My Result, But Not Me: Kenapa Hasil Tes Kepribadian Bisa Terasa Gak Relate

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari silvia zahraa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika Hasil Tes Kepribadian Tidak Terasa Seperti Cermin

Pernahkah kamu baru saja selesai mengerjakan tes kepribadian, scroll ke bawah, membaca deskripsinya lalu ada satu kalimat yang membuat kamu mengernyit? "Ini gue banget?" Atau justru sebaliknya: "Ini bukan gue sama sekali." Kamu coba tes lain. Hasilnya berbeda lagi.
Pertanyaan yang muncul kemudian terasa lebih besar dari sekadar soal tes: kalau hasilnya tidak cocok, berarti alatnya yang bermasalah atau ada sesuatu tentang dirimu yang belum bisa ditangkap oleh pertanyaan yang ada didalam tes?
Jawabannya, ternyata, bisa keduanya. Dan untuk memahaminya, kita perlu melihat dua hal mendasar yang menentukan kualitas sebuah alat ukur psikologis: reliabilitas dan validitas.
Masalah pertama: tesnya tidak konsisten
Tes psikologi, pada dasarnya, adalah alat ukur, bukan ramalan, bukan label permanen. Ia dirancang untuk menangkap konstruk psikologis, yaitu kepribadian, kecerdasan, kecemasan, dan mengubahnya menjadi skor yang bisa dibandingkan dan diinterpretasikan (Anastasi & Urbina, 1997). Dan seperti semua alat ukur, pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah: apakah ia konsisten?
Inilah yang dimaksud reliabilitas yaitu sejauh mana sebuah tes menghasilkan skor yang stabil pada individu yang sama, di kondisi yang serupa (Gregory, 2014). Salah satu caranya adalah test-retest reliability: mengerjakan tes yang sama dua kali dengan jeda waktu, lalu melihat seberapa besar korelasi antara kedua hasilnya. Penelitian menunjukkan bahwa tes dengan reliabilitas tinggi menghasilkan error pengukuran yang lebih kecil dan hasil yang lebih dapat dipercaya sebaliknya, tes yang kurang reliabel justru rentan menghasilkan skor yang berfluktuasi tanpa perubahan nyata pada individu (Dunn et al., 2019).
Kalau skormu berubah drastis hanya dalam dua minggu tanpa perubahan signifikan dalam hidupmu, bisa jadi tesnya memang tidak cukup stabil untuk mengukurmu.
Perlu diingat bahwa setiap skor tes membawa apa yang disebut Standard Error of Measurement (SEM) — semacam margin of error yang melekat pada angka tersebut. Skor 75, misalnya, bisa berarti nilai "aslimu" ada di mana saja antara 70 hingga 80. Skor bukan titik pasti; ia adalah estimasi (Cronbach, 1951). Dan ini jarang sekali diceritakan di halaman hasil tes online.
Tapi konsistensi saja belum cukup. Sebuah tes bisa menghasilkan skor yang sama persis setiap kali digunakan dan tetap saja salah ukur. Di sinilah kita perlu bertanya satu pertanyaan yang lebih dalam.
Masalah kedua: tes kepribadian mengukur hal yang salah
Validitas mengacu pada sejauh mana sebuah tes benar-benar mengukur apa yang diklaim untuk diukur (Gregory, 2014). Sebuah tes kepribadian bisa sangat konsisten, tapi kalau ia sebenarnya hanya mengukur suasana hatimu hari itu, bukan struktur kepribadian yang lebih menetap, maka ia tidak valid untuk tujuan yang diklaim.
Ada perbedaan penting di sini antara face validity dan construct validity. Face validity adalah kesan “apakah tes ini terasa seperti mengukur yang seharusnya? dan Construct validity adalah bukti empiris “seperti apakah skor pada tes ini benar-benar berkorelasi dengan konstruk psikologis yang dimaksud?” Wiguna dan Khosravi (2024) menegaskan bahwa sebelum suatu instrumen diakui memiliki properti psikometrik yang baik, ia harus dievaluasi secara menyeluruh mencakup construct validity, content validity, face validity, sekaligus criterion validity (Anastasi & Urbina, 1997; Wiguna & Khosravi, 2024).
Banyak tes populer di internet memiliki face validity yang sangat tinggi: pertanyaannya terasa masuk akal, deskripsi hasilnya puitis dan menggugah. Tapi perasaan "ngena" bukan
bukti validitas, ia lebih dekat ke efek Barnum, yakni kecenderungan menerima deskripsi yang cukup umum sebagai sesuatu yang personal dan tepat sasaran (Forer, 1949). Kritik serupa juga diarahkan pada tes kepribadian populer seperti MBTI, yang empiris terbukti memiliki reliabilitas test-retest yang rendah dan bukti validitas yang tidak memadai (Zárate-Torres & Correa, 2023).
Tapi ada juga faktor dari dirimu sendiri
Sejauh ini kita berbicara tentang masalah di sisi tes. Tapi ada lapisan lain yang tidak kalah penting: kamu sendiri, sebagai responden, juga bukan pihak yang netral.
Tanpa disadari, ada kecenderungan untuk menjawab berdasarkan ideal self yaitu versi diri yang ingin kamu percayai, bukan actual self yang hidup sehari-hari (Cronbach, 1951). Dalam psikologi, ini dikenal sebagai social desirability bias: tendensi untuk memberikan jawaban yang terlihat baik, bahkan di depan kuesioner anonim. Teh et al. (2023) menegaskan bahwa bias ini adalah salah satu bentuk response bias tertua dalam ilmu sosial, individu cenderung memalsukan jawaban ke arah yang tampak positif, terutama saat pertanyaannya menyentuh hal-hal yang sensitif secara sosial. Bukan karena sengaja berbohong tetapi karena itulah cara kerja persepsi diri kita.
Belum lagi faktor situasional. Kamu yang menjawab pertanyaan setelah mengikuti rapat panjang yang melelahkan bisa menghasilkan skor yang berbeda dari kamu yang menjawab di hari libur yang tenang. Dua "kamu" yang sama tapi tesnya hanya menangkap satu snapshot. Semua ini adalah bagian dari error pengukuran yang sudah diperhitungkan dalam teori psikometri, tapi pengaruhnya pada hasil akhir tetap nyata (Gregory, 2014).
Jadi, apa artinya semua ini?
Tes bukan musuh tetapi bukan hakim juga, tidak ada yang perlu dibuang di sini. Tes psikologi terutama yang telah melalui proses validasi ketat dan digunakan oleh profesional tetap
merupakan alat yang berharga. Masalahnya bukan pada tesnya, melainkan pada cara kita memperlakukan hasilnya (Anastasi & Urbina, 1997).
Ketika hasil tes mulai diperlakukan sebagai vonis daripada hipotesis, sesuatu mulai meleset. "Gue introvert, makanya gue tidak bisa public speaking." Label ini akan menjadi penjara, atau sebaliknya, ketika hasil yang tidak cocok membuat seseorang merasa ada yang salah dengan dirinya, padahal yang bermasalah bisa jadi memang instrumennya.
Kalau hasil tesmu terasa "bukan kamu", mungkin itu bukan tanda kamu tidak mengenal diri sendiri. Mungkin itu tanda bahwa kamu lebih kompleks dari yang bisa ditangkap oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut dan itu bukan masalah. Itu justru yang paling manusiawi dari semuanya.
Oleh Silvia Zahra, Dr. Rachmat Mulyono M.Si Psikolog
