Konten dari Pengguna

Resensi Film Lady Bird: Pemberontakan Sebagai Canon Event Setiap Remaja?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shelomita Friska Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul: Lady Bird

Sutradara: Greta Gerwig

Tahun Rilis: 2017

Genre: Coming-of-age comedy drama

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Pernahkan kamu bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi orang dewasa? Masa di mana semua hal yang tidak bisa kita lakukan atau dapatkan ketika masih remaja, akan kita didapatkan kelak saat dewasa. Menjadi dewasa terdengar menyenangkan ketika kita masih kecil. Kita bisa bebas memilih kehidupan yang kita jalani, tidak ada jam malam, tidak ada aturan yang mengikat, dan masih banyak lagi. Setidaknya itulah yang dibayangkan oleh Lady Bird di masa remanjanya. Bagi Lady Bird, kedewasaan tampak seperti sebuah kehidupan baru yang menunggunya di luar Sacramento. Ada masa di mana tempat kelahiran terasa membosankan dibandingkan dunia luar yang terasa lebih menyenangkan. Pada usia tersebut, keinginan untuk pergi dan mencari jati diri sering kali terasa begitu besar. Namun, terkadang kita begitu ingin menjadi dewasa tanpa tahu apa saja yang kita hadapi kedepannya.

Lady Bird (2017) menceritakan tentang kehidupan seorang remaja perempuan bernama Christine “Lady Bird” McPherson (Saorise Ronan) yang memiliki keinginan besar untuk kuliah di luar Sacramento dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang layak di sana. Keinginan tersebut di hadapkan dengan banyak rintangan. Keluarga Lady Bird mengalami masalah ekonomi yang cukup berat, terutama saat sang ayah (Larry) mengalami PHK. Hal ini membuat sang ibu (Marion) harus bekerja lebih keras untuk menafkahi keluarga. Konflik antara sikap keras kepala Lady Bird dan sikap realistis Marion menjadi salah satu hal yang menonjol dari film ini. Keduanya memiliki cara berbeda untuk mengungkapkan rasa sayang mereka. Lady Bird sebagai seorang anak menginginkan pengakuan lebih dari Marion. Di sisi lain, Marion merupakan seseorang yang tegas dan realistis. Ada masa di mana mereka akan menjalani kehidupan normal dan harmonis, lalu tiba-tiba bertengkar karena suatu hal kecil, kemudian seolah tidak terjadi apa-apa di keesokan hari atau setelahnya. Lady Bird dan Marion berbaikan tanpa adanya permintaan maaf. Hubungan seperti ini dekat sekali dengan situasi beberapa keluarga di dunia nyata. Ketika menyayangi seseorang sampai pada level sepatah kata pun tidak bisa lagi mendeskripsikannya, sehingga ungkapan sayang dan kekhawatiran menjadi begitu mengganggu. Sepanjang film kita akan diperlihatkan bagaimana miss communication antara ibu dan anak ini bekerja dalam sebuah hubungan keluarga. Di masa SMA-nya, Lady Bird mulai melakukan beberapa pemberontakan. Mulai dari memberontak kepada keluarga, guru, persahabatan, juga percintaan yang bittersweet membawa tokoh utama menuju pengembangan karakternya. Film ini bukan sekedar menceritakan tentang kehidupan anak remaja di masa rebel-nya, tetapi juga tentang bagaimana cara memahami diri sendiri di saat kita masih mencari tahu siapa kita sebenarnya.

Sebagai film dengan genre coming-of-age, Lady Bird mengambil persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semua permasalahan remaja dikemas secara terstruktur dengan gaya penceritaan slice of life yang membuatnya terasa mengalir seperti di dunia nyata. Banyak yang merasa relate dengan konflik batin yang di alami Lady Bird dengan dirinya dan Sacramento. Keinginan untuk mengembangkan diri jauh dari rumah karena merasa terjebak di tempat yang sebenarnya sangat kita cintai. Lady Bird menganggap dirinya sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang dia mau, tetapi dalam beberapa hal dia masih menunjukkan beberapa sikap kekanak-kanakan dan membutuhkan pengakuan dari orang lain. Ia ingin diterima dan membuktikan bahwa dia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih besar dari sekarang. Namun, hal tersebut tidak membuat Lady Bird semata-mata menjadi karakter yang menyebalkan. Ia hanya seorang remaja keras kepala dengan mimpi yang besar. Memiliki sebuah mimpi yang besar di saat ekonomi keluarga sedang terbatas adalah situasi yang sulit, sehingga karakter Lady Bird terdengar lebih manusiawi. Kemudian, salah satu hal yang menarik dari sang tokoh utama adalah keputusannya untuk menggunakan nama "Lady Bird". Meskipun tidak ada alasan atau filosofi jelas mengenai hadirnya nama tersebut, Christine mengatakan bahwa nama tersebut merupakan nama yang dia buat sendiri. Jika kita kaitkan dengan karakter Cristine, nama Lady Bird seperti gambaran dari keinginan Christine untuk memiliki kebebasan (Bird) dalam menentukan identitasnya sendiri. Ia ingin menjadi “Lady Bird” karena nama itu adalah identitas yang ia pilih tanpa harus terikat dengan identitas aslinya.

Karakter Lady Bird divisualisasikan sebagai remaja yang memiliki rambut berwarna merah dengan punk-style sehingga menambah kesan pemberontakan remaja. Ia memiliki tekad kuat, ambisi kuat, juga karakter yang tidak menye-menye. Namun, di balik visualisasinya, Lady Bird tidak sepenuhnya menjadi anak "nakal" di sepanjang film. Ada beberapa detail kecil di mana ia bersikap dewasa dan melakukan hal-hal yang baik. Seperti contoh, ketika hubungan romansanya dengan Danny kandas, ia menerima penjelasan dengan baik dan langsung memaafkannya. Ia bahkan menawarkan pelukan dan menghibur Danny di balik kekecewaannya. Detail-detail kecil lainnya saat bagaimana Lady Bird khawatir terhadap ayahnya ketika mengetahui bahwa Larry mengalami depresi berat, usahanya untuk membuat Marion tidak cemas tentang kuliahnya. Bahkan, dia tidak menuntut orangtuanya untuk menghasilkan uang yang banyak selain permintaan kepada Larry untuk keperluan kuliah. Ia tetap bekerja keras untuk menghasilkan uang sendiri dengan bekerja di sebuah cafe. Hal ini menunjukkan bahwa karakter Lady Bird tidak sepenuhnya buruk. Lady Bird mengalami character development yang cukup significant. Lady Bird mempelajari kesalahannya setelah melalui berbagai macam konflik. Mulai dari ia yang meminta maaf kepada teman sejatinya (Julie Steffans) setelah meninggalkannya agar bisa diterima dalam lingkup pertemanan yang lebih besar, hingga di mana akhirnya ia mengakui kesalahan kepada Marion dan menanyakan bagaimana perasaannya terhadap Sacramento. Detail terpenting dari character development ini ada pada klimaks, yaitu ketika ia tidak lagi memanggil diri sebagai Lady Bird, tetapi Christine.

Film yang bagus tentunya hadir dari pemeran yang berkualitas. Kemampuan akting pemeran dalam film Lady Bird melakukan peran mereka dengan luar biasa saat membawakan karakter mereka masing-masing secara natural, terutama Saoirse Ronan dan Laurie Metcalf yang berhasil mengangkat kualitas keseluruhan film ini. Chemistry mereka sangat kuat untuk menghadirkan kesan love-hate di hubungan ibu dan anak. Di sini kita dapat melihat bahwa sebuah cara untuk menyampaikan rasa sayang bisa berbeda-beda. Terkadang kita tidak melihatnya dalam bentuk yang manis, namun sesuatu yang terkesan menyebalkan tersebut adalah sesuatu yang paling tulus yang pernah kita terima. Mereka berhasil memberikan pesan tersebut kepada penonton. Kemudian, di sepanjang film Lady Bird berkali-kali menunjukkan keinginannya untuk meninggalkan Sacramento. Menariknya, ada kontradiksi dari pandangan tersebut dalam percakapan Lady Bird dengan Sister Joan. Hal ini dilihat dari bagaimana ia mendeskripsikan kota kelahirannya melalui essay yang ia tulis untuk keperluan mendaftar kuliah. Lady Bird mungkin tidak menyukai Sacramento, tetapi ia sangat mengenalnya dan memperhatikannya. Sacramento sudah menjadi bagian dari dirinya, jauh sebelum Lady Bird menyadarinya. Pada akhirnya, perjalanan Lady Bird bukan hanya tentang ambisinya untuk bisa pergi dari Sacramento. Film ini banyak mengangkat pesan untuk selalu menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, menjadi diri sendiri tanpa perlu memaksakan diri sebagai orang lain hanya untuk diterima, juga menjalani apapun yang menjadi ketidaksempurnaan dan menjadikannya proses untuk berkembang menjadi lebih baik.