Santri dan Tantangan Zaman

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri untuk mengenang peran santri dan ulama dalam perjalanan bangsa. Peringatan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memikirkan masa depan pendidikan pesantren dan generasi yang tumbuh di dalamnya.
Pesantren memiliki kekhasan yang tidak selalu ditemukan dalam lembaga pendidikan lain. Di sana, santri mempelajari Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, dan berbagai literatur klasik yang diwariskan para ulama. Proses belajar tersebut bukan semata-mata memindahkan pengetahuan, tetapi juga membentuk adab, kedisiplinan, dan cara memandang kehidupan.
Tradisi ini patut dipertahankan. Namun, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan: bagaimana memastikan santri mampu menghadapi dunia yang terus berubah tanpa kehilangan akar keilmuannya?
Tradisi yang perlu terus berdialog dengan zaman
Literatur klasik lahir dalam konteks sejarah, sosial, dan intelektual tertentu. Banyak di antaranya memuat pemikiran mendalam yang tetap relevan hingga sekarang. Akan tetapi, persoalan yang dihadapi masyarakat hari ini tidak selalu sama dengan persoalan pada masa ketika literatur tersebut ditulis.
Perubahan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan iklim, hingga persoalan kesehatan dan hubungan sosial menghadirkan tantangan baru. Santri akan hidup dan bekerja di tengah perkembangan tersebut, apa pun bidang yang kelak mereka pilih.
Karena itu, mempelajari kitab klasik perlu berjalan bersama kemampuan memahami konteks. Santri perlu mengenal bagaimana suatu pemikiran lahir, persoalan apa yang hendak dijawab, dan bagaimana nilai-nilai dasarnya dapat digunakan untuk memahami persoalan masa kini.
Tujuannya bukan mengganti khazanah keilmuan pesantren dengan pengetahuan modern. Justru, penguasaan tradisi yang kuat dapat menjadi bekal untuk berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan secara kritis. Santri tidak cukup hanya mampu menjelaskan pendapat ulama, tetapi juga perlu terampil menimbang persoalan, memeriksa informasi, menyusun argumen, dan memahami perbedaan pandangan.
Membuka cakrawala tanpa kehilangan jati diri
Kemampuan membaca perubahan zaman juga berkaitan dengan penguasaan bahasa, teknologi, dan literasi digital. Internet memungkinkan santri mengakses pengetahuan dari berbagai belahan dunia. Namun, ruang digital juga dipenuhi informasi yang keliru, manipulasi, ujaran kebencian, dan konten yang sengaja dirancang untuk memengaruhi cara berpikir penggunanya.
Santri perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi sekaligus menilai informasi secara kritis. Penguasaan teknologi tidak harus membuat mereka meninggalkan tradisi pesantren. Sebaliknya, teknologi dapat membantu pembelajaran, memperluas akses terhadap sumber pengetahuan, dan menyebarkan gagasan keislaman yang mencerahkan.
Hal yang sama berlaku bagi keterampilan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama, dan keberanian menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas. Santri yang memiliki bekal tersebut akan lebih leluasa berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kewirausahaan, pelayanan publik, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.
Tentu, tidak setiap pesantren harus memiliki kurikulum dan orientasi yang sama. Kekhasan pesantren perlu dihormati. Yang penting, setiap santri memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensinya dan memiliki bekal yang memadai untuk menentukan masa depannya.
Tanggung jawab bersama
Harapan tersebut tidak dapat dibebankan kepada santri semata. Pengasuh dan pengelola pesantren memiliki peran penting dalam membangun lingkungan belajar yang mendorong rasa ingin tahu, keterbukaan terhadap pengetahuan, dan kemampuan berpikir mandiri tanpa mengabaikan adab.
Pemerintah juga perlu mendukung pesantren melalui kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan keragamannya. Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama pada 2026 membuka peluang untuk memperkuat perhatian negara terhadap pengembangan pesantren. Penguatan kelembagaan ini perlu diterjemahkan menjadi dukungan nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, kompetensi pengajar, akses teknologi, serta pengembangan kapasitas santri.
Pada saat yang sama, masyarakat dan dunia usaha dapat membuka ruang yang lebih luas bagi santri untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi. Santri perlu melihat bahwa ilmu yang diperoleh di pesantren dapat menjadi modal untuk mengambil peran dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks.
Hari Santri tidak harus berhenti pada penghormatan terhadap sejarah perjuangan masa lalu. Peringatan ini juga dapat menjadi kesempatan untuk memikirkan bekal apa yang perlu disiapkan bagi santri hari ini.
Saya berharap santri mampu menjaga kedalaman tradisi keilmuannya sekaligus memperluas cakrawala berpikir. Mereka tidak perlu memilih antara setia pada warisan ulama dan memahami perkembangan zaman. Keduanya dapat berjalan bersama selama tradisi dipelajari secara mendalam dan perubahan dihadapi dengan sikap kritis.
Dengan bekal itu, santri dapat tumbuh sebagai pribadi yang berakar kuat pada nilai-nilai agama, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan mampu memberikan sumbangan nyata bagi masyarakat. Itulah salah satu harapan penting dari pendidikan pesantren: melahirkan generasi yang memahami warisan masa lalu, mampu membaca keadaan sekarang, dan siap menghadapi masa depan.
