Saat Presiden Jadi Algojo: Membedah "Pestol" lewat Teori Burhan Nurgiyantoro

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Shafira Najma Fauziyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen "Pestol" karya Angga Putra Mahardika menampilkan sosok presiden yang mengeksekusi koruptor dengan tangannya sendiri, disiarkan langsung ke seluruh negeri. Ceritanya bukan sekadar drama politik fiksi, tapi cermin kegelisahan kita tentang keadilan, kekuasaan, dan batas hukum.
Sejak paragraf pertama, "Pestol" langsung menampar pembaca dengan citra yang tidak biasa: seorang presiden dengan pistol terselip di pinggang, berjalan cepat menuju ruang eksekusi. Lima terpidana korupsi duduk dengan kaki dirantai dan leher dibelenggu balok besi.
Tanpa pengadilan berlapis, tanpa basa-basi, presiden menembak mereka satu per satu, disaksikan kamera yang menyiarkannya secara langsung ke seluruh negeri. Cerita kemudian bergulir lewat sudut pandang seorang ajudan setia, yang menyaksikan dari dekat bagaimana popularitas sang pemimpin tumbuh sekaligus bagaimana musuh-musuh barunya mulai bergerak.
Untuk membedahnya, tulisan ini memakai kerangka analisis fiksi dari Burhan Nurgiyantoro tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, hingga pesan moral.
Tema: Ketika "Demi Rakyat" Berubah Jadi Alasan Membunuh
Tema utama "Pestol" adalah paradoks kekuasaan: presiden mengaku sebagai "pembantu rakyat", tapi mengeksekusi pelaku korupsi tanpa proses peradilan ia sendiri justru berada di luar hukum yang seharusnya dijunjungnya.
Tema ini diperkuat dengan kemunculan kelompok bisnis "tujuh naga" yang merasa terancam oleh sikap antikorupsinya, menyiratkan kritik terhadap kolusi politik-ekonomi. Seperti kata teoretikus sastra Burhan Nurgiyantoro, tema dalam cerita memang tidak pernah berdiri sendiri ia selalu terjalin erat dengan plot dan penokohan.
Alur: Drama yang Disusun Serapi Protokol Negara
"Pestol" memakai alur yang sebagian besar linear, lurus ke depan, diselingi sorot balik singkat saat presiden mengenang keluarganya yang tewas akibat bencana alam. momen yang menjelaskan motif personalnya dalam memerangi korupsi.
Tahap awal cerita memperkenalkan ritual eksekusi dan popularitas presiden. Tahap tengah membangun konflik lewat tekanan dari kelompok "tujuh naga" serta desas-desus ketidakpuasan publik. Tahap akhir berisi klimaks: serangan bom oleh seorang "wartawan" menyamar, yang menewaskan sang ajudan dan membuat presiden sendiri koma.
Ironisnya, cerita ditutup bukan dengan kemenangan, melainkan datangnya surat pemberhentian presiden dari jabatannya sebelum masa jabatannya berakhir dari TNI-Polri. Akhir yang menegaskan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kekerasan, sekeras apa pun niatnya, rentan menelan penggagasnya sendiri.
Penokohan: Presiden, Sang Ajudan, dan Bayang-Bayang Tujuh Naga
Presiden jelas berperan sebagai tokoh utama sekaligus protagonis yang ambigu ia digambarkan sebagai pelayan rakyat yang rela berkorban, namun metodenya melanggar prinsip negara hukum. Ambiguitas inilah yang membuatnya tak sepenuhnya pahlawan maupun penjahat: sebuah karakter "bulat", bukan hitam-putih.
Tokoh "aku", sang ajudan, berfungsi sebagai tokoh tambahan yang menjadi saksi mata sekaligus penyeimbang emosional cerita. Keadaan diwakili aparat negara yang loyal namun gelisah. Sementara "tujuh naga" muncul sebagai kekuatan antagonis yang tidak pernah hadir secara personal, namun pengaruhnya terasa lewat negosiator dan tekanan ekonomi-politik yang mereka kerahkan.
Karakterisasi dalam cerpen ini dominan memakai teknik dramatic. Watak tokoh ditunjukkan lewat tindakan dan dialog, bukan penjelasan langsung dari pengarang. Ketegasan presiden, misalnya, lebih terasa lewat caranya menjawab wartawan secara blak-blakan dibanding lewat deskripsi sifatnya secara langsung.
Latar: Istana yang Mendadak Jadi Panggung Eksekusi
Latar tempat dalam "Pestol" berpusat di kompleks kekuasaan: ruang eksekusi yang terang oleh sorot matahari, ruang konferensi pers yang dipenuhi kamera, hingga "istana rakyat" yang menjadi titik kumpul warga.
Latar waktu digambarkan kontemporer-futuristik, dengan penyebutan presiden ke-10 dan bencana banjir rob tahun 2025 sebagai penanda zaman yang dekat dengan realitas kita hari ini. Latar sosial memperlihatkan masyarakat yang lelah dengan korupsi, sampai rela merayakan eksekusi jalanan layaknya pesta rakyat.
Yang menarik, penamaan "istana rakyat" alih-alih istana negara yang berjarak dari rakyat jadi simbol ironis tentang kekuasaan yang mengklaim merakyat, namun dijalankan dengan cara yang jauh dari prinsip demokrasi dan hukum.
Sudut Pandang: Mata yang Setia tapi Tidak Mahatahu
"Pestol" memakai sudut pandang orang pertama "aku" sang ajudan presiden yang menceritakan semua peristiwa dari jarak paling dekat, namun tetap tidak mengetahui isi kepala presiden sepenuhnya.
Pilihan ini penting secara strategis, pembaca dibuat sama gelisahnya dengan sang ajudan yang mengikuti, mengagumi, sekaligus mencurigai presiden yang dilayaninya, tanpa pernah benar-benar diberi akses ke motif batinnya secara utuh. Efeknya, presiden tetap menjadi figur misterius dan ambivalen sampai akhir cerita, sesuatu yang akan hilang seandainya cerpen ini ditulis dari sudut pandang "dia" mahatahu yang membongkar semua isi pikiran tokohnya.
Gaya Bahasa: Diksi Tajam, Metafora Menohok
Salah satu kekuatan "Pestol" terletak pada pemajasan yang ekonomis namun tajam, tangan presiden yang diibaratkan "seperti penggaris" saat mengarahkan pistol, atau sorak-sorai warga yang digambarkan "seperti tangis semut di dalam sarang", metafora yang sekaligus mengecilkan dan mengasingkan suara rakyat di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.
Pesan Moral: Keadilan yang Memakan Dirinya Sendiri
"Pestol" menyimpan kritik sosial yang gamblang: hasrat memberantas korupsi, sekeras dan setulus apa pun, tidak bisa dibenarkan jika ditempuh dengan menabrak prinsip negara hukum dan hak asasi manusia.
Cerita ini tidak menempatkan presidennya sebagai pahlawan tunggal atau penjahat tunggal, melainkan sebagai cermin dilema kolektif. Ketika institusi hukum dianggap lambat dan korup, publik kerap tergoda merayakan jalan pintas kekerasan padahal jalan itu, seperti yang ditunjukkan akhir cerita, pada akhirnya rentan berbalik menghancurkan siapa pun yang menempuhnya, termasuk niat baik yang melatarinya.
DAFTAR PUSTAKA
Mahardika, Angga Putra (2026, 10 Apr). “Pestol”.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
