Kuliah Sambil Kerja: Delapan Jam Untuk Sebuah Kemandirian

Mahasiswa Aktif S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Shelomita Friska Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore itu suasana di Jl. Letjen Sutoyo tampak sunyi. Matahari perlahan mulai turun menandakan sore akan segera berganti malam. Sesekali ada kendaraan yang ramai melintas, tetapi suasana tidak selalu padat. Berbeda sekali dengan apa yang di alami sebuah laundry yang sepertinya sedang padat-padatnya hari ini. Di sebuah sudut jalan dekat pertigaan, Laundry Pelangi tetap menjalankan kesibukannya. Pakaian pelanggan datang silih berganti, membawa berkilo-kilo tumpukkan yang menunggu untuk dicuci sebelum akhirnya kembali kepada pemiliknya.
Di balik aktivitas tersebut ada Endang (20), Mahasiswa S1 Manajemen Bisnis Universitas Aisyiyah Surakarta (UNISA Surakarta), yang menjalani kesehariannya sebagai pekerja full-time laundry sekaligus mahasiswa. Bagi sebagian mahasiswa, waktu pulang kuliah adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu karena bisa kita gunakan untuk istirahat setelah hari yang melelahkan. Namun bagi Endang berakhirnya kelas bukan berarti aktivitas hari itu selesai. Masih ada pekerjaan lain yang menunggunya hingga malam. Setiap pagi, Endang memulai harinya dengan mengikuti perkuliahan. Setelah kelas selesai, ia langsung berangkat menuju tempat kerja. Tidak banyak waktu untuk beristirahat karena pukul 12.00 ia sudah harus tiba di laundry. Waktu makan siang menjadi jeda singkat sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.
Rutinitas itu sudah dijalaninya sejak November 2025, tepat ketika ia memasuki semester pertama perkuliahan. Endang telah terbiasa membagi waktunya antara bangku kuliah dan pekerjaan penuh waktu sejak awal menjadi mahasiswa. Kesempatan bekerja tersebut bermula dari informasi sederhana sang kakak yang memberi tahu bahwa sebuah laundry sedang membuka lowongan pekerjaan. Endang tidak menunggu terlalu lama setelah mendengar kabar itu. Sepulang kuliah ia langsung mendatangi laundry tersebut untuk mengajukan lamaran. Ia pun langsung menjalani wawancara. Keputusan itu kemudian menjadi awal dari rutinitas yang terus dijalaninya sampai sekarang. Keputusan Endang untuk bekerja sambil kuliah bukan sekadar pilihan untuk mengisi waktu luang atau mencari pengalaman kerja. Ada alasan yang lebih personal di balik keputusan tersebut.
Berusaha Tidak Membebani Keluarga
Pendidikan merupakan sesuatu yang ingin tetap Endang jalani. Akan tetapi ia juga menyadari bahwa ada orang lain yang selama ini ikut berusaha agar dirinya bisa melanjutkan pendidikan, yaitu sang kakak. Kakaknya telah membantu membiayai kebutuhan kuliahnya. Dari situ muncul keinginan Endang untuk tidak terus-menerus bergantung kepada kakak dan orangtuanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia ingin mengambil tanggung jawab atas sebagian kebutuhan hidupnya sendiri dengan mencari penghasilan melalui pekerjaan.
"Alasan utama saya kerja sambil kuliah adalah tidak ingin merepotkan kakak, karena kakak saya sudah membiayai saya kuliah. Saya mau dapet uang saku sendiri dengan cara kerja dan kuliah," tuturnya.
Keinginan untuk memiliki uang sendiri menjadi salah satu alasan yang membuatnya yakin dapat menjalani dua aktivitas tersebut secara bersamaan. Keputusan yang diambil mungkin terdengar sederhana, namun bagi Endang, keputusan yang ia ambil berarti kesediaan untuk menjalani tanggung jawab yang besar. Ia tetap harus memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswa, sementara di sisi lain ada pekerjaan yang menuntut kehadirannya secara rutin. Sejak awal Endang sudah mengetahui bahwa menjalani keduanya bukan perkara mudah. Perkuliahan memiliki jadwal dan tugas yang harus diselesaikan. Pekerjaan pun memiliki tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Keduanya sama-sama membutuhkan waktu dan tenaga. Meski demikian, Endang tetap membulatkan tekadnya untuk memiliki penghasilan sendiri membuatnya tetap menjalani pilihan tersebut.
Hari-hari yang Berjalan Tanpa Jeda
Hari Endang dimulai sekitar pukul 08.00 dengan mengikuti perkuliahan hingga pukul 11.00. Setelah kelas selesai, ia langsung menuju tempat kerjanya dan tiba sekitar pukul 12.00. Waktu tersebut digunakannya untuk makan siang sekaligus beristirahat sejenak sebelum kembali memulai aktivitas. Mulai pukul 13.00 hingga 21.00, Endang menjalankan berbagai tugas di laundry. Ia bertanggung jawab menerima cucian pelanggan, menyetrika pakaian, hingga mengemasnya sebelum diserahkan kembali kepada pelanggan. Rutinitas tersebut berlangsung selama jam kerjanya. Sebagian besar waktu dalam sehari dihabiskan Endang untuk kuliah dan bekerja. Belum lagi jika dihitung dengan waktu perjalanan dan tugas-tugas kuliah yang sudah menantinya di rumah. Kesempatan untuk menikmati waktu luang pun tidak selalu tersedia karena ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Jadwalnya yang cukup padat membuat Endang harus belajar untuk beradaptasi dalam mengatur waktu istirahat dengan baik.
Salah satu waktu yang bisa ia manfaatkan untuk beristirahat adalah hari libur mingguannya. Berbeda dari sebagian pekerja yang memiliki waktu libur pada akhir pekan, Endang mendapatkan jatah libur setiap Rabu. Namun, satu hari tanpa bekerja bukan berarti seluruh waktunya bisa digunakan untuk bersantai. Hari tersebut justru menjadi kesempatan untuk menyelesaikan berbagai hal yang tertunda selama hari kerja.
"Libur hari Rabu tuh biasanya saya pakai buat kuliah. Baliknya bisa tidur siang, beresin kamar, sama ngerjain tugas yang numpuk," jelasnya.
Semua itu harus mendapat tempat di tengah waktu libur yang hanya tersedia sehari. Bagi Endang, persoalan waktu menjadi semakin berat ketika tugas kuliah datang bersamaan dengan tanggung jawab pekerjaan. Sebagai mahasiswa, ia tetap memiliki kewajiban untuk mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas. Namun, sebagai pekerja full-time, ia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya di laundry. Ia mengakui bahwa menjalani dua aktivitas tersebut membuatnya sering merasa lelah. Terlebih ketika tugas perkuliahan sedang menumpuk. "Capek sih. Jujur capek banget apalagi kalau saat tugas numpuk,” Lanjutnya. Pengakuan itu memperlihatkan bahwa kesehariannya tidak selalu berjalan mudah. Ada kalanya pekerjaan dan perkuliahan sama-sama membutuhkan perhatian dalam waktu yang berdekatan.
Tantangan Terberat Bagi Endang
Menjalani pekerjaan dan pendidikan secara bersamaan tentu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengatur jadwal. Kondisi fisik dan keadaan keluarga juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang menjalani kesehariannya.
“Paling sulit buat aku itu ya kalau badan drop dan orangtua sakit,” ungkapnya dengan suara lirih. “Rasanya pengen nangis,” Endang melanjutkan.
Di Tengah kesibukan yang ia Jalani, tubuhnya tetap perlu istirahat. Namun tidak semua bisa diselesaikan hanya dengan mengatur jadwal. Ada kalanya ia harus menghadapi keadaan yang datang di luar perkiraannya. Mungkin orang-orang hanya melihat Endang sebagai mahasiswa yang gigih dalam menjalani kehidupannya. Tetapi jika kita pahami lebih dalam, ada hal-hal pribadi yang turut menjadi bagian dari kesehariannya. Bagaimana ia tidak pernah menyerah ketika rasa lelah mulai mengambil alih, tetapi pada tubuhnya yang perlahan di ambang batas dan keluarga yang tetap menjadi bagian penting yang ia pikirkan dalam menjalankan aktivitasnya tidak di tengah kesibukannya.
Pengalaman yang Tak Ternilai
Meskipun telah belajar bagaimana cara menghadapi tantangan dari hal tidak terduga dan mengatur waktu, hal berharga lain yang didapatkan Endang selama bekerja berasal dari lingkungan tempat kerjanya sendiri. Endang merupakan karyawan paling muda di antara karyawan lain yang sudah menikah dan memiliki anak. Tidak jarang jika kehadiran rekan kerjanya bisa mengobati kerinduan dengan keluarga yang terhalang oleh waktu. "Rekan kerja di laundry juga baik dan menganggap saya seperti keluarga sendiri," ungkapnya. Sikap rekan kerja yang suportif membuat Endang tidak hanya menjalani pekerjaannya sebagai rutinitas sehari-hari. Ada hubungan baik dan rasa kebersamaan yang turut tumbuh selama ia bekerja. Lingkungan seperti ini menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa nyaman unuk terus berkembang.
Dukungan serupa juga datang dari keluarganya. Kakak dan orang tuanya menjadi orang-orang yang terus memberikan semangat agar ia tetap bisa menjalani kuliah sekaligus bekerja. "Dukungan paling besar dari kakak dan orangtua saya. Mereka selalu memotivasi dan mendukung saya untuk lebih semangat menjalani kerja dan kuliah,"lanjutnya.
Dari sini kita tahu bahwa Endang mulai memahami bahwa penghasilan yang diperoleh dari bekerja membuatnya sadar bahwa setiap uang yang dimiliki membutuhkan usaha untuk mendapatkannya. Tidak akan selalu mudah, tapi tidak akan selalu buruk juga. Kita akan selalu bisa menemukan hal positif dari setiap strunggle kita. Pengalaman bekerja sejak semester pertama telah memberinya lebih dari sekadar penghasilan. Ada kemandirian yang perlahan tumbuh, hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, serta berbagai pelajaran yang mungkin tidak ia dapatkan hanya dari bangku perkuliahan. Kemandirian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang semuanya berawal dari keinginan sederhana untuk berusaha dan bertanggung jawab atas diri sendiri.
