Gaji Guru Honorer Kecil, Masalahnya Tidak Sesederhana Yang Terlihat

Saya Mahasiswa Program Studi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Pamulang, Banten, Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nursilfa Ismiatulhawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali muncul berita tentang guru honorer yang menerima gaji Rp300 ribu atau Rp500 ribu per bulan, publik biasanya memberikan reaksi yang sama: prihatin, marah, dan mempertanyakan keberpihakan negara terhadap pendidikan. Angka tersebut memang terasa tidak masuk akal jika dibandingkan dengan beban kerja yang harus dijalani seorang guru. Mereka mengajar, menyiapkan materi, mengoreksi tugas, mendampingi siswa, hingga menjalankan berbagai tugas administrasi yang terus bertambah.
Namun, persoalan gaji guru honorer sering kali dipahami secara terlalu sederhana. Banyak orang menganggap penyebab utamanya adalah rendahnya honor per jam mengajar atau kurangnya perhatian pemerintah. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masalahnya jauh lebih kompleks dan melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan.
Di banyak sekolah, terutama sekolah swasta kecil dan sekolah yang berada di daerah dengan kemampuan ekonomi masyarakat yang terbatas, sumber utama pendanaan masih bergantung pada uang sekolah siswa. Ketika jumlah siswa sedikit atau kemampuan orang tua membayar biaya pendidikan rendah, ruang gerak sekolah untuk memberikan gaji yang layak kepada guru menjadi sangat terbatas. Akibatnya, honor yang diterima guru honorer tidak hanya dipengaruhi oleh besaran tarif mengajar, tetapi juga oleh kondisi keuangan lembaga tempat mereka bekerja.
Selain itu, sistem pembayaran guru honorer di sejumlah sekolah masih didasarkan pada jumlah jam mengajar. Sekilas sistem ini terlihat adil karena pembayaran disesuaikan dengan beban kerja. Namun dalam praktiknya, banyak guru hanya mendapatkan beberapa jam pelajaran setiap minggu. Ketika jumlah jam mengajar sedikit, penghasilan yang diterima pun otomatis menjadi sangat rendah meskipun tarif per jam sebenarnya tidak terlalu kecil.
Menurut saya, pembahasan mengenai kesejahteraan guru honorer perlu diarahkan pada perbaikan sistem secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada besaran honor yang diterima setiap bulan. Pemerintah, sekolah, yayasan, dan masyarakat perlu melihat akar masalah secara lebih utuh agar solusi yang diambil tidak sekadar menjadi respons sesaat ketika muncul berita yang viral.
Pendidikan yang berkualitas tidak mungkin terwujud jika para guru terus hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Guru membutuhkan penghargaan yang layak agar dapat menjalankan tugasnya secara profesional dan fokus mendidik generasi muda. Karena itu, perbaikan kesejahteraan guru honorer harus menjadi agenda bersama yang dibangun melalui kebijakan pendanaan yang lebih kuat, distribusi tenaga pendidik yang lebih efektif, serta sistem penggajian yang mampu menjamin kehidupan yang lebih manusiawi bagi mereka yang mengabdikan diri di dunia pendidikan.
Ketika masyarakat hanya terpaku pada angka gaji yang kecil, sering kali akar persoalan yang lebih besar luput dari perhatian. Padahal, memahami sumber masalah secara menyeluruh merupakan langkah penting untuk menciptakan perubahan yang benar-benar memberikan dampak bagi kesejahteraan guru honorer dan masa depan pendidikan Indonesia.
