Kritik Pun Harus Menjadi Tontonan

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aksi Greenpeace membentangkan spanduk raksasa di atas Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, pada 20 Oktober 2026 menarik perhatian publik. Enam aktivis memanjat monumen itu untuk menyampaikan kritik terhadap penanganan krisis iklim dan meningkatnya biaya hidup. Foto dan videonya menyebar, pemberitaan meluas, bahkan menjangkau media internasional.
Saya justru tertarik pada pilihan cara tersebut. Mengapa kritik harus disampaikan dengan tindakan seekstrem itu agar mendapat perhatian? Apakah persoalannya semata-mata strategi komunikasi Greenpeace, atau ada sesuatu yang berubah dalam cara masyarakat memberikan perhatian?
Perhatian yang Harus Direbut
Bayangkan jika Greenpeace menyampaikan tuntutan yang sama melalui konferensi pers, diskusi publik, atau laporan penelitian. Pesannya mungkin tetap penting, tetapi belum tentu mendapatkan perhatian sebesar aksi di Bundaran HI. Ada perbedaan antara pentingnya suatu persoalan dan kemampuannya menarik perhatian.
Di sinilah kita perlu mencermati hubungan antara aktivis, media, dan publik. Media menghadapi persaingan memperebutkan pembaca dan penonton. Peristiwa dramatis menyediakan gambar yang kuat, mudah diberitakan, dan cepat menyebar. Publik pun dapat memahami kejadian semacam itu dalam hitungan detik, tanpa harus membaca laporan panjang mengenai krisis iklim.
Akibatnya, persoalan yang membutuhkan penjelasan mendalam harus bersaing dengan peristiwa yang menawarkan kejutan. Kritik yang disampaikan secara konvensional berisiko tenggelam, sementara tindakan yang tidak biasa berpeluang menjadi berita utama.
Guy Debord, melalui The Society of the Spectacle, mengingatkan bahwa dalam masyarakat modern, hubungan manusia dengan realitas semakin dimediasi oleh citra. Gagasan ini relevan ketika sebuah aksi protes lebih mudah dikenali melalui gambar dramatisnya daripada dipahami melalui persoalan yang mendasarinya.
Kita bisa menyaksikan ribuan orang membicarakan aktivis yang memanjat monumen tanpa mengetahui secara memadai persoalan lingkungan yang mereka angkat. Tontonan berhasil menarik perhatian, tetapi perhatian belum tentu menghasilkan pemahaman.
Perjuangan atau Validasi?
Saya juga melihat kemungkinan lain. Ketika pelakunya adalah anak-anak muda, muncul pertanyaan mengenai kebutuhan akan pengakuan dan eksistensi. Apakah tindakan ekstrem itu merupakan ekspresi kepedulian, upaya membangun identitas, atau cara mendapatkan validasi publik?
Pertanyaan tersebut layak diajukan, tetapi tidak boleh buru-buru dijadikan kesimpulan. Kita tidak mengetahui motif pribadi para aktivis hanya dari cara mereka beraksi. Seseorang bisa sungguh-sungguh memperjuangkan lingkungan sekaligus menikmati pengakuan yang diperolehnya.
Kebutuhan akan pengakuan juga bukan monopoli generasi muda. Yang berubah adalah lingkungan komunikasinya. Media digital memungkinkan tindakan seseorang disaksikan jauh lebih banyak orang dalam waktu singkat. Keberanian dapat menjadi identitas publik, sedangkan popularitas dapat menjadi ukuran keberhasilan yang mudah dilihat.
Persoalannya muncul ketika pengakuan mulai menggeser tujuan. Aktivisme yang semula dimaksudkan untuk mendorong perubahan berisiko lebih sibuk menghasilkan perhatian daripada memastikan perubahan itu terjadi.
Namun, menyamakan aksi dramatis dengan pencarian popularitas juga keliru. Sepanjang sejarah, aksi simbolis digunakan untuk menembus kebisuan dan mengangkat persoalan yang diabaikan. Tindakan yang tidak biasa tidak otomatis kehilangan nilai substantifnya. Yang perlu diperiksa adalah apa yang dilakukan setelah perhatian berhasil diperoleh.
Setelah Sorotan Mereda
Aksi Greenpeace memperoleh pemberitaan luas dan tanggapan pemerintah. Namun, respons komunikasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemerintah mempercepat atau mengubah kebijakannya akibat aksi tersebut. Untuk menilainya, kita perlu melihat apakah ada perubahan keputusan, pelaksanaan kebijakan, dan hasil yang dapat ditelusuri.
Di sinilah ukuran keberhasilan aktivisme seharusnya ditempatkan. Viralitas merupakan capaian komunikasi, bukan bukti bahwa persoalan telah terselesaikan.
Media juga mempunyai tanggung jawab untuk tidak berhenti pada dramatisasi peristiwa. Gambar aksi dapat menjadi pintu masuk untuk membahas substansi, bukan pengganti pembahasan itu sendiri. Publik pun perlu membedakan antara tertarik pada sebuah kejadian dan memahami persoalan yang membuat kejadian itu berlangsung.
Saya tidak hendak menyalahkan aktivis karena memilih cara yang ekstrem, media karena memberitakannya, atau masyarakat karena tertarik menontonnya. Ketiganya berada dalam lingkungan yang saling memengaruhi. Ketika tindakan dramatis lebih mudah mendapatkan perhatian, aktivis memiliki insentif untuk menggunakannya, media memiliki bahan berita yang menarik, dan publik memperoleh tontonan yang mudah dikonsumsi.
Lingkaran ini perlu kita sadari. Jika terus berlangsung, persoalan yang membutuhkan kesabaran, data, dan pembahasan panjang akan semakin sulit bersaing dengan peristiwa yang mencolok.
Yang mengusik saya bukan semata-mata mengapa enam aktivis memanjat sebuah monumen. Yang lebih mengusik adalah kemungkinan bahwa sebuah persoalan harus terlebih dahulu menjadi tontonan sebelum dianggap layak dibicarakan.
Jangan sampai kita begitu sibuk menyaksikan orang berjuang mendapatkan perhatian hingga lupa menilai apakah perjuangan itu benar-benar membawa perubahan.
