Konten dari Pengguna

Mahasiswa MPI Unpam Gelar sminar Media sosial dan Kecerdasan Emosional di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarawati Bakri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seminar mahasiswa MPI Unpam mengajak bijak bermedia sosial dan mengasah kecerdasan emosional di era digital

Poster Seminar Digital Wellbeing & Emotional Intelligence yang diselenggarakan mahasiswa kelas 06MPIE002 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Pamulang
zoom-in-whitePerbesar
Poster Seminar Digital Wellbeing & Emotional Intelligence yang diselenggarakan mahasiswa kelas 06MPIE002 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Pamulang

TANGERANG SELATAN – Sebagai upaya menumbuhkan generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara emosional, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam(MPI) Universitas Pamulang(Unpam) kelas 06MPIE002 menyelenggarakan seminar bertema Digital Wellbeing & Emotional Intelligence: Media Sosial & Kecerdasan Emosional di Era Digital. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, mulai pukul 09.30 WIB hingga selesai, di ruang kelas V.726 Universitas Pamulang.

Seminar ini mengangkat dua pokok bahasan yang saling berkaitan. Pokok bahasan pertama, “Pengaruh Media Sosial terhadap Mahasiswa”, mengajak peserta menavigasi era digital dari sisi kesehatan mental, komunikasi, dan inovasi. Pokok bahasan kedua, “Kecerdasan Emosional dalam Kehidupan”, menekankan empat kemampuan utama, yaitu kesadaran diri (self-awareness), empati (empathy), pengaturan emosi (emotional regulation), dan keterampilan sosial (social skills).

Pada sesi pertama, dipaparkan bahwa media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan YouTube memiliki dua sisi dampak. Dari sisi positif, media sosial memudahkan mahasiswa mencari materi pembelajaran, memperluas wawasan, berdiskusi dalam pengerjaan tugas kelompok, serta belajar melalui video edukasi. Dari sisi negatif, penggunaan yang tidak terkendali dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi waktu belajar dan istirahat, menyebarkan informasi yang tidak benar (hoaks), serta memicu perundungan siber (cyberbullying).

Fenomena ini kerap dijumpai dalam keseharian mahasiswa. Membuka ponsel sebentar untuk membalas pesan kelompok, misalnya, sering berujung pada berjam-jam menggulir video pendek hingga larut malam. Akibatnya, tugas tertunda, jam tidur berkurang, dan konsentrasi di kelas pada keesokan harinya menurun. Di sisi lain, kebiasaan membandingkan diri dengan unggahan teman dapat menimbulkan rasa minder, sementara kabar yang belum diverifikasi mudah tersebar di grup percakapan kampus.

Untuk menyikapinya, peserta diajak menerapkan empat langkah sederhana dalam bermedia sosial, yaitu mengatur waktu penggunaan, mengutamakan tugas sebelum hiburan, memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya, serta menjaga sopan santun dengan tidak menghina, menyebarkan rahasia, atau merundung orang lain. Pesan utamanya jelas: pilihlah aktivitas yang membantu, bukan yang mengganggu proses belajar.

Suasana perkuliahan Retorika mahasiswa MPI Unpam yang menjadi dasar tema seminar: pemateri menjelaskan makna berbicara kepada peserta kelas.

Sesi kedua menegaskan bahwa kecerdasan emosional menjadi benteng penting di tengah derasnya arus digital. Mahasiswa yang menyadari kondisi dirinya akan lebih mudah mengendalikan kebiasaan bermedia sosial. Kemampuan mengatur emosi membantu seseorang tidak terpancing komentar negatif, sedangkan empati dan keterampilan sosial membuat komunikasi, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, tetap santun dan bermakna.

Tema ini juga sangat dekat dengan mata kuliah Retorika. Dalam seni berbicara, pesan yang efektif bukan hanya soal pilihan kata, tetapi juga kredibilitas pembicara, kepekaan terhadap perasaan audiens, dan ketepatan logika. Ketiganya hanya dapat dijaga oleh pribadi yang matang secara emosional. Karena itu, kemampuan berkomunikasi di media sosial pada dasarnya merupakan kelanjutan dari kemampuan berbicara di hadapan publik.

Upaya mewujudkan digital wellbeing tentu tidak dapat dibebankan kepada mahasiswa semata. Dosen dan institusi pendidikan memiliki peran penting, antara lain dengan memberi teladan bermedia sosial secara santun, merancang tugas yang mendorong penggunaan teknologi secara produktif, serta membuka ruang konsultasi bagi mahasiswa yang mengalami tekanan akibat dunia maya. Kampus juga dapat menyelenggarakan pelatihan literasi digital dan menyusun pedoman etika bermedia sosial yang disepakati bersama sehingga lingkungan akademik menjadi ruang yang aman dan suportif.

Peserta antusias mengikuti sesi diskusi dengan mengangkat tangan menjawab pertanyaan pemantik: kapan pesan benar-benar sampai kepada pendengar

Melalui seminar ini, mahasiswa MPI Universitas Pamulang menunjukkan bahwa pembahasan tentang dunia digital tidak berhenti pada soal teknologi, tetapi juga menyentuh kesejahteraan diri dan kualitas hubungan antarmanusia. Peserta diharapkan mampu menjadikan media sosial sebagai sarana belajar dan berkarya, serta tumbuh menjadi pribadi yang bijak, empatik, dan bertanggung jawab di era digital.

Kesadaran ini perlu dibangun secara kolektif, melibatkan mahasiswa, dosen, dan institusi, agar mahasiswa tidak sekadar menjadi konsumen digital yang pasif menerima arus informasi, tetapi tumbuh sebagai kreator yang bijak, yang mampu menghasilkan konten bermanfaat, mengajak pada kebaikan, dan menebar manfaat bagi sesama. Dengan demikian, media sosial benar-benar menjadi ruang belajar dan berkarya, bukan sumber tekanan.