Ayah Memilih Perempuan Lain, Anak Menanggung Luka yang Tak Pernah Dipilihnya
Tulisan dari Sari Buana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada luka dalam kehidupan seorang anak yang tidak selalu terlihat melalui air mata. Luka itu terkadang hadir dalam bentuk perubahan perilaku, hilangnya keceriaan, ketakutan ditinggalkan, atau kesulitan mempercayai orang lain.
Salah satu pengalaman yang dapat menimbulkan luka tersebut adalah ketika seorang anak mengetahui bahwa ayahnya menjalin hubungan dengan perempuan lain di luar perkawinan.
Bagi sebagian orang dewasa, perselingkuhan dipandang sebagai persoalan antara suami dan istri. Namun, dari sudut pandang psikologi keluarga, persoalan ini tidak selalu berhenti pada hubungan pasangan. Ketika perselingkuhan menimbulkan kebohongan, pertengkaran, ketidakpastian, atau keretakan hubungan keluarga, anak-anak dapat turut menanggung konsekuensi emosionalnya.
Seorang suami mungkin merasa bahwa perselingkuhannya merupakan urusan pribadi. Akan tetapi, bagi anak, seorang ayah bukan sekadar laki-laki yang memiliki kehidupan pribadi. Ayah adalah salah satu figur yang diharapkan memberikan rasa aman, keteladanan, perlindungan, dan kepercayaan.
Ketika kepercayaan itu terguncang, dunia psikologis anak pun dapat mengalami perubahan.
Ayah sebagai Figur Keamanan Psikologis
Dalam psikologi perkembangan, hubungan anak dengan orang tua memiliki peranan penting dalam pembentukan rasa aman secara emosional.
Teori kelekatan attachment theory yang dikembangkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman hubungan anak dengan figur pengasuh berperan dalam membentuk harapan mengenai keamanan, kedekatan, dan ketersediaan dukungan emosional.
Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh perhatian cenderung memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan rasa aman dan kepercayaan dalam hubungan interpersonal.
Sebaliknya, ketika keluarga mengalami konflik berkepanjangan, ketidakstabilan emosional, atau pengabaian, rasa aman tersebut dapat terganggu.
Perselingkuhan ayah tidak otomatis menyebabkan gangguan psikologis pada anak. Namun, apabila peristiwa tersebut disertai pertengkaran yang terus-menerus, perubahan sikap orang tua, atau hilangnya kehadiran emosional ayah, anak dapat mengalami tekanan psikologis yang nyata.
Anak mungkin tidak memahami seluruh persoalan perkawinan orang tuanya. Akan tetapi, mereka sering kali mampu merasakan perubahan suasana rumah.
Mereka mengetahui ketika ibu lebih sering menangis, ketika ayah semakin jarang berada di rumah, atau ketika percakapan yang dahulu hangat berubah menjadi keheningan yang menegangkan.
Bagi anak, rumah yang kehilangan ketenangan dapat terasa seperti tempat yang tidak lagi sepenuhnya aman.
Ketika Anak Merasa Dirinya Tidak Lagi Berharga
Salah satu dampak psikologis yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan anak menyalahkan dirinya sendiri atas konflik orang tua.
Anak, terutama pada usia yang lebih muda, belum selalu mampu memahami kompleksitas hubungan perkawinan orang dewasa.
Ketika melihat ayah menjauh atau ibu mengalami kesedihan, sebagian anak dapat membangun penjelasan berdasarkan pemahamannya sendiri.
Mereka mungkin bertanya dalam hati:
Apakah Ayah pergi karena aku nakal?
Apakah Ayah lebih menyayangi keluarga yang lain?
Apakah aku tidak cukup penting sehingga Ayah memilih perempuan lain?
Pertanyaan semacam ini dapat menjadi beban emosional apabila tidak memperoleh penjelasan dan dukungan yang sesuai dengan usia anak.
Dalam psikologi, pengalaman menyalahkan diri sendiri dapat berkaitan dengan munculnya perasaan bersalah, rendah diri, dan ketidakamanan emosional.
Padahal, keputusan seorang ayah untuk berselingkuh bukanlah tanggung jawab anak.
Anak tidak seharusnya memikul kesalahan atas pilihan yang dibuat oleh orang dewasa.
Perselingkuhan dan Rusaknya Kepercayaan Anak
Kepercayaan merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan hubungan sosial.
Anak belajar memahami arti kesetiaan, kejujuran, dan tanggung jawab melalui pengalaman yang mereka saksikan dalam keluarga.
Ketika seorang ayah mengajarkan pentingnya berkata jujur, tetapi kemudian diketahui menyembunyikan hubungan dengan perempuan lain, anak dapat mengalami kebingungan moral.
Ada pertentangan antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang diperlihatkan.
Dalam psikologi, keadaan semacam ini dapat dipahami melalui konsep ketidaksesuaian antara keyakinan dan pengalaman yang dialami seseorang.
Bagi sebagian anak, pengalaman tersebut dapat memunculkan pertanyaan mengenai apakah orang yang paling mereka percayai benar-benar dapat diandalkan.
Dampaknya tidak selalu terlihat saat itu juga.
Sebagian anak mungkin menjadi lebih berhati-hati dalam membangun hubungan. Sebagian lainnya dapat mengalami kecemasan terhadap kemungkinan ditinggalkan atau dikhianati.
Namun, penting dipahami bahwa pengalaman perselingkuhan orang tua tidak menentukan masa depan hubungan anak secara mutlak. Dengan dukungan emosional dan pengalaman hubungan yang sehat, anak tetap dapat mengembangkan kemampuan mempercayai serta membangun hubungan yang baik.
Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki Sama-Sama Dapat Terluka
Dalam masyarakat, terkadang muncul anggapan bahwa anak perempuan lebih mudah terluka secara emosional, sedangkan anak laki-laki dianggap lebih kuat menghadapi konflik keluarga.
Pandangan tersebut terlalu menyederhanakan pengalaman psikologis anak.
Baik anak perempuan maupun anak laki-laki dapat mengalami kesedihan, kemarahan, kecemasan, dan kekecewaan akibat perselingkuhan ayah.
Perbedaannya lebih mungkin terlihat pada cara mereka mengekspresikan emosi, yang dipengaruhi oleh usia, temperamen, pengalaman, serta lingkungan pengasuhan.
Ada anak yang menangis dan menarik diri dari pergaulan. Ada yang menjadi mudah marah, mengalami penurunan konsentrasi belajar, atau menunjukkan perubahan perilaku.
Ada pula anak yang tampak tenang, tetapi sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Karena itu, orang dewasa tidak boleh menilai keadaan psikologis anak hanya berdasarkan apakah ia menangis atau tidak.
Anak yang diam belum tentu tidak terluka.
Ketika Anak Dipaksa Memilih antara Ayah dan Ibu
Dampak perselingkuhan dapat menjadi lebih berat ketika anak terseret ke dalam konflik kesetiaan antara kedua orang tuanya.
Anak mungkin merasa harus membela ibu yang disakiti, tetapi pada saat bersamaan tetap mencintai ayahnya.
Situasi ini dapat menimbulkan konflik emosional yang rumit.
Seorang anak bisa marah kepada ayahnya karena menyakiti ibu, tetapi tetap merindukan pelukan dan perhatian ayah yang sama.
Perasaan tersebut bukanlah kontradiksi yang harus disalahkan. Dalam psikologi keluarga, anak dapat memiliki berbagai emosi yang saling bertentangan terhadap orang yang dicintainya.
Masalah menjadi semakin serius apabila anak diminta menjadi penyampai pesan, pengawas perilaku orang tua, tempat mencurahkan seluruh persoalan perkawinan, atau bahkan dipaksa menentukan pihak yang harus dibelanya.
Anak bukan hakim bagi perkawinan orang tuanya.
Anak juga bukan konselor yang bertanggung jawab menyelesaikan luka emosional ayah atau ibunya.
Ketika anak harus mengambil tanggung jawab emosional yang seharusnya dipikul orang dewasa, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan fenomena *parentification*, yaitu keadaan ketika anak menjalankan peran atau tanggung jawab yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya.
Apakah Luka Itu Akan Terbawa hingga Dewasa?
Tidak semua anak yang mengalami perselingkuhan orang tua akan mengalami trauma atau kesulitan membangun hubungan ketika dewasa.
Respons psikologis setiap anak berbeda.
Dampaknya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain usia anak ketika peristiwa terjadi, intensitas konflik keluarga, kualitas hubungan dengan kedua orang tua, serta keberadaan dukungan emosional dari lingkungan.
Anak yang mengalami konflik keluarga berkepanjangan tanpa pendampingan berisiko menghadapi kesulitan dalam mengelola emosi dan membangun rasa aman.
Sebaliknya, anak yang memperoleh penjelasan sesuai usianya, tetap merasakan kasih sayang, dan terlindungi dari pertengkaran orang tua memiliki peluang lebih baik untuk beradaptasi.
Artinya, persoalan terpenting bukan hanya apakah perselingkuhan pernah terjadi, melainkan bagaimana orang dewasa menangani dampaknya terhadap anak.
Kesalahan orang tua tidak harus menjadi warisan psikologis yang menentukan seluruh kehidupan anak.
Tanggung Jawab Psikologis Seorang Ayah
Seorang ayah yang melakukan perselingkuhan perlu memahami bahwa tanggung jawabnya tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi.
Anak membutuhkan lebih dari biaya sekolah, makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Mereka membutuhkan kehadiran emosional, konsistensi perilaku, kejujuran yang sesuai dengan usia, serta kepastian bahwa kasih sayang orang tua kepada mereka tidak hilang akibat konflik perkawinan.
Jika seorang ayah ingin memperbaiki hubungan dengan anak, langkah pertama bukanlah menuntut anak segera memaafkan.
Pemulihan kepercayaan membutuhkan waktu.
Ayah perlu menunjukkan tanggung jawab melalui tindakan nyata, menghormati perasaan anak, tidak menyalahkan ibu, dan tidak menjadikan anak sebagai pembenaran atas tindakannya.
Permintaan maaf dapat menjadi awal, tetapi perubahan perilaku yang konsisten merupakan bagian penting dari proses membangun kembali kepercayaan.
Di sisi lain, ibu yang mengalami pengkhianatan juga membutuhkan dukungan emosional agar tidak harus menanggung seluruh beban keluarga seorang diri.
Melindungi kesehatan psikologis anak tidak berarti mengabaikan penderitaan ibu. Justru dukungan terhadap orang tua yang terluka dapat membantu menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih stabil.
Anak Berhak Tetap Memiliki Masa Kecilnya
Perselingkuhan merupakan keputusan orang dewasa, sedangkan anak berada dalam posisi yang tidak memiliki kendali atas keputusan tersebut.
Karena itu, kepentingan psikologis anak harus ditempatkan sebagai pertimbangan utama ketika keluarga menghadapi krisis perkawinan.
Anak berhak memperoleh penjelasan yang tidak membebani, berhak mengungkapkan kesedihannya, dan berhak tidak dilibatkan dalam pertengkaran orang tua.
Apabila perubahan perilaku atau tekanan emosional anak berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, pendampingan psikolog anak dapat dipertimbangkan.
Pemulihan tidak selalu berarti kedua orang tua harus mempertahankan perkawinan dalam keadaan apa pun.
Dalam situasi tertentu, pengasuhan yang stabil, aman, dan bebas dari konflik destruktif dapat lebih melindungi kesejahteraan psikologis anak dibandingkan mempertahankan kehidupan bersama yang terus dipenuhi permusuhan.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa anak tidak kehilangan haknya untuk dicintai, dihormati, dan merasa aman.
Penutup: Jangan Jadikan Anak Korban dari Pilihan Orang Dewasa
Seorang suami mungkin dapat menyembunyikan perselingkuhannya dari lingkungan sosial. Namun, perubahan emosional dalam keluarga tidak selalu dapat disembunyikan dari anak-anak.
Mereka mungkin belum memahami arti pengkhianatan dalam perkawinan, tetapi dapat memahami bagaimana rasanya kehilangan ketenangan, menyaksikan kesedihan ibu, atau merasakan ayah yang semakin jauh.
Dari sudut pandang psikologi, luka anak tidak semata-mata berasal dari tindakan perselingkuhan itu sendiri, melainkan juga dari konflik, ketidakpastian, kebohongan, dan hilangnya rasa aman yang mungkin mengikutinya.
Karena itu, sebelum seorang ayah menganggap perselingkuhan sebagai persoalan pribadinya, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan:
"Apakah kebahagiaan yang sedang dikejarnya sebanding dengan risiko kehilangan kepercayaan anak-anak yang selama ini memandangnya sebagai tempat berlindung?"
Sebab, bagi seorang anak, pengkhianatan ayah terhadap ibu dapat terasa bukan hanya sebagai retaknya hubungan dua orang dewasa, tetapi juga sebagai runtuhnya sebagian dunia yang selama ini ia yakini aman.
Dan terkadang, yang paling lama diingat anak bukanlah siapa perempuan lain dalam kehidupan ayahnya, melainkan bagaimana keluarganya berubah setelah kehadiran perempuan tersebut.

