Pelan-Pelan Saja: Memaknai Slow Living Sebagai Kebutuhan

Mahasiswi Administrasi Publik Universitas Diponegoro
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari SHINTYA PRAMESTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangun tidur, menyalakan ponsel, membaca tumpukan notifikasi,lalu buru-buru mengejar tenggat tugas dan pekerjaan. Makan pun masih dilalui dengan mengusap layar ponsel, hingga akhirnya menutup hari dengan tidur larut malam. Alhasil, hari esok siklus yang sama terulang kembali. Kegiatan tersebut tentu terkesan sangat produktif, padahal seringkali kita hanya berdiam di tempat dan terjebak dalam ilusi kesibukan semata.
Perlahan namun pasti, rasa jenuh dan lelah mulai menghantui diri. Tubuh dan pikiran letih menghadapi ritme hidup yang monoton dan serba cepat. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern inilah slow living hadir sebagai alternatif solusi atas keresahan tersebut.
Makna Slow Living dan Pemahaman yang Perlu Diluruskan
Sayangnya masih banyak miskonsepsi yang beredar di masyarakat mengenai pemahaman slow living. Banyak orang masih mengira slow living adalah hidup dalam bermalas-malasan. Padahal, konsep daripada slow living dan malas-malasan tentunya sangat jauh berbeda. Slow living adalah sebuah konsep gaya hidup yang menekankan ketenangan, kesederhanaan, serta keseimbangan antara pekerjaan dan aktivitas sehari-hari agar setiap momen dapat dinikmati dan lebih bermakna (Kompas.com). Sementara itu, rasa malas berakar pada tindakan menghindari tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Melalui definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa gaya hidup slow living adalah hidup secara sadar dan mengetahui prioritas pekerjaan yang layak untuk dikerjakan.
Perdebatan Hustle-Culture vs Slow Living
Di sisi lain, fenomena slow living seringkali dipertentangkan dengan fenomena hustle-culture. Hustle-culture adalah sebuah fenomena yang mengangungkan kerja keras tanpa henti demi sebuah pencapaian. Hustle-culture terus mendorong kita untuk bekerja keras tanpa adanya istirahat, sedangkan slow living memberikan angin segar untuk berhenti sejenak dan menikmati setiap perjalanan dalam hidup.
Di zaman modern seperti sekarang, kita dituntut untuk memilih salah satu antara hustle-culture dan slow living. Namun, hal tersebut kembali kepada prioritas diri kita masing-masing. Menerapkan slow living bukan berarti kita harus melepaskan seluruh ambisi dan keluar dari tanggung jawab yang kita punya. Kuncinya terletak pada kemampuan kita untuk berhenti menjadikan kesibukan sebagai satu-satunya ukuran harga diri. Kita perlu melepaskan anggapan bahwa semakin sibuk seseorang, semakin bernilai pula hidupnya.
Manfaat Gaya Hidup Slow Living
Menerapkan gaya hidup slow living tentunya memberikan perubahan yang signifikan dalam hidup kita. Terlebih sebagai masyarakat modern yang hidup di zaman yang serba cepat, slow living mengajak kita untuk lebih menikmati setiap momen-momen kecil yang seringkali terlewat karena terlalu sibuk dengan hiruk pikuk dunia modern. Momen sederhana seperti menikmati secangkir teh hangat di pagi hari tanpa perlu menatap layar laptop, berjalan kaki sore tanpaperlu menyumbat telinga dengan earphone, dan berbincang dengan keluarga tanpa distraksi ponsel adalah wujud nyata dari slow living. Momen-momen itulah yang membuat kita jauh lebih bisa memaknai hidup. Dari situ, rasa syukur tumbuh dan kita tidak lagi merasa tertinggal hanya karena orang lain tampak lebih sibuk dan lebih cepat.
Cara Memulai Slow Living
Memulai gaya hidup slow living tidak selalu harus dilakukan dari hal esktrem. Memulainya dengan langkah kecil dapat menjadi fondasi utama dalam menerapkan gaya hidup ini. Langkah pertama, mulailah dengan menentukan prioritas harian. Hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan batas antara kehidupan kerja dan pribadi. Ketika jam kerja selesai, cobalah untuk benar-benar melepaskan diri dari urusan pekerjaan.
Langkah berikutnya dapat dilakukan dengan mengurangi kegiatan di ruang digital. Mengatur waktu khusus untuk membuka sosial media dan layar ponsel setiap kali ada waktu luang. Biarkan tubuh dan pikiran beristirahat dari dunia digital. Langkah ketiga, pusatkan pikiran pada satu kegiatan (single-tasking). Alih-alih melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multi-tasking) yang merusak fokus, cobalah untuk hadir di satu kegiatan sepenuhnya yang sedang dilakukan.
Langkah terakhir, jadwalkan istirahat. Jangan lupa untuk selalu menyempatkan waktu untuk beristirahat dan tidur yang cukup untuk memberi nilai tambah bagi kesehatan mental dan fisik diri kita masing-masing.
Pada akhirnya, slow living bukanlah tren estetika semata di sosial media, melainkan sebuah keputusan sadar untuk mengambil alih kendali atas waktu dan hidup kita sendiri. Di tengah dunia yang menuntut serba cepat dan mendorong kita terus berlari, berani melambat adalah bentuk perhatian dan kasih sayang pada diri sendiri. Karena sejatinya hidup bukanlah perlombaan lari, melainkan sebuah perjalanan yang patut dinikmati di setiap jalannya.
Sebagai penutup dalam artikel ini;cobalah tanyakan pada dirimu sendiri:”kapan terakhir kali kamu dapat menikmati suatu hal tanpa merasa harus berpindah ke hal lainnya?” Mungkin jawabannya sudah sangat lama. Dan,mungkin juga itu tandanya untuk kamu dapat berhenti sejenak dan melambat.
