Konten dari Pengguna

5 Kebiasaan Kecil Saat Presentasi yang Diam-diam Merusak Public Speakingmu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari sareza lizatuzzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi (Sareza Lizatuzzahra)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi (Sareza Lizatuzzahra)

Pernah nggak, lagi presentasi tapi di tengah jalan sadar audiens mulai sibuk sendiri? Ada yang lihat HP, ada yang menguap, ada yang cuma menatap kosong. Kita sudah belajar semalaman, tapi hasilnya tetap terasa hambar. Sering kali masalahnya bukan di materi. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar kita lakukan, dan itu cukup untuk membuat pendengar kehilangan fokus. Berikut adalah lima kebiasaan yang merusak presentasimu:

1. Membaca Slide Kata per Kata

Ini kesalahan paling klasik. Kalau semua yang kita mau ucapkan sudah tertulis di layar, audiens pasti akan membaca sendiri dan berhenti mendengarkan kita. jadikan slide itu hanya pendamping, bukan naskah. Cukup tulis poin pentingnya, lalu jelaskan sisanya dengan kata-kata sendiri.

2. Bicara Terlalu Cepat

Saat gugup, tempo bicara otomatis naik. Rasanya ingin cepat-cepat selesai. Padahal pendengar butuh waktu untuk mencerna. Coba beri jeda sebentar setelah menyampaikan poin penting. Jeda dua detik terasa lama bagi kita, tapi bagi audiens itu terasa wajar dan malah memberi kesan percaya diri.

3. Terlalu Banyak "Eee" dan "Jadi"

Kata seperti "eee", "anu", atau "jadi" muncul karena kita takut untuk diam. Padahal diam sejenak jauh lebih enak didengar daripada diisi suara yang tidak perlu. Ada cara untuk melatihnya, rekam suaramu waktu latihan lalu dengarkan ulang. Biasanya baru terasa seberapa sering kita mengucapkannya.

4. Menatap Lantai, Dinding, atau Layar

Kontak mata itu cara yang paling sederhana untuk membangun kedekatan dengan audiens. Tidak perlu menatap semua orang. Pilih beberapa wajah di sisi berbeda ruangan, lalu bergantian melihat ke sana. Audiens akan merasa diajak bicara, bukan sekadar dibacakan sesuatu.

5. Tidak Punya Kalimat Penutup

Banyak presentasi berakhir hanya dengan kalimat "Mungkin itu saja, terima kasih." Terdengar menggantung. Padahal penutup adalah bagian yang paling diingat. Siapkan satu kalimat yang merangkum pesan utama, lalu tutup dengan yakin.

Pengalaman Pribadi Penulis

Saya pernah mengalami sendiri dampak dari kebiasaan ini. Dalam sebuah kegiatan kemahasiswaan, saya mendapat kesempatan menyampaikan materi di hadapan siswa sekolah. Meski sudah memahami isi materinya, rasa gugup membuat tempo bicara saya meningkat tanpa saya sadari. Saya baru menyadarinya ketika teman-teman mengingatkan agar saya berbicara lebih pelan. Dari situ saya belajar bahwa penguasaan materi saja belum cukup. Kemampuan mengendalikan diri saat tampil juga menentukan seberapa baik pesan tersampaikan.

Keterampilan ini bukan cuma berguna di kelas. Di dunia kerja, kita akan terus berhadapan dengan situasi serupa: presentasi ke atasan, memimpin rapat, atau menjelaskan ide ke tim. Dalam konteks sumber daya manusia (SDM), cara seseorang berkomunikasi sering jadi bahan pertimbangan saat rekrutmen maupun promosi.

Memperbaiki kebiasaan-kebiasaan tadi tidak butuh waktu lama. Pilih satu yang paling sering kamu lakukan, fokus memperbaikinya di presentasi berikutnya, lalu lanjut ke yang lain. Pelan-pelan, hasilnya pasti terasa.

Program Studi Manajemen, Program Sarjana, Universitas Pamulang