Industrialisasi Tanpa Melupakan Petani Siapa yang Menikmati Pertumbuhan Ekonomi?

Saya mahasiswa program studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang yang gemar menuangkan inspirasi melalui karya tulis di media massa.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Rihadatul aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ekonomi Indonesia sedang tumbuh. Pada 2025, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11 persen, naik dari 5,03 persen pada tahun sebelumnya. Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar PDB dengan 19,07 persen, sementara pertanian menyumbang 13,10 persen dan tumbuh 5,33 persen.

Investasi juga semakin deras. Pada 2025, realisasi investasi mencapai sekitar Rp1.931 triliun, salah satunya didorong oleh hilirisasi. Indonesia mulai berusaha mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Tapi di tengah semua angka positif itu, ada satu pertanyaan: siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan tersebut?
Di desa, banyak petani masih hidup pas-pasan. Data Survei Ekonomi Pertanian 2024 menunjukkan pendapatan bersih petani skala kecil rata-rata sekitar Rp5,9 juta per tahun. Padahal, ada lebih dari 27 juta rumah tangga petani di Indonesia. Kebanyakan juga mengelola lahan yang relatif kecil.
Masalahnya bukan hanya soal pendapatan. Ketika hasil pertanian masuk ke rantai perdagangan dan pengolahan, nilai produknya semakin tinggi, tetapi keuntungan yang diterima petani belum tentu ikut meningkat. Di saat yang sama, alih fungsi lahan untuk industri dan pembangunan juga bisa membuat petani kehilangan sumber penghidupannya.
Jadi, industri tumbuh, investasi naik, dan PDB meningkat, tetapi manfaatnya belum tentu dirasakan secara merata.
Saya tidak menolak industrialisasi. Indonesia memang perlu industri dan hilirisasi agar tidak terus bergantung pada bahan mentah. Namun, petani juga harus ikut menikmati proses tersebut.
Caranya bukan sekadar memberi bantuan, tetapi dengan memperluas akses teknologi, menciptakan harga yang lebih adil, memperkuat kemitraan petani dengan industri, membuka akses pasar, dan melindungi lahan pertanian produktif.
Karena pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi seharusnya bukan hanya tentang seberapa tinggi angka PDB, tetapi juga tentang seberapa banyak masyarakat yang ikut merasakan hasilnya. Kalau petani tetap tertinggal, pertumbuhan itu belum benar-benar inklusif.
