Konten dari Pengguna

Belum dikerjakan, Ko Udah Stress Duluan?

Ilustrasi seseorang yang merasa stres saat menghadapi pekerjaan. Foto: Anna Shvets/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang merasa stres saat menghadapi pekerjaan. Foto: Anna Shvets/Pexels

Pernah nggak, kamu punya tugas yang tenggat waktunya masih beberapa hari lagi, tetapi sudah merasa stres saat mengingatnya? Belum mulai mengerjakan, tetapi pikiran sudah ke mana-mana. Takut nggak selesai tepat waktu, khawatir hasilnya kurang bagus, sampai membayangkan betapa capeknya proses yang harus dilewati.

Padahal, pekerjaannya saja belum dimulai.

Hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan cuma soal tugas kuliah, tetapi juga pekerjaan atau hal lain yang harus diselesaikan. Kita tahu apa yang harus dilakukan, tetapi semakin memikirkannya, semakin berat rasanya untuk mulai.

Terkadang, yang membuat kita stres bukan hanya pekerjaannya, tetapi juga semua kemungkinan yang kita bayangkan sebelum menghadapinya.

Misalnya, saat punya tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Seharusnya, kita bisa mulai dengan membaca materi atau menyusun kerangka. Namun, pikiran justru sibuk membayangkan bagaimana kalau tugasnya sulit, waktunya nggak cukup, atau hasilnya nggak sesuai harapan.

Padahal, semua itu belum tentu terjadi.

Kita sering ingin menyelesaikan semuanya di kepala sebelum benar-benar mengerjakannya. Satu tugas yang sebenarnya bisa dicicil sedikit demi sedikit malah terasa seperti banyak masalah yang harus dihadapi sekaligus.

Tanpa sadar, kita juga bisa merasa sudah lelah hanya karena terus memikirkan pekerjaan tersebut. Waktu habis untuk mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi, sementara pekerjaannya masih belum tersentuh.

Akhirnya, kita memilih menunda dan melakukan hal lain yang terasa lebih menyenangkan. Namun, tugas yang belum selesai tetap ada di pikiran. Semakin dekat dengan tenggat waktu, semakin besar pula rasa panik yang muncul.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah berhenti memikirkan pekerjaan sebagai satu beban besar yang harus langsung diselesaikan. Kita nggak harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Coba mulai dari bagian yang paling mudah dan fokus pada apa yang bisa dikerjakan sekarang.

Kalau masih terasa berat, coba paksa diri untuk mulai selama 5–10 menit saja. Nggak perlu langsung menargetkan semuanya selesai. Cukup buka laptop, baca materi, atau kerjakan satu bagian kecil terlebih dahulu.

Sering kali, bagian tersulit justru saat kita harus memulai. Setelah mulai mengerjakan, kita bisa lebih mudah melanjutkan karena sudah punya gambaran tentang apa yang harus dilakukan. Kalau ternyata masih terasa sulit, setidaknya kita sudah mengambil satu langkah daripada terus memikirkannya tanpa mulai sama sekali.

Selain itu, kita bisa membayangkan hal menyenangkan yang ingin dilakukan setelah pekerjaan selesai. Misalnya, menonton film, bermain gim, atau beristirahat tanpa harus terus memikirkan tugas yang belum selesai. Hal sederhana seperti ini bisa menjadi motivasi agar kita lebih semangat menyelesaikan pekerjaan.

Jangan lupa memberikan waktu istirahat. Setelah bekerja sekitar 40 menit, kita bisa beristirahat selama 5 menit sebelum melanjutkan lagi. Dengan begitu, kita punya kesempatan untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali fokus.

Yang nggak kalah penting, coba ubah cara kita berbicara kepada diri sendiri. Daripada terus berpikir bahwa pekerjaan ini sulit dan melelahkan, tanamkan pikiran, “Ini bisa dikerjakan, kerjakan dulu saja.” Bukan berarti pekerjaannya pasti mudah, tetapi kita memberi diri sendiri kesempatan untuk mencoba sebelum buru-buru merasa kewalahan.

Pada akhirnya, kita memang nggak bisa menghindari semua kekhawatiran. Namun, jangan sampai terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi justru membuat kita kesulitan melakukan apa yang sebenarnya bisa dimulai hari ini.

Sebab, terkadang yang membuat kita lelah bukan hanya banyaknya pekerjaan, tetapi juga pikiran kita sendiri yang sudah sibuk menghadapi semuanya sebelum waktunya.