Harga Kebutuhan Pokok Terus Naik, Siapa yang Paling Terdampak?

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sausan Haifa Aryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menjadi permasalahan yang ada di masyarakat. Harga beras, minyak goreng, telur, gula, dan sejumlah bahan pangan lainnya mengalami peningkatan dalam waktu terakhir. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh perdagang ataupun pembeli di pasar tradisional, tetapi juga memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masalah ini menjadi semakin serius karena kebutuhan pokok merupakan barang yang harus dibeli oleh setiap masyarakat. Ketika harga terus meningkat, masyarakat semakin kesulitan untuk mengatur pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dampaknya jika harga terus meningkat, masyarakat harus mengalokasikan pengeluaran yang lebih besar untuk membeli bahan pokok. Jika keadaan ini berlangsung dalam jangka waktu lama, kualitas hidup masyarakat juga dapat ikut terpengaruh.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang inflasi di Indonesia. Kondisi ini terjadi di berbagai wilayah dengan dampak yang hampir dirasakan oleh seluruh masyarakat. Meski begitu, tingkat dampak nya tidak sama. Masyarakat dengan kondisi penghasilan menengah ke atas masih memiliki ruang untuk menyesuaikan pola konsumsi mereka. Sebaliknya, masyarakat dengan kondisi penghasilan menengah ke bawah justru menghadapi kesulitan yang lebih besar karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok. Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kesejahteraan sosial masyarakat.
Fenomena kenaikan harga kebutuhan pokok dipilih sebagai objek kajian karena menimbulkan tekanan ekonomi yang nyata, terutama bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah. Kebutuhan pokok termasuk barang yang permintaannya relatif tetap meskipun harga meningkat. Masyarakat tetap harus membeli beras, minyak goreng, atau telur meskipun harganya naik. Akibatnya, kelompok berpenghasilan menengah ke bawah tidak memiliki banyak pilihan selain mengurangi konsumsi barang lain atau mengurangi jumlah kebutuhan yang dibeli. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban terbesar ditanggung oleh masyarakat yang memiliki daya beli terbatas. Fakta di lapangan juga memperlihatkan bahwa keluarga berpenghasilan menengah ke bawah sering kali harus mengubah pola konsumsi demi menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang dimiliki.
Masalah dari kenaikan harga kebutuhan pokok tidak hanya terletak pada meningkatnya harga barang. Masalah utamanya berada pada ketidakseimbangan antara pertumbuhan pendapatan masyarakat dan laju kenaikan harga kebutuhan hidup. Pada saat harga pangan naik, tidak semua kelompok masyarakat mengalami peningkatan pendapatan. Banyak pekerja sektor informal, buruh harian, petani kecil, dan pelaku usaha mikro yang pendapatannya relatif tetap. Kondisi tersebut menimbulkan kontradiksi karena kebutuhan hidup meningkat sementara kemampuan ekonomi tidak bertambah. Selain itu, distribusi pangan yang belum efisien, biaya transportasi yang meningkat, serta ketergantungan terhadap faktor cuaca sering kali memperburuk situasi. Kebijakan pengendalian harga juga terkadang belum mampu memberikan dampak yang merata sehingga masyarakat tetap menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat.
Kelompok yang paling terdampak oleh kenaikan harga kebutuhan pokok adalah rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Sebagian besar pendapatan kelompok ini dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi harian. Ketika harga beras atau bahan pangan lain meningkat, proporsi pengeluaran mereka ikut bertambah. Akibatnya, kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan tabungan harus dikurangi. Dampak tersebut tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial. Anak-anak dari keluarga kurang mampu berisiko mengalami penurunan kualitas gizi karena konsumsi makanan bergizi menjadi lebih terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia. Kenaikan harga kebutuhan pokok juga menunjukkan berkurangnya kemampuan masyarakat dalam mengelola anggaran secara efektif karena sebagian besar dana terserap untuk kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda.
Langkah yang perlu dilakukan tidak hanya berfokus pada pengendalian harga, tetapi juga pada peningkatan daya beli masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat stabilisasi pasokan pangan melalui pengawasan distribusi dan penguatan cadangan pangan nasional. Bantuan sosial harus diberikan secara tepat sasaran kepada kelompok yang paling rentan. Di sisi lain, peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat perlu menjadi prioritas agar kemampuan ekonomi rumah tangga dapat meningkat. Masyarakat juga perlu menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin dengan menyusun anggaran belanja berdasarkan kebutuhan utama. Apabila langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dapat dikurangi. Pada akhirnya, kenaikan harga kebutuhan pokok memang dirasakan oleh seluruh masyarakat, tetapi kelompok berpendapatan rendah merupakan pihak yang menanggung beban terbesar. Oleh karena itu, perlindungan terhadap daya beli masyarakat harus menjadi perhatian utama agar kesejahteraan sosial tetap terjaga.
