Konten dari Pengguna

Kelompok 13 MMD UB 2025 Membangun Kesadaran Inklusif di Desa Klampok

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shahifa Birru Muthahari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa MMD UB dan Anak-anak TPQ Bahrul Ulum. Foto: Sumber, Pribadi 2025
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa MMD UB dan Anak-anak TPQ Bahrul Ulum. Foto: Sumber, Pribadi 2025

Kesadaran akan pentingnya komunikasi dan akses yang inklusif bagi penyandang disabilitas, khususnya teman Tuli, masih menjadi tantangan besar di masyarakat. Hal ini ditemukan secara langsung oleh salah satu anggota tim Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya 2025 di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dalam interaksi sehari-hari, masih banyak warga yang menggunakan istilah seperti “bisu” atau menyebut bahasa isyarat sebagai “bahasa bisu” untuk merujuk pada teman Tuli. Hal ini mencerminkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap identitas dan budaya Tuli yang sesungguhnya.

Berangkat dari realitas tersebut, Shahifa Birru, salah satu anggota tim MMD, menginisiasi program pengabdian masyarakat untuk mendorong inklusivitas melalui program ‘Deaf Awareness dan Pelatihan Isyarat BISINDO. Program ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang lebih tepat tentang disabilitas pendengaran serta memperkenalkan dasar-dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) kepada masyarakat umum. Harapannya, masyarakat tidak lagi menyamakan teman Tuli dengan istilah "bisu" atau “tuna rungu”, melainkan mengenali mereka sebagai individu dengan identitas dan budayanya sendiri dan setara dalam hak berkomunikasi.

Mahasiswa Tuli MMD UB Mengajari Isyarat. Foto: Sumber Pribadi, 2025

Kegiatan ini dilaksanakan di TPQ Bahrul Ulum, pada hari selasa tanggal 22 Juli. Peserta yang hadir mencakup anak-anak santri TPQ, para ustadz dan ustadzah pengajar, serta beberapa orang tua santri. Pemilihan lokasi TPQ bukan tanpa alasan, mengingat TPQ menjadi pusat interaksi keagamaan dan pendidikan informal masyarakat yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai inklusivitas sejak dini. Program ini juga didukung dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Rizky Fadilla Agustin Rangkuti, S.Pi., M.Si.

Pada sesi pertama, peserta diajak memahami apa itu teman Tuli, kenapa penggunaan istilah seperti “bisu” atau “tuna rungu” itu tidak tepat, dan juga bahwa teman Tuli punya identitas budaya sendiri yang harus dihargai, bukan dikasihani. Sesi kedua dilanjutkan dengan pengenalan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Materinya mencakup abjad A sampai Z, cara menyapa, memperkenalkan diri, serta kosakata sederhana yang bisa dipakai untuk berkomunikasi dalam sehari-hari. Anak-anak TPQ terlihat sangat antusias, beberapa bahkan langsung mencoba mengisyaratkan nama mereka ke teman-temannya. Ustadz dan ustadzah serta para orang tua yang hadir juga ikut memperhatikan dan mencoba menirukan gerakan tangan yang diajarkan.

Dari pelaksanaan program ini, terdapat beberapa output yang berhasil dicapai, seperti media edukasi BISINDO dasar, dokumentasi kegiatan, serta respon positif dari masyarakat yang menunjukkan ketertarikan lebih lanjut terhadap bahasa isyarat. Menurut Shahifa Birru, anggota MMD UB kelompok 13 sebagai penanggung jawab program Deaf Awareness dan pelatihan BISINDO, perubahan paling terasa justru datang dari anak-anak. “Setelah program selesai, anak-anak kalau mau bicara sama aku udah berusaha eja pakai isyarat. Keren banget sih. Mereka jadi lebih peka, lebih berani komunikasi meskipun dengan cara yang berbeda,” ungkapnya.

Program ini menjadi kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian SDG 10: Mengurangi Ketimpangan, dengan mendorong kesetaraan akses komunikasi bagi teman Tuli serta membangun kesadaran inklusif di tengah masyarakat. Harapannya, kesadaran yang tumbuh dari kegiatan ini dapat terus berkembang menjadi kebiasaan yang memberdayakan semua pihak, tanpa terkecuali.

Mahasiswa MMD UB dan Anak TPQ Bahrul Ulum. Foto: Sumber Pribadi, 2025