Frodo-Frodo Kecil, Pahlawan Besar Birokrasi

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau Anda pernah menonton The Lord of The Rings, Anda pasti kenal Frodo Baggins — si hobbit kecil dari desa antah berantah bernama Shire. Tubuhnya pendek, jalannya pelan, wajahnya lugu. Tapi siapa sangka, nasib seluruh Middle Earth justru bergantung di pundaknya.
Frodo bukan ksatria gagah. Dia juga bukan penyihir sakti. Tapi justru dialah yang harus membawa Cincin Utama — sumber kekuatan jahat Sauron — menempuh perjalanan jauh, mendaki gunung, melewati hutan, dikejar musuh, digoda cincin, sampai akhirnya berhasil menghancurkan benda terkutuk itu. Tanpa Frodo, perang sehebat apa pun akan sia-sia.
Kenapa saya cerita Frodo? Karena kalau kita lihat sekeliling — di kantor, di organisasi, di pemerintahan — sebenarnya kita juga punya banyak “Frodo”. Mereka yang kelihatannya kecil, jabatan masih staf, namanya nggak muncul di berita, tapi beban kerjanya luar biasa besar.
Bayangkan sebuah kantor tanpa para staf administrasi, operator data, petugas pelayanan. Program secanggih apa pun hanya akan jadi rencana indah di atas kertas kalau tidak ada tangan-tangan di balik meja yang memastikan semuanya jalan.
Masalahnya, sering kali orang-orang ini hanya dilihat sebagai “tenaga kerja”. Energi mereka diperas habis-habisan untuk target laporan, deadline program, atau agenda mendadak. Selesai tugas? Besok diulang lagi. Jarang ada yang benar-benar duduk mendengar suara mereka. Padahal, mereka inilah ujung tombak pelayanan.
Hari ini banyak staf di kantor pemerintahan masih muda-muda. Lulusan baru, penuh ide segar, semangatnya membara. Karena itu, semangat itu perlu terus dijaga. Jangan sampai semangat itu pelan-pelan padam. Terkikis birokrasi kaku, sistem yang nggak mendukung, atasan yang hanya memerintah tanpa mau membimbing.
Kalau terus begini, kita rugi sendiri. Kita kehilangan Frodo-Frodo masa depan. Kita lupa kalau mereka bukan sekadar roda penggerak, tapi juga penerus estafet. Suatu saat mereka lah yang akan duduk di kursi pimpinan. Kalau hari ini tidak dibekali, mau dapat birokrasi seperti apa besok?
The Lord of The Rings juga mengajarkan satu hal penting: Frodo tidak pernah sendirian. Ada Sam yang setia menemaninya, Gandalf yang membimbingnya, Aragorn yang melindunginya. Tugas berat hanya bisa tuntas kalau ada yang saling jaga dan bahu-membahu.
Begitu juga di dunia nyata. Kalau kita ingin birokrasi yang sehat dan pelayanan publik yang benar-benar terasa, jangan biarkan Frodo-Frodo kita berjuang sendirian. Dukung mereka. Bimbing mereka. Beri ruang untuk belajar, mencoba, bahkan gagal. Karena dari mereka lahir ide-ide segar dan cara kerja baru.
Kita tidak butuh cincin untuk ingat bahwa kekuasaan bisa menyesatkan. Kita hanya butuh sadar: orang-orang kecil yang sering luput dari sorotan justru memegang kunci masa depan.
Mari kita jaga mereka. Karena siapa tahu, di balik meja kerja yang penuh berkas, ada Frodo yang diam-diam menyiapkan kemenangan besar untuk kita semua.
