Konten dari Pengguna

Berburu Gento, Makanan Langka Khas Cianjur yang Manis nan Gurih

Gento makanan khas Cianjur. Gambar: Ilustrasi AI.
zoom-in-whitePerbesar
Gento makanan khas Cianjur. Gambar: Ilustrasi AI.

Pagi itu di Cianjur menyuguhkan atmosfer yang magis ketika kabut tipis dari Gunung Gede Pangrango perlahan terangkat oleh matahari terbit. Langkah kaki membawa penulis menyusuri hiruk-pikuk Pasar Induk Cianjur, bukan untuk mencari manisan buah atau tauco yang jamak dijumpai, melainkan memburu sebuah memori kuliner yang nyaris punah.

Di sela-sela riuhnya tawar-menawar aroma rempah, terselip sebuah nama kuno yang kini hanya diucapkan oleh para sesepuh kota, yaitu gento.

Jajanan pasar asli Cianjur ini tidak lagi memiliki panggung megah di etalase toko oleh-oleh modern di pusat kota. Keberadaannya kini laksana remah-remah sejarah yang tersembunyi di sudut terpencil pasar tradisional atau dapur rumah tangga di wilayah pelosok seperti Cibeber dan Ciranjang.

Gento adalah wujud nyata dari kecerdasan kuliner masa lalu yang memanfaatkan kesederhanaan bahan baku untuk menciptakan mahakarya rasa. Tanpa riasan warna-warni yang mencolok, penampilan fisiknya yang bersahaja justru memancarkan daya pikat eksotis dari tanah Pasundan.

Setelah bertanya kepada beberapa pedagang tua, pencarian saya berujung pada sepetak lapak beralaskan tembikar milik Mak Eha, salah satu maestro pembuat gento yang tersisa. Di atas tungku tanah liat kecil yang masih mengepulkan asap beraroma kayu bakar, adonan sederhana itu bertransformasi secara magis.

Bahan baku utama pembuatan gento sejatinya sangat minimalis, yaitu ampas kelapa muda, tepung beras, dan sejumput garam. Formula inilah yang mengikat rasa autentik tanpa intervensi pemanis buatan maupun zat kimia modern.

Proses pembuatan tradisional yang disaksikan langsung memperlihatkan betapa pentingnya kepekaan rasa sang perajin kue. Ampas kelapa yang digunakan tidak boleh terlalu tua agar kelembapan alami dan minyak nabatinya tetap terjaga saat bercampur dengan tepung beras.

Campuran tersebut diaduk secara manual menggunakan tangan hingga membentuk tekstur butiran kasar yang siap dicetak dan dikukus atau dipanggang di atas wajan pipih. Kesabaran adalah bumbu rahasia yang paling utama karena api tungku harus dijaga konstan agar bagian luar kue matang merata tanpa menyisakan rasa getir gosong.

Ketika sepotong gento hangat mendarat di telapak tangan yang beralaskan daun pisang, petualangan sensorik yang sesungguhnya pun dimulai. Saat digigit, jalinan tekstur unik yang renyah di bagian luar namun tetap lembut dan kenyal di bagian dalam langsung menyapa dinding mulut.

Dominasi cita rasa gurih kelapa yang sangat pekat segera mendominasi, diperkuat oleh aksen asin dari garam yang mengikat seluruh komponen rasa dengan sempurna. Cita rasa ini membawa pikiran melayang pada masa ketika kudapan komersial berminyak belum menginvasi meja-meja makan di pedesaan Cianjur.

Bagi masyarakat Cianjur tempo dulu, menikmati sepotong gento hangat ditemani secangkir teh serai pahit adalah ritual pagi yang sakral sebelum turun ke sawah. Sayangnya, modernisasi dan pergeseran selera generasi muda membuat kue legendaris ini terdorong ke tepian jurang kepunahan secara perlahan.

Ketiadaan regenerasi perajin dan minimnya publikasi media lokal membuat eksistensi gento kian hari kian meredup di tanah lahirnya sendiri. Perjalanan menyelamatkan gento dari ingatan kolektif bukan lagi sekadar urusan memanjakan lidah, melainkan sebuah misi kebudayaan yang mendesak untuk dirawat bersama.

Matahari kini sudah meninggi di ufuk timur Cianjur, meninggalkan kehangatan di sela-sela sisa rasa gurih gento yang masih melekat erat di ingatan. Menjelajahi kuliner tradisional yang langka seperti ini menyadarkan kita bahwa identitas sebuah daerah sering kali tersimpan rapat dalam kesederhanaan sebungkus jajanan pasar.

Gento menanti tangan-tangan kreatif generasi baru untuk mengangkatnya kembali dari sudut sepi kepunahan menuju panggung gastronomi nasional yang terhormat. Perjalanan pulang dari Cianjur kali ini terasa jauh lebih kaya, membawa pulang cerita tentang rasa gurih abadi yang menolak untuk dilupakan oleh zaman.

Daftar Pustaka

Traveloka Explore. (2025). "Manis dan Legendaris, Ini 7 Kue Khas Cianjur yang Wajib Dibawa Pulang." Diakses dari https://www.traveloka.com/id-id/explore/destination/kue-khas-cianjur-yang-wajib-dibawa-pulang/1007977

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur. (2024). "Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda dan Kuliner Tradisional Khas Kabupaten Cianjur."

Detik Jabar. (2023). "Menelusuri Kuliner Jadul Cianjur yang Nyaris Punah Tergerus Zaman."

Budaya Indonesia. (2019). "Gento Jajanan Tradisional Cianjur yang Mulai Langka."