Konten dari Pengguna

Pelatihan ASN Zaman Now: Efektifkah untuk Generasi Z?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shera Mayangsari Suwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Setiap generasi membawa nilai, gaya belajar, dan ekspektasi kerja yang berbeda. Kini, birokrasi Indonesia sedang menyambut gelombang baru pegawai negeri sipil dari generasi Z—anak muda yang tumbuh bersama teknologi, media sosial, dan disrupsi digital. Mereka tidak hanya mahir mengoperasikan gawai, tapi juga memiliki cara berpikir yang kritis, cepat, dan terbuka terhadap perubahan. Namun, apakah sistem pelatihan dan pengembangan ASN saat ini sudah siap mengakomodasi karakter Gen Z?

Sebagai digital-native, Gen Z cenderung menyukai metode belajar yang interaktif, cepat, dan relevan. Mereka terbiasa menyerap informasi dalam format singkat seperti video tutorial, podcast, atau thread informatif. Mereka tidak tertarik pada ceramah satu arah selama berjam-jam dalam ruang pelatihan yang kaku. Survei Deloitte (2023) mengungkapkan bahwa Gen Z lebih menyukai lingkungan kerja yang fleksibel, kolaboratif, serta memiliki nilai dan makna sosial yang kuat. Mereka ingin tahu bahwa pekerjaan mereka berdampak, bukan sekadar rutinitas birokratis.

Sayangnya, banyak program pelatihan CPNS masih mengandalkan metode konvensional: modul cetak, sesi ceramah, dan absensi fisik sebagai tolok ukur partisipasi. Ini menciptakan jurang antara kebutuhan peserta dan pendekatan institusi. Padahal, pelatihan yang tidak relevan hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata terhadap kompetensi maupun kinerja.

Model Pembelajaran Bagi Gen Z

Solusinya? Desain pelatihan harus ditata ulang. Alih-alih memaksakan pola lama, kita harus berani mengadopsi pendekatan baru yang sesuai dengan pola belajar Gen Z. Salah satunya adalah penggunaan blended learning, yakni menggabungkan pembelajaran daring dan luring secara fleksibel. E-learning melalui Learning Management System (LMS), microlearning berbasis video pendek, hingga simulasi virtual bisa membuat pengalaman belajar lebih engaging.

Selain itu, Gen Z sangat menghargai personalisasi dan otonomi. Mereka ingin merasa dilibatkan dan memiliki pilihan dalam perjalanan belajar mereka. Dengan menyusun kurikulum pelatihan yang adaptif—misalnya, modul wajib dan modul pilihan sesuai minat dan kompetensi—pelatihan bisa menjadi lebih inklusif dan bermakna. Konsep ini sejalan dengan hasil penelitian Twenge (2017) yang menyebutkan bahwa Gen Z cenderung termotivasi oleh pengalaman belajar yang memberikan nilai personal dan kebebasan eksplorasi.

Tak kalah penting, pelatihan yang efektif juga membutuhkan umpan balik yang cepat dan relevan. Gen Z terbiasa mendapatkan respons instan—baik dari media sosial, aplikasi, maupun interaksi daring. Maka dari itu, pelatihan CPNS atau pegawai perlu dilengkapi dengan sesi refleksi berkala, coaching mingguan, atau mentoring lintas generasi. Pendekatan ini juga sejalan dengan evaluasi pelatihan Level 3 (Behaviour/Perilaku) dari Kirkpatrick Model (Kirkpatrick & Kirkpatrick, 2016), yang menilai keberhasilan pelatihan dari perubahan perilaku peserta setelah kembali ke lingkungan kerja.

Antara Gaya Belajar dan Tujuan Organisasi: Menemukan Titik Temu

Penyesuaian metode pelatihan tidak boleh membuat kita lupa pada tujuan utamanya: membentuk karakter ASN yang melayani, profesional, dan berintegritas. Di sinilah pentingnya menyisipkan nilai-nilai dasar ASN (BerAKHLAK), wawasan kebangsaan, serta etika pelayanan publik ke dalam format yang kontekstual dan menyentuh. Misalnya, melalui storytelling digital, diskusi dilema pelayanan publik, hingga simulasi respons terhadap keluhan masyarakat secara daring.

Evaluasi pelatihan pun harus diperluas. Jangan hanya fokus pada kehadiran atau nilai ujian. Kita harus mampu mengukur dampak pelatihan terhadap peningkatan kinerja, partisipasi dalam inovasi, serta integrasi nilai-nilai organisasi dalam praktik kerja sehari-hari—sebuah cerminan dari Level 4 Kirkpatrick Model (Result/Hasil).

Maka jelas, program pelatihan bagi ASN atau pegawai Gen Z tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel, digital, dan partisipatif. Tapi itu bukan berarti kita mengorbankan tujuan organisasi. Justru dengan menyesuaikan desain pelatihan terhadap karakter peserta, efektivitas pelatihan akan meningkat, partisipasi akan lebih aktif, dan tujuan strategis organisasi akan lebih mudah tercapai.

Di tengah tuntutan pelayanan publik yang makin kompleks dan ekspektasi masyarakat yang makin tinggi, birokrasi tidak punya pilihan selain berubah. Perubahan itu dimulai dari bagaimana kita memperlakukan para pegawai baru kita. Mereka bukan hanya “penerima materi pelatihan,” tapi juga calon pemimpin birokrasi masa depan. Dan agar mereka mampu menjawab tantangan zaman, kita harus mulai dari yang paling mendasar: desain pelatihan yang benar-benar sesuai dengan mereka.

Daftar Pustaka:

Deloitte. (2023). Global Gen Z and Millennial Survey 2023. Retrieved from https://www2.deloitte.com

Kirkpatrick, D. L., & Kirkpatrick, J. D. (2016). Evaluating Training Programs: The Four Levels. Berrett-Koehler Publishers.

Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy--and Completely Unprepared for Adulthood. Atria Books.