Konten dari Pengguna

Melawan Stigma: Tidak Tahan Banting

Ketahanan sejati bukan kemampuan bertahan dalam sistem yang buruk. Gambar: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ketahanan sejati bukan kemampuan bertahan dalam sistem yang buruk. Gambar: Ilustrasi AI

Kita sedang menghadapi kecenderungan menyederhanakan persoalan ketenagakerjaan menjadi kelemahan mental individu. Padahal, ketahanan seseorang tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia dipengaruhi pendidikan, pengalaman, lingkungan kerja, dan kesempatan ekonomi.

Karena itu, melabeli lulusan muda sebagai generasi rapuh yang “tidak tahan banting” bukan hanya tergesa-gesa, tetapi juga berisiko menutupi persoalan yang semestinya diselesaikan bersama.

Ketahanan mental bukan kemampuan menanggung tekanan tanpa batas, melainkan kecakapan menghadapi tantangan secara sehat dan bertanggung jawab. Pekerja muda memang perlu belajar menerima kritik, mengelola emosi, dan menghadapi kegagalan. Namun, perusahaan juga harus membedakan tuntutan profesional dari budaya kerja yang merendahkan.

Karyawan yang mempertanyakan beban kerja tidak masuk akal belum tentu manja. Bisa jadi, ia sedang mengenali batas kemampuan dan mengantisipasi risiko. Sebaliknya, karyawan yang selalu diam belum tentu tangguh. Ia mungkin sekadar takut kehilangan pekerjaan.

Persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi pasar kerja. Organisasi Perburuhan Internasional dalam Global Employment Trends for Youth 2024: Decent Work, Brighter Futures (2024) menunjukkan bahwa penurunan pengangguran kaum muda secara global belum menghapus persoalan ketidakamanan kerja. Artinya, memperoleh pekerjaan saja belum menjamin masa depan yang stabil.

Dalam konteks Indonesia, persaingan mendapatkan pekerjaan yang layak juga menuntut perhatian terhadap kesesuaian keterampilan, kualitas pekerjaan, dan kesempatan pengembangan karier. Ketika peluang terbatas, kesulitan memperoleh pekerjaan tidak otomatis membuktikan kelemahan mental pencari kerja.

Di sinilah kritik terhadap lulusan muda perlu diarahkan secara lebih proporsional. Perguruan tinggi memang bertanggung jawab membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis, komunikasi, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi. Kurikulum perlu memberi ruang lebih besar bagi proyek nyata, kolaborasi, dan pengalaman profesional. Akan tetapi, perusahaan tidak dapat mengharapkan lulusan baru langsung menguasai seluruh prosedur dan budaya organisasi.

Kesiapan kerja merupakan hasil pertemuan kompetensi individu dengan kesempatan belajar. Menuntut lulusan siap pakai tanpa menyediakan pembinaan sama seperti meminta seseorang berenang sempurna sebelum diizinkan menyentuh air.

Penelitian Amy Edmondson, “Psychological Safety and Learning Behavior in Work Teams” (1999), memperlihatkan pentingnya keamanan psikologis bagi perilaku belajar dalam tim. Penelitiannya terhadap 51 tim kerja menemukan hubungan antara keamanan psikologis dan perilaku belajar.

Temuan ini mengingatkan bahwa lingkungan yang memungkinkan karyawan bertanya, mengakui kesalahan, dan meminta bantuan dapat mendukung pembelajaran. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi penghinaan bukan metode pendidikan. Tempat kerja yang sehat bukan tempat tanpa tekanan, melainkan tempat tekanan dikelola agar menghasilkan perkembangan, bukan ketakutan.

Karena itu, pemerintah, perguruan tinggi, dan industri perlu membangun sistem transisi kerja yang lebih terukur. Perguruan tinggi harus mengevaluasi kompetensi lulusan berdasarkan kebutuhan pekerjaan yang nyata.

Perusahaan perlu menyediakan orientasi, mentor, pelatihan, serta evaluasi kinerja dengan indikator transparan. Pemerintah harus memperkuat program magang bermutu, layanan informasi pasar kerja, dan penciptaan pekerjaan berkualitas.

Data tentang masa tunggu kerja, kesesuaian pekerjaan, dan perkembangan karier lulusan juga perlu dipublikasikan secara berkala. Dengan demikian, perdebatan tidak berhenti pada penilaian karakter, tetapi bergerak menuju solusi yang dapat diuji hasilnya.

Tentu saja, membela pekerja muda bukan berarti membenarkan sikap menghindari tanggung jawab. Mereka tetap harus belajar, memenuhi kesepakatan, menerima umpan balik, dan memperbaiki kinerja. Perusahaan pun berhak menetapkan standar profesional. Akan tetapi, standar harus disertai arahan yang jelas dan kesempatan berkembang.

Ketahanan sejati bukan kemampuan bertahan dalam sistem yang buruk, melainkan kemampuan berkembang menghadapi tantangan dalam sistem yang adil. Bangsa yang tangguh bukan bangsa yang meminta warganya menanggung semua kesulitan, melainkan bangsa yang berani memperbaiki kesulitan yang sebenarnya dapat diatasi.

Daftar Pustaka

Edmondson, Amy. 1999. “Psychological Safety and Learning Behavior in Work Teams.” Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.

International Labour Organization. 2024. Global Employment Trends for Youth 2024: Decent Work, Brighter Futures. Geneva: International Labour Organization. https://www.ilo.org/publications/major-publications/global-employment-trends-youth-2024.