Konten dari Pengguna

Menghirup ‘Bom Waktu’ di TPA Supit Urang: Ketika Asap Lebih Nyata dari Solusi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sayyed Hassan Alfatih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Sayyed Hassan Alfatih

Suasana kabut asap pekat di sekitar kawasan TPA Supit Urang, Malang, dilihat dari luar area penanganan. (Foto: Dok. Pribadi/[Sayyed Hassan Alfatih])
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kabut asap pekat di sekitar kawasan TPA Supit Urang, Malang, dilihat dari luar area penanganan. (Foto: Dok. Pribadi/[Sayyed Hassan Alfatih])

Saya baru saja melangkah beberapa puluh meter mendekati kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Sukun, Kota Malang. Namun, baru sampai di batas luar di antara deretan pepohonan yang kini tertutup kabut asap abu-abu mata saya sudah perih dan dada terasa sesak. Bau plastik dan sampah terbakar begitu menusuk. Saya bahkan tak sanggup melangkah lebih jauh ke dalam untuk sekadar melihat kobaran apinya.

Dari balik layar ponsel, saya hanya bisa memotret siluet pepohonan yang tersamar pekatnya asap. Namun, dari kepulan asap yang tak sanggup saya tembus itu, satu hal menjadi sangat jelas: ada yang sedang tidak baik-baik saja dengan cara kita mengelola sampah dan mitigasi bencana di Kota Malang.

Realita di Balik Kepulan Asap

Kebakaran yang melanda area TPA Supit Urang bukan sekadar insiden kecil. Karakteristik tumpukan sampah yang menggunung memicu akumulasi gas metana di lapisan dalam. Ketika suhu puncak kemarau bertemu dengan gesekan material dan pasokan oksigen dari angin kencang, area TPA bertransformasi menjadi titik api yang sangat sulit dipadamkan hanya dari permukaan.

Dampaknya pun tidak berhenti di dalam pagar TPA. Kepulan asap yang membawa partikel berbahaya merayap ke permukiman warga di kawasan Sukun, Mulyorejo, hingga mengganggu aktivitas harian masyarakat. Secara data kesehatan lingkungan, paparan asap dari pembakaran sampah anorganik seperti plastik mengandung zat beracun yang berisiko tinggi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagi warga sekitar.

Melampaui Narasi ‘Faktor Cuaca’

Dalam berbagai peristiwa kebakaran fasilitas publik, faktor cuaca sering kali dijadikan alasan utama. Angin kencang dan suhu terik memang menjadi akselerator penyebaran api, tetapi menjadikannya satu-satunya dalih adalah bentuk penyederhanaan masalah.

TPA Supit Urang adalah Objek Vital Daerah dengan risiko ekologis tinggi. Ketika peristiwa serupa terus berulang di musim kering, pertanyaannya bergeser dari mengapa api muncul menjadi bagaimana sistem pengawasan dan deteksi dini dijalankan. Pengawasan terhadap potensi pembakaran liar (open burning) di sekitar kawasan serta pemantauan titik panas (hotspot) gas metana seharusnya menjadi prosedur standar yang diperketat jauh sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Langkah Konkret dan Evaluasi Terukur

Guna mencegah TPA Supit Urang menjadi 'bom waktu' tahunan, langkah pemadaman reaktif perlu diimbangi dengan perbaikan tata kelola yang terukur:

  1. Sistem Pemantauan Gas Metana: Mengoptimalkan tata kelola sanitary landfill dengan pemantauan suhu dan sistem pipa ekstraksi gas metana secara berkala untuk menekan risiko penyulutan alami di dalam tumpukan.

  2. Pengawasan Area dan Deteksi Dini: Memperketat sterilisasi zona bahaya TPA dari aktivitas pembakaran sampah liar serta menempatkan sensor atau patroli rutin selama puncak kemarau.

  3. Edukasi Pemilahan Sampah dari Hulu: Mengurangi volume sampah plastik dan anorganik yang masuk ke TPA melalui penguatan bank sampah dan pemilahan di tingkat RT/RW, sehingga material pemicu asap beracun dapat ditekan.

Foto pepohonan tertutup asap yang saya tangkap lewat layar ponsel hari itu mungkin tidak merekam kobaran api di titik pusat. Namun, pekatnya asap tersebut sudah cukup menjadi bukti otentik bahwa Kota Malang memerlukan mitigasi bencana yang jauh lebih siaga dan tata kelola sampah yang berkelanjutan.