Konten dari Pengguna

Mahasiswa Ekonomi Syariah Gelar PKM untuk Meningkatkan Literasi Keuangan Remaja

Shafrina

Shafrina

Mahasiswi S-1 Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shafrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dokumentasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto dokumentasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (dokumentasi pribadi)

Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di MA Al-Hidayah Rawadenok, Depok, Jawa Barat, pada 22 September 2026. Kegiatan bertema “Edukasi Ekonomi Syariah untuk Meningkatkan Literasi Keuangan Remaja” ini menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mengenalkan pentingnya mengelola keuangan sejak usia remaja.

Kegiatan didampingi oleh dua dosen, yaitu Ibu Nufzatutsaniah, S.E.I., M.E. dan Ibu Dr. Nurismalatri, S.E.I., M.M. bersama lima mahasiswa, yaitu Dzulasis Dwi Saputra, Ridho Permana, Muhammad Vizar Fahrezi, Shafrina Nur Rasyida, dan Rike Alpiah. Para mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berinteraksi langsung dengan siswa agar pembahasan literasi keuangan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan PKM diawali dengan pemotongan pita bersama Kepala Sekolah MA Al-Hidayah sebagai tanda dimulainya acara. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua PKM sekaligus dosen pendamping, Ibu Nurismalatri, serta Kepala Sekolah MA Al-Hidayah, Bapak Hasanudin. Setelah pembukaan, mahasiswa menyampaikan materi mengenai ekonomi syariah dan literasi keuangan.

Pemotongan pita pembukaan kegiatan PKM (dokumentasi pribadi)

Dalam materi, siswa diajak memahami bahwa kondisi keuangan bukan hanya ditentukan oleh banyaknya uang yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana uang tersebut dikelola. Misalnya, dengan uang saku Rp15.000 per hari, menyisihkan Rp2.000 secara rutin sudah dapat membentuk kebiasaan menabung. Sebaliknya, uang saku yang lebih besar belum tentu menghasilkan tabungan jika selalu dihabiskan. Dari sini, siswa belajar bahwa kebiasaan dan keputusan dalam menggunakan uang memiliki peran penting dalam mengatur keuangan.

Pembahasan kemudian dikaitkan dengan kehidupan remaja di era digital. Media sosial diibaratkan sebagai “etalase, bukan realita” karena apa yang terlihat di dalamnya belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Berbagai unggahan tentang gaya hidup dan tren juga dapat memicu FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal, sehingga seseorang terdorong untuk mengikuti orang lain. Karena itu, siswa diajak untuk tidak menjadikan apa yang terlihat di media sosial sebagai ukuran kebahagiaan maupun keberhasilan.

Siswa juga diajak memahami bahwa menabung bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menyisihkan Rp1.000 setiap hari secara konsisten untuk melatih disiplin dan tanggung jawab dalam mengelola uang. Di sisi lain, penggunaan teknologi juga perlu diimbangi dengan kesadaran dan kontrol diri karena iklan, algoritma, dan tren dapat memengaruhi keputusan belanja. Karena itu, remaja perlu membiasakan diri memilih berdasarkan kebutuhan, bukan hanya karena keinginan atau mengikuti tren.

Penyampaian materi edukasi ekonomi syariah kepada siswa dan siswi (dokumentasi pribadi)
Siswa dan siswi menyimak materi yang disampaikan mahasiswa (dokumentasi pribadi)

Selanjutnya, agar kegiatan lebih interaktif, materi dilanjutkan dengan sesi kuis. Siswa diberikan kesempatan untuk mengingat kembali materi sekaligus berpartisipasi secara aktif. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan kebutuhan dan keinginan, kebiasaan menabung, serta prinsip 3T. Melalui sesi ini, siswa dapat menguji pemahaman mereka dengan cara yang lebih menyenangkan.

Setelah sesi kuis selesai, kegiatan PKM ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran acara. Selanjutnya, dilakukan penutupan bersama dan penyerahan plakat secara simbolis kepada pihak sekolah sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin. Kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama mahasiswa, dosen pendamping, dan kepala sekolah sebagai dokumentasi sekaligus penutup rangkaian PKM.

Sesi kuis bersama siswa (dokumentasi pribadi)

Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa literasi keuangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengatur uang saku, menabung, menahan diri sebelum membeli, dan tidak mudah mengikuti tren. Dalam ekonomi syariah, harta perlu dikelola secara seimbang sesuai kebutuhan dan kemampuan, dengan tetap memperhatikan nilai halal, berkah, dan manfaat.

Pada akhirnya, literasi keuangan bukan hanya soal menggunakan uang, tetapi juga tentang bijak dalam mengambil keputusan. Kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten sejak dini dapat menjadi bekal bagi remaja untuk menghadapi kehidupan digital dengan tetap bertanggung jawab dan berpegang pada nilai-nilai ekonomi syariah.

Foto bersama dosen, guru, dan mahasiswa sebagai penutupan kegiatan (dokumentasi pribadi)