Perut Rata dan Harga Sebuah Kenikmatan

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada sebuah video TikTok yang pernah saya tonton. Seorang perempuan memperlihatkan tubuhnya yang langsing. Salah satu kebiasaan yang diceritakannya adalah minum kopi Americano. Saya sempat berpikir, apa enaknya minum kopi sepahit itu? Bagi sebagian orang, kenikmatan minum kopi justru terletak pada rasa manis, susu, krimer, atau berbagai campuran lainnya.
Tentu saja, perempuan itu mungkin memang menyukai Americano. Tidak ada yang salah dengan pilihannya. Namun, video tersebut membuat saya berpikir tentang sesuatu yang lebih luas: seberapa jauh seseorang bersedia mengubah kenikmatan sehari-harinya demi mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan?
Saya sendiri pernah berada dalam situasi yang kurang lebih sama. Saya punya keinginan kuat memiliki perut rata, sehingga ketika difoto tidak terlihat buncit. Keinginan itu akhirnya tercapai. Tetapi mempertahankannya ternyata membutuhkan perjuangan tersendiri. Pola makan harus dijaga, olahraga harus dilakukan, sementara godaan datang hampir setiap hari. Yang paling sulit justru menghadapi keinginan diri sendiri.
Disiplin dan godaan
Menjaga bentuk tubuh sering kali terdengar sederhana: mengurangi asupan makanan, mengendalikan porsi, memilih makanan yang lebih sehat, dan berolahraga secara teratur. Persoalannya, manusia tidak makan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ada kenikmatan, kebiasaan, pergaulan, dan kepuasan emosional yang melekat pada aktivitas makan.
Makanan enak bisa menjadi bagian dari kebahagiaan sederhana. Secangkir kopi manis pada pagi hari, menikmati gorengan, atau menyantap makanan kesukaan bersama keluarga memiliki nilai yang tidak selalu bisa diukur dengan kandungan kalori.
Ketika seseorang memutuskan menjaga berat badan, sebagian kenikmatan itu harus dibatasi. Di sinilah persoalannya mulai rumit. Menahan keinginan secara terus-menerus bisa menimbulkan tekanan psikologis. Makanan yang semula menyenangkan perlahan terasa seperti ancaman terhadap target tubuh ideal. Bahkan, ada orang yang merasa bersalah setelah menikmati makanan yang sebenarnya disukai.
Disiplin akhirnya berhadapan dengan stres. Padahal, tujuan awalnya adalah memperbaiki kualitas hidup.
Hidup sekali, tetapi bukan berarti menuruti semuanya
Ada pandangan yang sering muncul, terutama ketika seseorang terlalu ketat menjaga pola makan: hidup hanya sekali, mengapa makanan enak harus ditahan-tahan? Pandangan ini bisa dimengerti. Tidak sedikit orang yang merasa bahwa terlalu banyak pembatasan justru menghilangkan kenikmatan hidup.
Namun, ada asumsi yang perlu diperiksa. Menikmati hidup tidak selalu berarti memenuhi setiap keinginan. Keinginan makan sesuatu dan keputusan untuk memakannya dalam jumlah tertentu merupakan dua hal berbeda. Kita tetap bisa menikmati makanan kesukaan tanpa harus selalu menuruti selera.
Sebaliknya, memiliki tubuh langsing juga tidak otomatis membuat seseorang lebih bahagia. Jika setiap kali makan harus dihantui rasa bersalah, setiap kenaikan berat badan dianggap kegagalan, dan setiap undangan makan menjadi sumber kecemasan, ada harga psikologis yang mungkin terlalu mahal untuk dibayar.
Media sosial kadang memperlihatkan tubuh ideal sebagai sebuah pencapaian yang patut dibanggakan. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu mengetahui keseluruhan proses, termasuk pengorbanan, tekanan, dan pengalaman pribadi di baliknya. Karena itu, tidak tepat pula menganggap seseorang yang memilih pola makan ketat pasti kehilangan kenikmatan hidup. Bisa jadi ia memang menikmati gaya hidup tersebut.
Menemukan batas yang masuk akal
Menurut saya, persoalannya bukan memilih antara tubuh ideal atau menikmati makanan. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Yang diperlukan adalah kemampuan mengatur batas tanpa menjadikan hidup terasa seperti serangkaian larangan.
Saya tetap ingin mempertahankan perut rata yang sudah diperjuangkan. Tetapi saya juga tidak ingin setiap kali melihat kopi manis atau makanan kesukaan, pikiran langsung dipenuhi perhitungan tentang dampaknya terhadap bentuk tubuh.
Sesekali menikmati makanan yang disukai bukan berarti kehilangan disiplin. Demikian pula, menahan diri dari makan berlebihan bukan berarti sedang menyiksa diri. Konsistensi justru membutuhkan keluwesan agar kebiasaan sehat dapat dijalankan dalam jangka panjang.
Barangkali ukuran keberhasilan menjaga tubuh perlu dilihat lebih utuh. Bukan hanya bagaimana penampilan kita ketika difoto, tetapi juga bagaimana kita menjalani keseharian: apakah tubuh terasa bugar, apakah pikiran tetap tenang, dan apakah kita masih bisa menikmati hal-hal sederhana yang membuat hidup menyenangkan.
Saya ingin memiliki perut rata, tetapi tidak ingin kehilangan kenikmatan minum kopi manis. Keduanya mungkin saja berjalan bersama. Sebab, menjaga tubuh seharusnya membuat hidup lebih baik, bukan membuat kita terus-menerus merasa bersalah karena menikmati hidup.
