Cerutu, dan Kehidupan Sosial Perempuan Buruh Pabrik di Jember

Mahasiswa Universitas Jember
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Silvia Putri Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suatu pagi di kawasan Kaliwates, Jember, aroma tembakau menguar perlahan dari balik bangunan tua ber cat krem yang terletak di Jalan Hayam Wuruk No. 139 yaitu Pabrik Cerutu PT Besuki Raya Cigar (BRC). Beberapa perempuan terlihat masuk bergantian ke dalamnya, sebagian membawa bekal di tangan. Mereka mengenakan seragam sederhana, wajahnya tenang, tapi langkahnya mantap. Dari luar, tak banyak yang tahu bahwa di dalam bangunan itu, tersimpan denyut kehidupan masyarakat Jember lewat tangan-tangan yang bekerja dalam senyap.
Setiap harinya puluhan perempuan duduk berjajar di bawah atap rumbia, tangan mereka bergerak dalam ritme yang sama, memilah, menggulung, menekan, ya mereka perlahan mulai melinting tembakaunya. Dari luar, pemandangan itu tampak biasa. Tapi bagi yang pernah berada di sana, ruang itu adalah dunia kecil tempat ketekunan, persaudaraan, dan sejarah yang bekerja dalam senyap. Dari tangan mereka, ratusan cerutu dilinting setiap harinya. Setiap gerakan tangan adalah bagian dari kisah sosial panjang masyarakat Jember, kisah tentang kerja, tentang perempuan, tentang identitas lokal yang tumbuh dari tanah dan tradisi yang kemudian perlahan membentuk identitas Jember. Dari situ saya belajar bahwa sejarah tidak selalu hidup dalam arsip ataupun monumen. Kadang ia hadir di ruang sederhana, di tangan-tangan perempuan yang bekerja setiap hari menjaga kesinambungan hidup dan tradisi yang tak lekang dimakan zaman.

Sejak masa kolonial Belanda, Jember telah menjadi wilayah penghasil tembakau terbaik di Indonesia, terutama jenis Besuki Na-Oogst yang banyak diminati di pasar Eropa dan Amerika. Jejak kolonial itu kini berlanjut lewat industri modern seperti BRC, yang telah berdiri sejak tahun 2009 sebagai anak perusahaan dari PT Mangli Djaya Raya (MDR) perusahaan tembakau yang sudah lebih dulu eksis di tahun 1960-an hingga kini, Keduanya sama menggeluti bidang tembakau namun BRC lebih fokus pada pembuatan produk berupa cerutu handmade. Berbeda dengan industri cerutu lainnya, untuk menjaga kualitas produk, BRC memilih jalur unik yang sejak awal telah berkomitmen menjadi perusahaan pembuatan cerutu handmade (melinting) dengan menggunakan metode tradisional. Hal ini tentunya memerlukan tenaga kerja manual yang sabar, ulet dengan keterampilan tangan yang halus namun cekatan. Kualitas kerja yang memerlukan ketelitian dan ketangkasan tangan seperti ini cukup identik dengan perempuan dibandingkan dengan laki-laki, sehingga hal ini berdampak pada kebijakan perusahaan yang menetapkan bahwa buruh pabrik khususnya pada bagian Roller atau melinting dilakukan oleh buruh perempuan, sedangkan laki-laki akan ditempatkan pada bagian QC dan pengepressan. Keputusan ini tidak hanya memastikan kualitas handmade cerutu tetap terjaga, tetapi juga memberikan peluang kerja yang signifikan bagi perempuan di wilayah Jember.
Sektor ini termasuk industri yang padat karya, di mana tenaga kerja manusia (bukan mesin) menjadi elemen vital dalam rantai produksi. Menurut Serikat Kerakyatan Indonesia (2013) dalam buku Dampak Pengendalian Tembakau Terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya menjelaskan bahwasannya, sekitar 600.000 pekerja Indonesia menggantungkan hidupnya di sektor tembakau dan rokok kretek, sebagian besar merupakan pekerja perempuan di industri skala menengah ke bawah. Kondisi ini menunjukkan bahwa BRC tidak hanya berperan sebagai entitas ekonomi, tetapi juga sebagai lembaga sosial yang membentuk identitas kelas buruh baru di wilayah Jember.
Adanya modernisasi industri ini, rupanya menciptakan dinamika dan dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan sosial masyarakat Jember, khususnya bagi para buruh pabrik BRC. Para pekerja di dominasi oleh perempuan, yang kehidupannya sebagian besar berasal dari kelas sosial menengah ke bawah, mereka terpaksa harus bekerja di tengah tuntutan ekonomi keluarga, regulasi ketat industri, dan transformasi sosial yang terus bergerak. Mayoritas pekerja di bagian melinting (roller), pengemasan, dan penyortiran cerutu adalah perempuan berusia 20-50 tahun, sebagian besar dari buruh perempuan ini berasal dari latar belakang petani musiman atau ibu rumah tangga di Jember seperti Panti, Mangli, Jenggawah yang lokasinya tidak cukup jauh dengan pabrik. Transformasi mereka dari pekerja informal atau non-ekonomi rumah tangga menjadi buruh pabrik menunjukkan adanya sebuah pergeseran struktur sosial yang signifikan. Hal ini tidak hanya memberikan mereka pendapatan tetap dan kemandirian ekonomi, tetapi juga mengubah peran mereka dalam keluarga dan masyarakat. Mereka beralih dari tenaga kerja yang bergantung pada siklus panen musiman menjadi bagian dari sektor industri formal.
Menurut Siti Luk Miati (2017) dalam skripsinya “Kehidupan Sosial Ekonomi Buruh Perempuan di Gudang Tembakau CV. Firmansyah, Bojonegoro” mengatakan bahwa Perempuan buruh tembakau mengalami peran ganda di dalam kehidupannya yaitu sebagai Ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah pembantu, berbeda lagi apabila buruh perempuan tersebut tidak memiliki suami (janda) maka dikategorikan sebagai pencari nafkah utama. Kondisi serupa juga ditemukan di Jember, dimana buruh perempuan BRC harus membagi waktu antara pekerjaan rumah dan pabrik, dengan jam kerja ketat pukul 07.00-16.00, dengan istirahat satu yaitu jam di jam 11:30-12:30. Bagi sebagian besar dari mereka, bekerja bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga di tengah tantangan ekonomi seperti kenaikan harga bahan pokok dan upah minimum yang cenderung stagnan. Dengan demikian, pekerjaan mereka di pabrik cerutu merupakan strategi untuk bertahan hidup yang mengubah struktur peran gender di Jember.
Industri tembakau membentuk sistem kelas sosial dalam dunia kerja yang dibawa dari masa kolonial, yang terbagi atas pemilik industri, Staff, mandor, asisten mandor dan buruh. Meskipun zaman telah berubah, pola hierarki tersebut hingga kini masih dapat ditemukan dan bertahan dalam struktur kerja di pabrik-pabrik modern seperti BRC. Ada batas-batas sosial yang jelas tapi tidak memisahkan antara satu dengan yang lain. Mandor menjadi penghubung antara manajemen dan pekerja, kadang tegas tapi juga sering menjadi tempat curhat khususnya bagi para buruh baik itu masalah pekerjaan hingga masalah pribadi. Sehingga hal ini kemudian menciptakan relasi baru baik antara mandor dengan buruh atau sesama buruh lain yang memiliki latar belakang berbeda yang mampu membangun hubungan sosial dan solidaritas yang kuat. Hubungan ini kemudian menciptakan semacam keseimbangan sosial bukan seperti pengawasan pada masa kolonial, melainkan seperti suatu bentuk kerja sama untuk menjaga ritme industri.
Struktur sosial dalam industri tembakau sejatinya secara tegas membedakan posisi antara pemilik pabrik, mandor, dan para buruh. Warisan pembagian peran ini kemudian menciptakan sistem ketenagakerjaan di pabrik, seperti garis-garis tak kasatmata yang memisahkan satu lapisan dengan lapisan lainnya. Dari sudut pandang ekonomi, pembeda itu tampak jelas melalui perbedaan upah antara mandor dan buruh. Bahkan di antara sesama buruh pun juga masih terdapat sekat pembeda, di mana besaran gaji tidaklah seragam, melainkan disesuaikan dengan grade atau penilaian berdasarkan kebijakan yang berlaku. Pengelompokan grade berdasarkan pada pertimbangan target cerutu yang dicapai per hari, minimal riject cerutu, dan absensi kehadiran yang nantinya akan diakumulasikan sebagai pertimbangan untuk kenaikan pada grade selanjutnya (kenaikan gaji). Sistem grading ini menciptakan stratifikasi ekonomi internal di antara buruh, di mana posisi dan pendapatan ditentukan oleh produktivitas dan mutu hasil kerja, kondisi ini menciptakan bentuk baru yaitu “Kelas Pekerja Modern” yang kehidupannya berada dalam situasi ekonomi yang dinamis serta memiliki keterkaitan yang kuat dengan keberlangsungan industri. Realitas kelas pekerja modern inilah yang kemudian tidak hanya membentuk kehidupan buruh di dalam pabrik, tetapi juga memengaruhi cara pandang generasi muda dalam menentukan pilihan hidup setelah lulus sekolah.
Terjadi pergeseran minat pada lulusan SMA dan SMK, termasuk angkatan 2024 maupun lulusan tahun-tahun sebelumnya, yang semakin tertarik untuk langsung bekerja di pabrik. Dari sisi positif, pilihan ini mendorong kemandirian ekonomi lebih awal dan menekan pengangguran jangka pendek di daerah. Namun, kecenderungan ini sekaligus menjadi indikator adanya pergeseran sosial, di mana orientasi generasi muda bergeser dari pendidikan sebagai investasi jangka panjang menuju kerja cepat sebagai strategi bertahan hidup. Pilihan tersebut juga dipengaruhi oleh persyaratan kerja pabrik yang relatif sederhana, tuntutan yang hanya berfokus pada target dan kecekatan, yang kemudian menjadi daya tarik karena gaji yang cepat diterima. Hal ini juga sejalan dengan pasar kerja lokal yang tersedia didominasi oleh sektor industri. Adanya ketidakmampuan ekonomi, pengaruh lingkungan pergaulan, serta pandangan bahwa kuliah tidak menjamin masa depan kerja turut memperkuat pergeseran ini. Dampaknya, minat terhadap pendidikan tinggi menurun, potensi akademik dan pengembangan keterampilan kurang optimal, serta munculnya ketergantungan ekonomi pada satu sektor industri di usia yang seharusnya menjadi fase penting pembentukan kemandirian jangka panjang.
Pada akhirnya, industri cerutu di Jember tidak hanya soal produksi tembakau, tetapi juga tentang kehidupan manusia yang tumbuh bersama harapan di dalamnya. Perubahan zaman tidak serta-merta menghapus masa lalu, melainkan justru meneruskannya dalam bentuk yang berbeda. Dari sistem kerja kolonial hingga industri modern seperti BRC, relasi kerja, pembagian kelas, dan peran perempuan terus mengalami perubahan, tetapi tetap berakar pada sejarah yang sama. Di tengah perkembangan zaman, pabrik bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi ruang menanamkan nilai-nilai kerja, perjuangan hidup, dan harapan masa depan. Perempuan-perempuan pelinting cerutu hari ini bukan sekedar buruh industri, melainkan juga bagian dari pelaku sejarah sosial di Jember yang menjaga keberlangsungan tradisi handmade sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga. Melalui peran mereka di ruang produksi, perempuan tidak hanya bekerja, tetapi ikut membentuk perubahan peran sosial dan identitas lokal masyarakat Jember hingga hari ini. Generasi muda yang memilih bekerja di pabrik menunjukkan bahwa kebiasaan dan pola hidup yang terbentuk sejak lama masih terus berpengaruh sampai sekarang membentuk arah kehidupan masyarakat Jember. Dengan demikian, industri tembakau di Jember khususnya BRC tidak hanya menjadi catatan ekonomi, tetapi juga cermin perjalanan sosial masyarakatnya dalam bertahan, menyesuaikan diri, dan membangun kehidupan di tengah arus perubahan zaman.
