budaya yang memberikan informasi politik, misalnya lagu-lagu yang mengisyaratkan gerakan politik.

Temuan mengenai peran orang tua dalam membentuk sikap kritis anak terhadap pemerintah menunjukkan bahwa orang tua dapat membantu anak memahami isu-isu publik dan mendukung mereka untuk menyuarakan pendapat. Namun, pengaruh orang dewasa terhadap keterlibatan remaja tidak selalu mendorong partisipasi. Dalam penelitian berjudul motivators of participation and non-participation in youth environmental protests, Hannah R. Feldman menunjukkan bahwa lingkungan sosial dapat menjadi sumber dukungan sekaligus hambatan bagi partisipasi remaja dalam aksi protes: tekanan sosial, keterbatasan waktu, dan tuntutan akademik.

Selain itu, Hannah R. Feldman juga mencatat ketergantungan anak kepada orang tua juga terlihat dari bagaimana transportasi menjadi salah satu faktor penghambat utama keterlibatan remaja pada aksi protes. Pada umumnya, aksi massa dilakukan pada tempat-tempat yang strategis dengan tujuan salah satunya adalah terliput media massa, akan tetapi, banyak di antara para remaja yang tinggal jauh dari tempat-tempat strategis tersebut, seperti pusat kota, monumen nasional atau bahkan gedung pemerintahan. Akibatnya, remaja, terutama yang tinggal di daerah dengan akses transportasi umum terbatas, kerap bergantung pada persetujuan orang tua untuk mengikuti aksi protes, sebab orang tua atau keluarga terdekat menjadi satu-satunya pihak yang dapat mengantar mereka.

Berbeda dengan orang dewasa yang tidak perlu berurusan dengan tekanan sosial, keterbatasan waktu, tuntutan akademik, juga bahkan dengan transportasi. Faktor penghambat orang dewasa untuk menyalurkan aspirasi mereka lebih dapat disederhanakan pada motivasi-motivasi yang dijelaskan oleh Van Zomeren dan koleganya pada tulisan mereka Toward an Integrative Social Identity Model of Collective Action yakni social identity, collective efficacy dan perceived injustice. Collective efficacy (efikasi kolektif) dijelaskan oleh Van Zomeren sebagai perasaan yang timbul pada individu berkaitan pada kelompok dapat melakukan sesuatu yang berdampak melalui aksi bersama, sementara itu perceived injustice (ketidakadilan yang dirasakan) merupakan penilaian yang dilakukan oleh individu tentang apakah kelompoknya diperlakukan secara adil atau tidak.

Berbeda dengan kedua motivasi sebelumnya, individu hanya perlu paling tidak merasakan salah satu di antara keduanya (baik collective efficacy atau perceived injustice), social identity adalah prasyarat utama sebuah grievances (ketidakpuasan) berubah menjadi tindakan aksi. Social identity adalah perasaan individu bahwa dirinya menjadi bagian dari sebuah kelompok. Meskipun lebih kompleks dari faktor penghambat yang dirasakan oleh orang dewasa, keikutsertaan generasi muda pada aksi protes sangatlah penting dalam sebuah negara.

https://www.magnific.com/

Peran aksi generasi muda di tengah masyarakat

Generasi muda mempunyai pengalaman dan kepentingan yang perlu diperhitungkan dalam keputusan publik. Tidak memberikan mereka cukup ruang untuk menyampaikan aspirasi akan membuat kebijakan timpang pada satu golongan. Misalnya, protes anak muda Indonesia pada Pemilu 2024 memperlihatkan bagaimana isu politik dinasti dan kekhawatiran terhadap demokrasi menjadi bagian dari narasi mobilisasi. Selain itu, gerakan satiris (cockroach janta party) di India yang menuntut perbaikan pada bidang pendidikan juga diinisiasi oleh anak muda. Ini memberi contoh konkret bahwa aksi anak muda dapat menjadi arena untuk memperdebatkan legitimasi kebijakan dan arah demokrasi.

United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) dalam terbitan majalah mereka berjudul Youth, Protests and the Polycrisis juga mendukung anak muda untuk mengambil bagian dalam aksi-aksi protes. Sikap tersebut dilandasi oleh berbagai alasan, seperti pertama, anak muda memegang andil yang besar dalam menjembatani aktivisme daring (online) dan luring (offline) disebabkan anak muda lebih mampu memiliki kecakapan yang lebih baik pada teknologi dan platform digital. Kemampuan tersebut berkontribusi pada inovasi dalam aksi demonstrasi, mendorong inklusivitas, dan menurunkan biaya pengorganisasian gerakan. Kedua, sebagian besar demonstrasi yang melibatkan anak muda berlangsung secara damai. Temuan ini menantang pandangan umum yang kerap mengasosiasikan anak muda dengan perilaku agresif dan tindakan anarkis. Ketiga, tindakan aksi yang mengikutsertakan anak muda akan lebih inklusif dan diikuti oleh lebih banyak peserta. Bahkan, aksi massa yang menempatkan anak muda di garis depan juga cenderung lebih efektif dan lebih mungkin menghasilkan dampak positif setelah aksi berlangsung.

Meski demikian, inisiasi tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Betul adanya bahwa orang tua memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membangun kemampuan kritis anak, namun segala pihak harusnya turut mengerti peran masing-masing. Blais dan Carty dalam tulisan mereka menjelaskan tiga pihak yang sangat berperan selain keluarga dalam membentuk sikap politik generasi muda, yakni sekolah, kawan sebaya dan juga media massa. Kesemuanya harus mampu diakomodasi sehingga dapat membantu individu untuk mengembangkan critical consciousness. Andres Pinedo beserta rekan-rekannya dalam tulisan mereka Critical Consciousness and Youth Political Activism mendefinisikan critical consciousness sebagai pengembangan kemampuan untuk mengidentifikasi pertentangan dalam struktur sosial, politik, dan ekonomi, serta melakukan tindakan nyata untuk menentang kondisi yang bersifat menindas. Berbagai penelitian, jelas Andres Pinedo, menunjukkan korelasi positif antara tingginya critical consciousness dengan intensi individu untuk terlibat dengan aksi protes.

Aksi anak muda di Prancis mengingatkan kita bahwa mengorganisasi gerakan yang dipimpin generasi muda bukan perkara mudah. Pelajar menghadapi hambatan khas, seperti ketergantungan pada keluarga, jadwal sekolah, dan terbatasnya ruang untuk menyampaikan pendapat. Di tengah hambatan itu, mereka berusaha menyuarakan kebutuhan generasinya agar ikut dipertimbangkan dalam kebijakan pemerintah. Ketika melihat aksi anak muda di jalan, kita dapat memberi dukungan sederhana: menawarkan air minum, memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi, atau bersabar saat perjalanan terganggu. Suara anak muda layak didengar karena keputusan publik hari ini turut menentukan kehidupan mereka.