Konten dari Pengguna

Literasi Digital Masyarakat Desa Tidak Bisa Disamaratakan

Pengalaman di Desa Lebih menunjukkan bahwa literasi digital akan lebih bermakna ketika pesan yang disampaikan berangkat dari persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Media Sosial Sudah Masuk ke Ruang Keluarga

Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakannya untuk mencari informasi, berkomunikasi dengan keluarga, mengikuti perkembangan lingkungan, hingga menyampaikan pendapat tentang berbagai persoalan. Anak-anak mengenal internet sejak usia dini, sementara orang tua terus beradaptasi dengan perubahan cara berkomunikasi.

Karena itu, kemampuan menggunakan media digital secara aman dan etis memang perlu dimiliki semua orang. Kita perlu memahami cara memeriksa informasi, menjaga data pribadi, mengenali risiko penipuan, dan berkomunikasi dengan baik di ruang digital.

Namun, ketika berbicara tentang literasi digital, saya kira ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan lebih dulu: apa yang sebenarnya sedang dihadapi masyarakat ketika mereka menggunakan media digital?

Pertanyaan ini penting karena persoalan digital tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Sebagian orang mungkin berhadapan dengan informasi palsu dan penipuan daring. Orang tua mungkin lebih khawatir ketika anak mulai mengenal media sosial. Di lingkungan lain, perbedaan pandangan politik di media sosial justru dapat memengaruhi hubungan keluarga dan kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, saya melihat literasi digital perlu memiliki dua sisi. Kita tetap membutuhkan pengetahuan dasar yang dapat berlaku secara umum. Namun, kita juga perlu memberi ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi agar pesan literasi digital tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi benar-benar dekat dengan kehidupan mereka.

Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Teknologi

Gagasan tentang literasi digital sebenarnya sudah berkembang cukup panjang. Paul Gilster melalui bukunya Digital Literacy pada 1997 memperkenalkan literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dan dari berbagai sumber digital. Gagasan ini menunjukkan bahwa literasi digital sejak awal tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengoperasikan perangkat.

Perkembangan berikutnya memperluas perhatian pada kemampuan seseorang untuk bersikap kritis dan bertanggung jawab ketika berhadapan dengan media. Renee Hobbs, misalnya, melihat literasi media sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, menciptakan, dan berkomunikasi melalui media. Dengan pendekatan ini, seseorang tidak cukup hanya mengetahui apakah suatu informasi benar atau salah. Ia juga perlu memahami pesan, mempertimbangkan dampaknya, dan bertanggung jawab ketika membuat atau menyebarkan pesan.

Perkembangan tersebut menurut saya memberi satu pelajaran penting. Literasi digital tidak hanya berbicara tentang apa yang seseorang bisa lakukan dengan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana ia hidup dan berhubungan dengan orang lain melalui teknologi.

Di titik inilah konteks masyarakat menjadi penting. Orang tua membutuhkan kemampuan yang berbeda ketika mendampingi anak menggunakan media sosial. Warga yang aktif mengikuti isu politik membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan kritik dan menghadapi perbedaan pendapat. Kelompok masyarakat yang menggunakan media sosial untuk kegiatan ekonomi juga memiliki kebutuhan yang berbeda.

Maka, meskipun pengetahuan dasar literasi digital dapat diberikan secara umum, cara kita menerjemahkan pengetahuan tersebut perlu memperhatikan kehidupan masyarakat.

Ketika Kami Mendengarkan Warga Desa Lebih

Pengalaman sederhana dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Lebih, Kabupaten Gianyar, membuat saya melihat persoalan ini dengan cara yang sedikit berbeda.

Saya datang dengan tema umum “Penguatan Komunikasi Publik Desa Lebih melalui Literasi Digital yang Aman dan Etis.” Pada awalnya, saya membayangkan kegiatan ini akan berisi edukasi tentang penggunaan media digital yang aman, etika bermedia sosial, dan cara menghadapi berbagai risiko di ruang digital.

Namun, ketika kami berdiskusi dengan ibu PKK dan Bunda PAUD Desa Lebih, percakapan membawa kami pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Para ibu membicarakan kekhawatiran ketika anak mulai memiliki akses ke media sosial. Mereka khawatir anak melihat konten yang belum sesuai dengan usianya. Mereka juga mengkhawatirkan perundungan dan persoalan privasi anak di ruang digital.

Penyampaian materi literasi digital kepada ibu-ibu PKK dan Bunda PAUD Desa Lebih Kabupaten Gianyar, Bali. Dok. Ist

Menariknya, pembicaraan kemudian tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa lama anak boleh menggunakan gawai. Para ibu justru membicarakan bagaimana orang tua dapat menjadi teman bagi anak. Mereka ingin membangun komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai, menerima pesan yang membuatnya bingung, atau mengalami masalah di media sosial.

Bagi saya, percakapan itu penting. Persoalannya ternyata bukan hanya akses anak terhadap media sosial. Persoalannya juga menyangkut hubungan antara anak dan orang tua.

Orang tua memang perlu membuat batas. Namun, batas tersebut perlu berjalan bersama komunikasi. Anak membutuhkan aturan, tetapi anak juga membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita ketika menghadapi persoalan digital.

Media Sosial Juga Membawa Perbedaan Pendapat ke Dalam Keluarga

Pembicaraan dengan warga juga membawa kami pada persoalan lain, yaitu penggunaan media sosial dalam isu politik.

Para ibu melihat bahwa perbedaan pandangan politik dapat memunculkan perdebatan di media sosial. Kritik terhadap pemerintah memang merupakan bagian dari kehidupan demokratis. Namun, perdebatan yang tidak terkelola kadang berkembang menjadi "serangan personal". Bahkan, anggota keluarga yang memiliki pandangan berbeda dapat ikut terkena dampaknya.

Persoalan ini menarik karena menunjukkan bahwa konflik di media sosial tidak selalu berhenti di layar. Komentar yang kita tulis di media sosial dapat memengaruhi hubungan yang kita jalani di dunia nyata.

Karena itu, literasi digital dalam konteks ini tidak seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk berhenti mengkritik pemerintah atau menghindari perbedaan pendapat. Kritik tetap penting. Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk menyampaikan kritik terhadap gagasan atau kebijakan tanpa menyerang pribadi, memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghargai perbedaan, dan mempertimbangkan dampak sebuah unggahan terhadap orang lain.

Dari “Apa yang Harus Kami Ajarkan?” Menjadi “Apa yang Sedang Mereka Hadapi?”

Dua persoalan tersebut membuat saya melihat kembali cara kita menyusun kegiatan literasi digital.

Selama ini, kita mungkin terbiasa memulai kegiatan dengan pertanyaan: materi apa yang harus diberikan kepada masyarakat?

Pertanyaan itu tidak salah. Kita memang perlu memiliki materi dasar yang dapat membantu masyarakat memahami keamanan, etika, dan kecakapan digital.

Namun, pengalaman di Desa Lebih membuat saya merasa perlu menambahkan satu pertanyaan sebelum menentukan materi: persoalan digital apa yang sedang mereka hadapi?

Perbedaan kedua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi membawa konsekuensi yang berbeda.

Pertanyaan pertama menempatkan kita sebagai pihak yang membawa pengetahuan. Pertanyaan kedua mengajak kita mendengarkan pengalaman masyarakat. Dari sana, kita dapat menemukan kebutuhan yang mungkin tidak terlihat dari luar.

Masyarakat juga bukan ruang kosong yang hanya menunggu untuk diberi pengetahuan. Mereka sudah menggunakan teknologi, berhadapan dengan persoalan digital, dan memiliki pengalaman dalam menghadapinya. Tugas kita bukan hanya memberikan jawaban, tetapi juga memahami pertanyaan yang sedang mereka hadapi.

Infografis yang Lahir dari Percakapan

Pendekatan tersebut kemudian kami terapkan dalam penyusunan media edukasi. Kami tidak menentukan seluruh isi infografis hanya dari materi yang sudah kami siapkan. Kami menggunakan persoalan yang muncul dalam diskusi sebagai salah satu dasar untuk menentukan pesan.

Sesi diskusi bersama ibu-ibu PKK dan Bunda PAUD Desa Lebih, Kabupaten Gianyar, Bali. Dok. Ist

Infografis pertama berfokus pada pendampingan orang tua dalam penggunaan media digital oleh anak. Pesannya menekankan komunikasi terbuka, aturan penggunaan media digital, pendampingan aktivitas anak, perlindungan privasi, dan keteladanan orang tua.

Infografis kedua berfokus pada komunikasi yang sehat ketika masyarakat menghadapi perbedaan pendapat di media sosial. Pesannya mengajak warga memeriksa informasi, menyampaikan kritik dengan santun, menghargai perbedaan, dan tidak memperkeruh konflik.

Bagi saya, proses tersebut menjadi bagian dari literasi digital itu sendiri. Kami tidak hanya memberikan pesan kepada masyarakat. Kami terlebih dahulu mendengarkan mereka untuk memahami pesan seperti apa yang paling dekat dengan kehidupan mereka.

Literasi Digital Perlu Berangkat dari Persoalan Warga

Saya tidak melihat pendekatan ini sebagai pengganti literasi digital yang bersifat umum. Pengetahuan dasar tetap penting. Masyarakat tetap perlu belajar memeriksa informasi, menjaga data pribadi, memahami keamanan digital, dan berkomunikasi secara etis. Namun, pengetahuan tersebut perlu menemukan konteksnya. Literasi digital akan terasa berbeda ketika kita membicarakan “privasi” dengan orang tua yang sedang memikirkan foto anaknya di media sosial. Pesan tentang “etika” juga akan terasa berbeda ketika kita membicarakannya dengan warga yang sedang menghadapi perbedaan pandangan politik dengan anggota keluarganya.

Di sinilah saya melihat desa memiliki posisi yang penting. Desa bukan hanya tempat untuk menyampaikan program literasi digital. Desa juga dapat menjadi ruang untuk mendengarkan pengalaman warga, menemukan persoalan yang mereka hadapi, dan bersama-sama menentukan bentuk komunikasi yang paling sesuai.

Kita mungkin tidak kekurangan materi tentang cara menggunakan media sosial. Yang mungkin masih kurang adalah kemauan untuk bertanya kepada masyarakat: persoalan digital apa yang sedang mereka hadapi?

Pengalaman di Desa Lebih mengingatkan saya bahwa masyarakat tidak selalu membutuhkan lebih banyak nasihat tentang bagaimana menggunakan media sosial. Kadang-kadang, mereka membutuhkan ruang untuk membicarakan persoalan yang sudah lebih dulu hadir dalam kehidupan mereka.

Masalah literasi digital tidak selalu terletak pada kurangnya pengetahuan masyarakat. Bisa jadi, kita yang selama ini kurang mendengarkan persoalan digital yang benar-benar mereka hadapi.

Foto bersama usai diskusi. Dok. Ist