Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Kisah Ale yang Urung Bunuh Diri

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sayyida Fathma Zayyida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati terasa seperti diajak cermin diri: menyadari bahwa di balik kisah Ale yang depresi dan urung menyerah, selalu ada alasan-alasan kecil yang membuat hidup ini layak untuk diperjuangkan kembali.
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Kehidupan Perasaan hampa, kesepian, dan kejenuhan yang menumpuk sering kali membuat kita mempertanyakan satu hal: apakah hidup ini masih pantas untuk dilanjutkan? Pertanyaan berat inilah yang muncul saat saya membaca
Di awal cerita Novel, kita diperkenalkan dengan hidup tokoh Ale, seorang pekerja kantoran berusia 37 tahun yang mengidap depresi akut. Postur tubuhnya yang besar, trauma masa kecil akibat cemoohan lingkungan, serta rasa diabaikan oleh keluarga membuat Ale merasa dirinya hanyalah "pemeran pembantu" yang tak berharga dan sangat mudah digantikan. Puncaknya, di hari ulang tahunnya yang sepi, Ale mengambil keputusan nekat untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir bekerja dengan cara yang sangat unik dan menggelitik. Niatnya terhalang oleh sebuah aturan sepele pada kemasan obat: "dikonsumsi sesudah makan". Ale yang merasa lapar kemudian berniat menyantap seporsi mie ayam langganannya sebagai "hidangan sarapan terakhir." Siapa sangka, pencarian seporsi mie ayam itu justru menjadi awal dari petualangan tak terduga selama tiga minggu. Dari niat meminta dibuatkan mangkuk mie ayam terakhir, Ale malah terseret dalam serangkaian peristiwa absurd: masuk penjara karena salah tangkap, menjadi anak buah gembong preman bernama Murad, hingga bertemu dengan orang-orang marjinal seperti pekerja dunia malam, bapak penjual layangan, hingga seorang penjual kerupuk tunanetra. Membaca perjalanan Ale membuat saya sadar bahwa novel ini bukan sekadar fiksi hiburan. Ada banyak makna mendalam yang rasanya sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari.
Belajar Menerima, Bukan Selalu Berpikir Positif (Acceptance)
Salah satu pesan paling kuat dalam buku ini adalah pentingnya penerimaan. Selama ini kita sering dipaksa untuk selalu "berpikir positif" atau dipaksa bahagia. Padahal, berpura-pura baik-baik saja justru menyiksa batin. Melalui cerita Pak Uju si penjual layangan dan Pak Jipren si penjual kerupuk, kita diajar bahwa kunci bertahan hidup adalah kemampuan untuk menerima keadaan (acceptance) menerima bahwa tidak semua hari akan berjalan indah, tidak semua rencana akan lancar, dan itu semua adalah hal yang wajar.
Kebaikan Kecil yang Berdampak Besar
Ale sering merasa dirinya tidak berguna. Namun, saat bertemu Ipul (rekan OB di kantornya), Ale baru menyadari bahwa seloyang kue pandan dan traktiran makan siang yang pernah ia berikan dengan tulus sangat berarti bagi Ipul dan keluarganya. Hal ini mengingatkan kita untuk tidak pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi, tindakan sederhana yang kita anggap sepele adalah jawaban atas doa orang lain.
"Melihat" Dunia dengan Rasa dan Hati
Lewat karakter Pak Jipren yang tunanetra, kita diingatkan bahwa mata bukanlah satu-satunya alat untuk menilai dunia. Terkadang kita terlalu cepat menghakimi orang lain hanya dari penampilan atau status sosialnya. Padahal, saat kita mau mendengarkan dan menggunakan perasaan, kita akan menemukan ketulusan dan kehangatan di tempat-tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya. Pada akhirnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati terasa seperti pelukan hangat di kala lelah. Buku ini mengajarkan kita untuk berhenti terlalu keras pada diri sendiri dan mulai menghargai pencapaian-pencapaian kecil setiap hari.
Jika hari ini kamu merasa hidupmu begitu berat dan ingin menyerah, cobalah untuk rehat sejenak. Ingatlah bahwa selalu ada alasan kecil bahkan sesederhana menyantap mangkuk mie ayam favorit besok pagi yang membuat hidup ini masih sangat layak untuk diperjuangkan sekali lagi.
